Aug 26, 2026
entertainment

Perjuangan Listen dari Kendal di Panggung D'Academy 8

Di bawah sorot lampu panggung yang hangat, seorang gadis muda berdiri dengan tangan sedikit gemetar, jantungnya berdebar kencang saat melodi dangdut mulai mengalun dari sistem tata suara. Di benaknya ...

Perjuangan Listen dari Kendal di Panggung D'Academy 8

Di bawah sorot lampu panggung yang hangat, seorang gadis muda berdiri dengan tangan sedikit gemetar, jantungnya berdebar kencang saat melodi dangdut mulai mengalun dari sistem tata suara. Di benaknya hanya ada satu nama: Listen. Perempuan asal Kendal ini tidak pernah menyangka bahwa lantunan suara yang dulu hanya bergema di antara dinding kamar sempitnya akan membawanya sejauh ini—ke panggung megah D'Academy 8, ajang pencarian bakat yang menjadi jembatan bagi ribuan mimpi dari pelosok negeri.

Malam itu adalah malam keduanya tampil di depan juri dan jutaan pemirsa yang menyaksikan melalui layar kaca. Rambutnya disanggul sederhana, gaun berwarna emas muda membalut tubuhnya, mencerminkan sosok yang sederhana namun penuh cahaya. Setiap nada yang keluar dari mulutnya bukan sekadar nyanyian; itu adalah doa, air mata, dan harapan yang telah ia kumpulkan selama bertahun-tahun. 'Ini bukan tentang kemenangan semata,' bisik hatinya, 'tapi tentang bagaimana aku bisa berjuang untuk keluarga dan membuktikan bahwa anak kampung pun bisa bermimpi.'

Melodi dari Kota Kecil

Kendal, sebuah kabupaten di pesisir utara Jawa Tengah, mungkin tidak sepopuler kota-kota besar lainnya. Namun dari sanalah Listen tumbuh—di lingkungan yang penuh kesederhanaan, di mana suara mesin pabrik dan gemerisik sawah menjadi latar bunyi keseharian. Ayahnya seorang buruh bangunan, ibunya mengurus rumah sambil sesekali menerima jahitan untuk menambah penghasilan. Di rumah berukuran 6x8 meter itu, Listen kecil pertama kali jatuh cinta dengan musik dangdut berkat radio butut milik sang kakek.

'Setiap sore, aku dan kakek duduk di teras, mendengarkan lagu-lagu Elvy Sukaesih atau Ikke Nurjanah. Di situ aku belajar bahwa dangdut bukan sekadar musik, tapi cerita hidup yang dinyanyikan,' kenang Listen dengan mata berbinar. Ketertarikannya pada olah vokal mulai terlihat sejak duduk di bangku SD, saat ia memberanikan diri tampil di acara perpisahan sekolah. Meski saat itu suaranya masih sumbang dan malu-malu, sorak-sorai teman-temannya menjadi bara semangat yang terus menyala hingga remaja. Namun, jalan menuju panggung besar tak pernah mudah. Keterbatasan ekonomi sering kali menjadi tembok tebal antara mimpi dan kenyataan. Listen harus puas berlatih vokal secara otodidak, merekam suaranya dengan ponsel pinjaman, lalu mengirimkannya ke berbagai kompetisi daring. Tak terhitung berapa kali ia gagal. Bahkan, pernah suatu kali ia harus menangis di kamar mandi karena uang pendaftaran audisi tidak ada.

Langkah Menuju Ibukota

Titik balik terjadi ketika seorang tetangga yang bekerja sebagai guru seni di sekolah setempat merekamnya menyanyi di acara hajatan kampung. Video itu menyebar di grup media sosial dan sampai ke telinga seorang produser lokal yang kemudian membantu Listen mengikuti audisi D'Academy 8 di Semarang. 'Waktu itu aku hanya bawa uang seadanya, sepatu pun pinjam dari sepupu. Yang penting niat dulu,' ujarnya sambil tertawa kecil, mencoba menyembunyikan rasa haru. Proses audisi berjalan panjang dan melelahkan. Listen harus bersaing dengan ribuan peserta dari seluruh Indonesia yang memiliki kemampuan vokal luar biasa. Namun, ada satu hal yang membedakannya: penghayatan. Setiap lirik yang ia bawakan terasa seperti pengakuan jujur dari lubuk hati terdalam. Juri pun terpukau. 'Kamu itu menyanyi pakai jiwa, bukan cuma teknik,' kata salah satu juri yang membuat Listen menangis terharu di podium.

Ketika akhirnya ia dinyatakan lolos sebagai salah satu peserta utama dan harus terbang ke Jakarta untuk karantina, keluarganya berkumpul di ruang tamu sambil menangis bahagia. Ibunya memeluknya erat, berbisik, 'Buktikan bahwa mimpi kita ini nyata, Nak.' Momen itu adalah salah satu kenangan paling mengharukan bagi Listen, yang selalu ia ingat setiap kali rasa lelah dan tekanan mulai menerpa selama karantina. Di Jakarta, ia bertemu dengan puluhan peserta lain yang memiliki cerita serupa: ada yang dari pelosok Sumatera, ada yang berasal dari keluarga nelayan di Sulawesi, dan ada pula yang seperti dirinya—anak kampung yang hanya bermodalkan tekat. Mereka bukan hanya saingan, melainkan juga sahabat yang saling menguatkan di tengah kerasnya persaingan.

Panggung sebagai Panggung Hati

Setiap penampilan di panggung utama D'Academy 8 selalu menjadi ujian emosi bagi Listen. Bukan hanya karena jutaan mata memperhatikannya, melainkan karena di setiap not, ia membawa serta wajah-wajah orang yang dicintainya. Di balik layar, sebelum tampil, ia selalu menyempatkan diri untuk menelepon ibunya sebentar saja—mendengarkan suaranya yang menenangkan. 'Mama selalu bilang, jangan lupa baca bismillah, nyanyi yang bagus, tapi terutama tetap rendah hati,' cerita Listen dalam salah satu sesi wawancara.

Puncak momen emosional terjadi ketika ia membawakan lagu bertema pengorbanan seorang ibu. Dengan suara yang bergetar, matanya berkaca-kaca, dan seisi studio terdiam. Bahkan salah satu juri yang dikenal paling kritis harus menyeka sudut matanya. 'Ini yang namanya menyampaikan pesan dalam lagu. Kamu berhasil membuat kami semua hanyut,' ujar juri tersebut dengan suara serak. Bagi Listen, pujian seperti itu bukan untuk disombongkan—melainkan untuk dijadikan pengingat bahwa musik adalah medium untuk menghubungkan hati manusia. Di antara jadwal latihan yang padat, ia masih menyempatkan diri untuk menulis di buku hariannya tentang semua perjalanan ini. Suatu hari, jika ia berhasil, ia ingin membangun sanggar musik di Kendal untuk anak-anak yang memiliki mimpi serupa dengannya.

Dari Kendal ke Masa Depan

Kini, seiring langkahnya yang semakin mantap di panggung D'Academy 8, Listen tidak hanya membawa nama sendiri, tetapi juga nama kampung halamannya. Masyarakat Kendal ramai-ramai memberikan dukungan yang luar biasa; mulai dari acara nonton bareng di balai desa, hingga pesan-pesan penyemangat yang membanjiri media sosial. Bahkan pemerintah daerah setempat mengapresiasi pencapaiannya dengan memberikan motivasi agar ia terus berjuang hingga akhir. Namun, di balik gemerlap popularitas yang mulai menghampirinya, Listen sadar bahwa jalan masih panjang. 'Ini baru awal. Saya ingin terus belajar, dan yang terpenting, saya ingin membuktikan bahwa mimpi tidak mengenal batas geografis atau ekonomi,' tegasnya.

Bagi banyak anak muda di luar sana—terutama dari daerah terpencil—Listen adalah cerminan bahwa keberanian untuk bermimpi adalah senjata paling ampuh melawan keterbatasan. Kisahnya tidak hanya tentang ajang pencarian bakat, tetapi lebih tentang transformasi seorang gadis biasa menjadi inspirasi yang hidup. Di setiap tarikan napasnya di atas panggung, ia menarikan doa bagi mereka yang masih menahan mimpi. Air mata yang jatuh saat eliminasi peserta lain, pelukan hangat saat teman satu asramanya sedih, dan senyuman yang ia tebarkan ke semua orang adalah bukti bahwa ia bukan sekadar kontestan—ia adalah pendongeng hati. Perjalanan Listen dari sudut kecil di Kendal ke panggung nasional adalah pengingat yang menyentuh bahwa terkadang, kisah paling sederhana justru memiliki kekuatan paling dahsyat untuk menggerakkan jiwa. Dan seiring malam semakin larut, saat lampu panggung mulai meredup dan ia melangkah turun, Listen memegang erat kalung pemberian ibunya—sebuah janji tanpa suara bahwa esok, ia akan kembali bernyanyi, lebih kuat dari hari ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User