Aug 25, 2026
entertainment

Perjalanan Seorang Ibu Melawan Kulit Kering yang Menyakitkan

Di sudut ruang tamu berukuran 3x4 meter di kawasan Cibubur, Rina Susanti, 34 tahun, duduk memegang cermin bundar. Perlahan, ia mengusapkan krim pelembap ke pipinya yang tampak bersisik. Tangannya berh...

Perjalanan Seorang Ibu Melawan Kulit Kering yang Menyakitkan

Di sudut ruang tamu berukuran 3x4 meter di kawasan Cibubur, Rina Susanti, 34 tahun, duduk memegang cermin bundar. Perlahan, ia mengusapkan krim pelembap ke pipinya yang tampak bersisik. Tangannya berhenti sejenak saat ujung jari menyentuh area yang terasa kasar. Air mata menggenang, tetapi ia tersenyum — senyum yang lahir dari rasa syukur, bukan duka.

Lima tahun lalu, perempuan ini nyaris menyerah pada kulit kering yang tak kunjung sembuh. Gatal di malam hari, pecah-pecah di sela jari, hingga rasa perih setiap kali terkena air. "Ada masa ketika saya enggan keluar rumah karena malu," tuturnya lirih. "Orang bilang itu cuma kulit kering biasa. Tapi buat saya, itu perjalanan panjang yang nyaris merenggut kepercayaan diri."

Ketika Kulit Menjadi Musuh yang Tak Terlihat

Kulit kering atau xerosis bukan sekadar masalah estetika. Dokter spesialis kulit menjelaskan, kondisi ini terjadi ketika lapisan pelindung kulit kehilangan kelembapan dan minyak alaminya. Pemicunya beragam: cuaca ekstrem, paparan pendingin ruangan, kebiasaan mandi air panas, hingga sabun dengan deterjen keras. Bagi sebagian orang gejalanya ringan. Namun bagi Rina, ia datang seperti badai yang tak pernah benar-benar pergi.

Ia mengisahkan malam-malam panjang ketika gatal membangunkannya dari tidur. Bekas garukan menghiasi lengan dan kakinya, membuatnya kian tak nyaman. "Saya sempat menangis di kamar mandi karena kulit saya seperti tidak pernah cukup lembap," kenangnya. "Semakin digaruk, semakin perih. Semakin dirawat, semakin bingung saya harus mulai dari mana."

Perjalanan mencari kesembuhan itu tidak sederhana. Ia mencoba berbagai produk, dari yang murah hingga yang mahal, dari saran tetangga hingga rekomendasi dokter. Beberapa kali ia nyaris menyerah ketika hasil yang diharapkan tak kunjung hadir. Namun di balik rasa putus asa itu, ada satu hal yang menahannya: senyum anaknya.

Di Balik Layar Perjuangan Melawan Gatal dan Pecah-pecah

Di balik layar perjuangannya, ada satu momen yang mengubah segalanya. Suatu malam, putranya yang berusia lima tahun bertanya polos, "Bunda sakit, ya? Kok kulitnya putih-putih?" Pertanyaan itu menghantam hati Rina. Sejak malam itu, ia bertekad bangkit — bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk anak yang menatapnya dengan penuh kasih.

Ia mulai rajin berkonsultasi, mencatat setiap anjuran dokter, dan disiplin merawat kulit setiap hari. Rutinitasnya sederhana: mandi dengan air hangat, mengoleskan pelembap dalam tiga menit setelah mandi, serta menghindari sabun berpewangi keras. Perlahan, hasilnya mulai terlihat. "Perubahannya tidak dramatis. Tapi setelah dua bulan, gatalnya berkurang drastis. Itu momen paling mengharukan dalam hidup saya," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Rina juga menyadari gaya hidup turut menentukan. Kurang minum, stres berkepanjangan, dan tidur larut membuat kulitnya kembali kering. Ia pun memperbaiki pola makan, memperbanyak sayur dan buah, serta meluangkan waktu untuk beristirahat. Tubuh yang dirawat dengan baik, kata dia, adalah bentuk cinta yang paling jujur pada diri sendiri.

Para ahli pun mengingatkan agar kulit kering yang disertai kemerahan, retakan dalam, atau rasa nyeri tidak dianggap remeh. Bila perawatan mandiri tak membuahkan hasil, konsultasi dengan dokter adalah langkah bijak. Kulit yang sehat dimulai dari kebiasaan harian yang konsisten, bukan dari produk termahal di rak.

Mimpi Sederhana yang Menular ke Sekitar

Kini, Rina menjalani hidup yang jauh lebih tenang. Kulitnya memang masih kering di beberapa bagian, tetapi ia sudah paham cara merawatnya. Yang lebih menyentuh, kisahnya menginspirasi banyak orang di sekitarnya. Teman dan tetangga mulai bertanya tentang rutinitasnya, bahkan ada yang mengaku tak lagi malu membicarakan masalah kulit mereka.

"Saya tidak punya mimpi besar. Mimpi saya sederhana: tidur nyenyak tanpa diganggu gatal, dan memeluk anak tanpa merasa malu dengan kulit saya," kata Rina. "Kalau kisah saya bisa membuat satu orang saja merasa tidak sendirian, itu sudah lebih dari cukup."

Bagi siapa pun yang tengah berjuang menghadapi kulit kering, Rina berpesan untuk tidak menyerah dan berani mencari bantuan profesional. "Kulit kering bukan vonis seumur hidup," tegasnya. "Ia justru mengajarkan kita untuk lebih sabar, lebih peduli pada diri sendiri, dan menghargai hal-hal sederhana yang sering kita anggap remeh."

Malam itu, Rina kembali menatap cermin. Kulitnya masih bersisik di beberapa titik, tetapi matanya kini berbinar. Perjalanannya belum selesai, tetapi ia sudah tahu arahnya. Dan itu, baginya, adalah kemenangan yang paling sederhana sekaligus paling bermakna.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User