Aug 25, 2026
entertainment

Perjalanan Ghea Indrawari: Dari Singkawang hingga Istana Negara

Di bawah langit Jakarta yang perlahan terang, seorang perempuan muda berdiri di sisi panggung megah di lingkungan Istana Negara. Jemarinya sesekali merapikan busana yang dikenakannya, sementara matany...

Perjalanan Ghea Indrawari: Dari Singkawang hingga Istana Negara

Di bawah langit Jakarta yang perlahan terang, seorang perempuan muda berdiri di sisi panggung megah di lingkungan Istana Negara. Jemarinya sesekali merapikan busana yang dikenakannya, sementara matanya menatap jauh ke depan — seolah sedang menghitung ulang seluruh perjalanan panjang yang membawanya hingga ke titik ini. Perempuan itu adalah Ghea Indrawari, penyanyi asal Singkawang, Kalimantan Barat, yang hari itu dipercaya tampil di hadapan para tamu undangan istana.

Beberapa menit sebelum namanya dipanggil, Ghea menarik napas dalam-dalam. Di benaknya berkelebat bayangan sebuah rumah sederhana di kota kecil tempat ia dibesarkan — tempat ia dulu bernyanyi apa adanya, tanpa penonton, tanpa sorot lampu, hanya ditemani keyakinan kecil bahwa suatu hari suaranya akan didengar oleh lebih banyak orang.

"Rasanya seperti mimpi yang tidak berani aku bayangkan sebelumnya. Dulu aku hanya anak kecil yang senang bernyanyi. Hari ini aku berdiri di istana, menyanyikan lagu untuk negeriku sendiri," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Dari Kota Kecil Menuju Panggung Besar

Kisah Ghea tidak bermula dari gemerlap. Ia tumbuh di Singkawang, kota kecil di pesisir Kalimantan Barat, jauh dari hingar-bingar industri musik ibu kota. Sejak belia, bernyanyi adalah caranya bercerita — tentang rindu, tentang harapan, tentang hal-hal kecil yang tidak sanggup ia ucapkan dengan kata-kata biasa.

Titik baliknya datang ketika ia memberanikan diri mengikuti ajang pencarian bakat Indonesian Idol. Bermodal suara khas yang lembut dan jujur, gadis muda itu melangkah dari satu babak ke babak berikutnya, hingga namanya dikenal di seluruh penjuru negeri. Bagi banyak orang, ia mungkin hanya satu dari sekian kontestan. Namun bagi keluarganya di Singkawang, setiap penampilannya di layar kaca adalah momen mengharukan yang selalu ditunggu dengan doa.

Jatuh Bangun yang Membentuknya

Jalan yang dilalui Ghea tidak selalu mulus. Di tengah kompetisi, suaranya yang tidak lazim sempat menuai ragam komentar. Ada yang jatuh cinta pada keunikannya, ada pula yang meragukannya. Namun justru di situlah ia belajar berjuang — bahwa menjadi berbeda bukanlah kekurangan, melainkan kekuatan yang harus dijaga.

"Aku pernah ragu dengan diriku sendiri. Tapi aku sadar, kalau aku berhenti, aku tidak akan pernah tahu seberapa jauh suaraku bisa sampai," kenangnya.

Setelah kompetisi usai, ia tidak berhenti. Perlahan namun pasti, Ghea membangun kariernya sendiri: merilis karya, bernyanyi dari panggung ke panggung, dan merawat hubungan hangat dengan para pendengarnya. Tidak ada jalan pintas — hanya ketekunan seorang anak daerah yang percaya bahwa mimpi harus diperjuangkan dengan kerja nyata.

Hari yang Tak Terlupakan di Istana

Maka ketika kesempatan tampil di Istana Negara itu datang, Ghea menyambutnya dengan campuran haru dan gugup. Di balik layar, ia menyiapkan diri dengan sungguh-sungguh — berlatih, memantapkan hati, dan mengingat kembali semua orang yang pernah percaya padanya ketika ia belum menjadi siapa-siapa.

Saat akhirnya berdiri di depan mikrofon, kegugupan itu berubah menjadi ketenangan. Suaranya mengalun, menyentuh siapa saja yang mendengarkan. Di antara hadirin, ada yang tersenyum, ada pula yang diam-diam menyeka air mata — sebab ada kejujuran dalam setiap nada yang ia bawakan.

"Di atas panggung itu, aku tidak hanya membawa namaku. Aku membawa nama keluargaku, kotaku, dan semua orang yang pernah bilang bahwa aku bisa," katanya penuh syukur.

Pesan untuk Para Pemimpi

Bagi Ghea, penampilan di istana bukanlah garis akhir, melainkan pengingat bahwa perjalanan masih panjang. Ia ingin kisahnya menjadi inspirasi bagi anak-anak muda di kota-kota kecil — bahwa asal-usul tidak pernah membatasi seberapa tinggi seseorang bisa bangkit dan terbang.

"Kalau aku bisa sampai di sini, kamu juga bisa. Jangan pernah malu dengan mimpimu, sekecil apa pun kelihatannya," ucapnya lembut, sebelum kembali melangkah dengan senyum — membawa serta doa dari Singkawang yang tak pernah putus.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User