Di sebuah sudut kota Pangkalpinang yang tenang, suara merdu seorang gadis muda kerap memecah keheningan sore. Ia bukan sekadar bernyanyi—ia mengisahkan hidup, melepas rindu pada panggung besar yang hanya bisa ia tonton dari layar kaca. Gadis itu adalah Bhita, peserta D'Academy 8 yang kini telah melangkah jauh dari tanah kelahirannya di Bangka Belitung, membawa serta mimpi yang dulu hanya ia bisikkan di depan cermin kamar tidurnya.
Kamar Sederhana yang Melahirkan Mimpi
Rumah mungil berdinding kayu itu masih berdiri kokoh di kawasan padat penduduk Pangkalpinang. Di situlah segalanya bermula. Setiap petang, selepas membantu ibunya menyelesaikan pekerjaan rumah, Bhita akan menyalakan radio kecil milik ayahnya. Stasiun dangdut lokal menjadi saluran favoritnya. Dengan suara yang masih belia, ia mengikuti setiap lengkingan biduanita kenamaan, tak peduli apakah tetangga mendengar atau tidak.
"Dulu saya cuma punya radio butut. Kadang suaranya putus-putus, tapi saya tetap setia menunggu lagu favorit muncul," kenangnya dalam sebuah percakapan yang hangat. "Tidak ada yang menyangka bahwa dari radio itu, jalan saya ke D'Academy akan terbuka."
Terbatasnya akses bukan menjadi penghalang. Justru dari kesederhanaan itulah, Bhita belajar bahwa suara tidak butuh studio mewah untuk didengar. Cukup ketulusan dan keberanian untuk terus melangkah meski keraguan kadang menyergap di malam-malam panjang.
Pangkalpinang dan Akar Musik yang Mengalir
Pangkalpinang dikenal sebagai kota yang tenang dengan budaya Melayu yang kental. Namun, di balik ketenangannya, kota ini menyimpan talenta-talenta muda yang haus akan panggung. Bhita adalah salah satu mutiara yang muncul dari lingkungan tersebut. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan irama-irama tradisional yang kerap dimainkan dalam acara hajatan atau perayaan adat. Ibunya seorang penjahit rumahan, ayahnya bekerja serabutan, namun keduanya selalu memberi ruang bagi Bhita untuk mengekspresikan diri lewat musik.
"Orang tua saya tidak punya uang lebih untuk kursus vokal. Tapi cinta mereka cukup untuk membuat saya percaya bahwa saya bisa," ujar Bhita dengan suara yang bergetar. Ada air mata yang nyaris jatuh saat ia mengisahkan bagaimana sang ayah rela menabung berbulan-bulan hanya untuk membelikannya sepatu layak pakai saat audisi pertamanya.
Audisi dan Panggung yang Mengubah Segalanya
Proses audisi D'Academy 8 bukanlah jalan yang mudah. Bhita harus menempuh perjalanan panjang, baik secara fisik maupun mental. Dari Pangkalpinang, ia harus menyeberangi lautan, menempuh jarak ratusan kilometer hanya untuk tiba di lokasi audisi. Bukan hanya biaya yang menjadi beban, tetapi juga tekanan psikologis: mampukah ia bersaing dengan ribuan peserta dari seluruh Indonesia?
Saat namanya dipanggil oleh dewan juri, jantungnya berdegup begitu kencang. "Saya ingat betul, lampu panggung begitu terang, saya hampir tidak bisa melihat siapa pun di depan. Tapi saya pejamkan mata, saya ingat rumah saya di Pangkalpinang, saya ingat radio kecil ayah saya, dan saya bernyanyi sepenuh hati," kenangnya. Tepuk tangan yang menggema menjadi jawaban atas segala keraguan yang selama ini menyelimutinya.
Di Balik Layar: Tekanan dan Dukungan
Masuk sebagai salah satu peserta D'Academy 8 adalah sebuah pencapaian besar. Namun, perjalanan sesungguhnya justru dimulai dari sini. Latihan harian yang melelahkan, tekanan mental untuk terus tampil prima, serta jauh dari keluarga menjadi tantangan yang harus ia hadapi. Bhita mengaku kerap menangis di malam-malam awal karantina. Rindu rumah, rindu masakan ibu, rindu suara ayah yang selalu menenangkan, semua bercampur menjadi satu.
Namun, di tengah tekanan itu, ia menemukan keluarga baru. Rekan-rekan sesama peserta yang berasal dari berbagai daerah menjadi sumber kekuatan. "Kami saling menguatkan. Ada yang dari Medan, Surabaya, Makassar—tapi kami semua punya cerita yang sama: berjuang untuk mimpi," katanya. Dukungan dari penggemar yang terus mengalir melalui media sosial juga menjadi bahan bakar semangat bagi Bhita untuk terus melangkah.
Masa Depan yang Terbentang
Kini, Bhita bukan lagi gadis kecil yang hanya bernyanyi di depan radio rusak. Ia adalah seorang biduanita muda yang namanya mulai dikenal luas. Meski demikian, ia tidak lupa darimana ia berasal. Dalam setiap kesempatan wawancara, ia selalu menyebut Pangkalpinang dengan bangga. Ia ingin kota kelahirannya itu dikenal tidak hanya sebagai daerah penghasil timah, tetapi juga sebagai tempat lahirnya talenta-talenta musik yang berpotensi besar.
"Saya ingin anak-anak di Pangkalpinang tahu bahwa tidak ada yang mustahil. Kalau saya bisa, mereka juga pasti bisa. Tidak peduli seberapa kecil kota kita, selama kita punya mimpi dan kemauan keras, jalan itu akan selalu ada," tutupnya penuh keyakinan. Kisah Bhita adalah potret ribuan anak muda di pelosok negeri yang tak kenal lelah mengejar mimpi, meski harus dimulai dari ruang-ruang paling sederhana sekalipun.
Comments (0)