Kubu Partai Demokrat kembali diguncang oleh pengakuan mengejutkan dari Paul Rivera, penulis laporan autopsi pemilu 2024 Komite Nasional Demokrat (DNC). Rivera membenarkan laporan Axios bahwa ia menyimpulkan perang di Gaza telah merugikan Kamala Harris secara politik dan memperburuk peluang kemenangannya dalam pilpres lalu. Temuan yang seharusnya menjadi bagian utama evaluasi internal partai itu justru tidak pernah sampai ke tangan pimpinan DNC, menciptakan tanda tanya besar soal transparansi dan keberanian partai menghadapi isu kontroversial.
Temuan yang Sengaja Diredam
Rivera mengaku telah menyusun temuan tersebut pada akhir tahun lalu, saat proses autopsi pemilu sedang berlangsung intensif. Namun, dokumen berisi analisis dampak perang Gaza terhadap elektabilitas Harris itu tidak pernah diserahkan kepada pimpinan partai. Pengakuan ini datang setelah sebelumnya DNC merilis laporan autopsi resmi mereka yang justru menghilangkan pembahasan soal konflik Israel-Hamas sepenuhnya. Keputusan untuk mengabaikan isu tersebut menuai kritik keras dari kalangan progresif yang menduga ada upaya meremehkan faktor krusial dalam kekalahan telak Harris dari Donald Trump.
Dalam wawancara eksklusif dengan Axios, Rivera—yang kini tidak lagi menjabat sebagai penasihat DNC—membongkar detail analisisnya. Ia menyatakan bahwa dukungan administrasi Biden terhadap Israel selama perang melawan Hamas bukanlah sekadar isu luar negeri, melainkan bomer waktu politik domestik yang meledak di hari pemungutan suara. Kesediaan Rivera untuk mengungkapkan hal ini secara terbuka menunjukkan adanya luka dalam yang mendalam di tubuh partai, di mana kebenaran data seringkali dikalahkan oleh pertimbangan politik yang dianggap aman.
"Analisis politisnya sederhana—hasil pemilu dan pergeseran suara di Michigan serta daerah lain menunjukkan dampak nyata krisis ini terhadap kampanye Harris. Meskipun situasi konflik Israel-Palestina kompleks, angka-angka tidak berbohong."
Hancurnya Dukungan di Michigan
Salah satu fakta paling mencolok dalam laporan Rivera adalah kehilangan puluhan ribu suara Harris di negara bagian Michigan, terutama di komunitas dengan populasi Arab-Amerika yang besar seperti Dearborn, Dearborn Heights, dan Hamtramck. Ketiga wilayah ini secara tradisional menjadi basis kokoh Partai Demokrat, namun pada pemilu 2024 terjadi pergeseran dramatis yang menguntungkan Partai Hijau dan mengurangi signifikansi kemenangan Harris di negara bagian penting tersebut.
Rivera mencatat bahwa aktivis pro-Palestina secara terorganisir mengerahkan kampanye boikot terhadap tiket Demokrat, membagikan literatur dengan pesan tegas: "Jangan Pilih Trump. Jangan Pilih Harris. Jangan Pilih..." Kampanye ini berhasil memobilisasi pemilih muda, liberal, dan warga keturunan Arab yang merasa dikhianati oleh kebijakan luar negeri administrasi Biden. Dukungan terhadap Partai Hijau melonjak tajam di wilayah-wilayah tersebut, mengisyaratkan bahwa sikap acuh partai terhadap penderitaan sipil Gaza telah membakar jembatan emosional dengan konstituen kunci mereka.
Menurut Rivera, meskipun faktor perang Gaza bukanlah satu-satunya penyebab kekalahan Harris di Michigan, kehilangan suara di komunitas Arab-Amerika menyumbang porsi yang sangat berarti dalam pergeseran negara bagian itu ke arah Trump. Ia menegaskan bahwa penolakan pemilih ini bukanlah fenomena isolasi, melainkan bagian dari gelombang ketidakpuasan yang lebih luas terhadap bagaimana Partai Demokrat menangani krisis kemanusiaan di Jalur Gaza.
Perpecahan Moderat versus Progresif
Pengakuan Rivera ini memperdalam jurang perdebatan yang selama berbulan-bulan menggerus tubuh Partai Demokrat. Kalangan moderat terus mempertanyakan signifikansi elektoral dari isu perang Gaza, berargumen bahwa faktor ekonomi dan kepuasan umum terhadap pemerintahan Biden jauh lebih menentukan dalam kekalahan Harris. Namun, sayap progresif dengan gigih menyuarakan bahwa toll perang terhadap warga sipil Gaza telah menguras dukungan dari kelompok pemilih yang sebelumnya menjadi tulang punggung kemenangan Demokrat: generasi muda, pemilih liberal, dan komunitas Arab-Amerika.
Perdebatan ini tidak sekadar akademis. Isu Gaza telah mengubah peta politik di beberapa negara bagian penting dan memaksa Partai Demokrat untuk menghadapi kenyataan pahit bahwa kebijakan luar negeri mereka tidak lagi terjebak di balik meja diplomasi Washington, tetapi langsung menghantam bilik suara di Dearborn dan Hamtramck. Suara protes yang sebelumnya dianggap sepele kini terbukti mampu mengoyak fondasi elektoral partai di wilayah-wilayah yang sempit dan menentukan.
Laporan Independen 564 Halaman
Tidak puas dengan autopsi resmi DNC yang dianggapnya mangkir dari realitas, Rivera pada akhirnya menerbitkan laporan mandiri sepanjang 564 halaman berjudul "Blue by 2032". Dokumen raksasa itu menguliti berbagai faktor kekalahan Demokrat pada 2024, dengan memberikan ruang signifikan bagi analisis dampak elektoral perang Gaza. Laporan ini menjadi bukti otentik bahwa di balik dinding istana partai, ada suara-suara yang berusaha menyuarakan kebenaran namun terhalang oleh mekanisme politik yang enggan mengakui kesalahan strategis.
Melalui laporan tersebut, Rivera tidak hanya mencatat angka-angka kekalahan, tetapi juga merekam trauma politik yang dialami komunitas Arab-Amerika saat menyaksikan partai yang selama ini mereka banggakan tampak tidak mampu menarik rem kebijakan yang menyebabkan ribuan korban sipil. Bagi banyak pengamat, publikasi laporan ini adalah seruan bangkit bagi Partai Demokrat untuk segera melakukan introspeksi jujur sebelum menghadapi pemilu mendatang, atau risiko kehilangan basis pemilih permanen yang semakin terkikis.
[SOCIAL_TWEET]: Penulis autopsi DNC 2024, Paul Rivera, buka suara: Perang Gaza bikin Harris kehilangan pul
Comments (0)