Pagi-pagi buta pada 24 Agustus 2016, Giorgio Cortellesi menembus debu dan kegelapan di Amatrice, Italia tengah, dengan satu ketakutan yang membeku di dadanya: anak-anaknya mungkin tewas tertimbun berton-ton puing rumah yang runtuh oleh gempa. Sepuluh tahun kemudian, debu itu telah lama mengendap, tetapi luka kota kecil nan bersejarah itu belum juga kering. Di belahan dunia yang lain, pada pekan yang sama, pengadilan Tiongkok menjatuhkan vonis penjara seumur hidup kepada pendiri China Evergrande Group, pengembang properti paling boros utang di dunia, lima tahun setelah keruntuhan perusahaannya mengguncang ekonomi dan pasar keuangan negeri itu.
Peristiwa di dua benua itu tampak tidak berkaitan sama sekali. Namun keduanya menceritakan babak yang sama dalam perjalanan sebuah bangsa: seberapa cepat — atau seberapa lambat — sebuah masyarakat pulih dari kehancuran, baik kehancuran fisik akibat bencana alam maupun kehancuran kepercayaan akibat pengelolaan keuangan yang ceroboh.
Sepuluh Tahun Amatrice, Pemulihan yang Belum Tuntas
Gempa berkekuatan 6,2 skala Richter yang mengguncang Italia tengah pada dini hari itu menewaskan 299 orang, sebagian besar di Amatrice, dan meratakan pusat kota bersejarah yang dikenal sebagai kampung halaman pasta amatriciana. Ribuan warga kehilangan tempat tinggal dalam hitungan detik. Satu dekade kemudian, rekonstruksi berjalan jauh lebih lambat dari harapan. Banyak warga yang masih menempati hunian sementara, sementara sebagian lainnya memilih pindah permanen ke kota-kota besar, meninggalkan Amatrice yang sepi di antara gedung-gedung yang baru sebagian berdiri.
"Aku tersandung dalam debu dan kegelapan, dan ketakutan terbesar dalam hidupku adalah anak-anakku tertimbun di bawah puing-puing," kenang Cortellesi, yang kini menjadi salah satu saksi paling vokal atas lambatnya pemulihan kotanya.
Pemerintah Italia telah mengucurkan miliaran euro untuk rekonstruksi kawasan gempa 2016. Namun birokrasi, sengketa administrasi, dan pemeriksaan anti-korupsi yang ketat membuat banyak proyek tersendat. Para pengamat menilai lambatnya pemulihan Amatrice menjadi cermin kegagalan sistemik dalam penanganan bencana di Italia — kritik yang kembali mencuat setiap kali musim dingin tiba dan warga masih menempati hunian darurat yang seharusnya bersifat sementara.
Pendiri Evergrande Dihukum Penjara Seumur Hidup
Di Tiongkok, Xu Jiayin, pendiri China Evergrande Group yang dikenal pula sebagai Hui Ka Yan, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh pengadilan di Shenzhen atas serangkaian kejahatan keuangan. Vonis itu dijatuhkan lima tahun setelah raksasa properti tersebut gagal membayar utangnya pada akhir 2021, memicu salah satu keruntuhan korporasi terbesar dalam sejarah modern. Utang Evergrande tercatat lebih dari 2,4 triliun yuan, atau setara lebih dari 300 miliar dolar AS, menjadikannya pengembang properti paling boros utang di dunia. Pengadilan menyebutkan sederet pelanggaran yang dilakukan perusahaan dan pendirinya:
- Penipuan dalam penerbitan obligasi senilai puluhan miliar yuan
- Pelaporan keuangan yang tidak jujur selama bertahun-tahun
- Pengalihan dana dan aset secara tidak sah
"Ini bukan sekadar hukuman bagi satu orang. Ini sinyal bahwa Beijing serius menertibkan sektor properti yang selama bertahun-tahun menjadi mesin pertumbuhan sekaligus sumber risiko sistemik bagi perekonomian," ujar seorang analis ekonomi di Hong Kong.
Dua Kota, Satu Pertanyaan tentang Ketahanan
| Aspek | Amatrice, Italia | Evergrande, Tiongkok |
|---|---|---|
| Pemicu kehancuran | Gempa bumi 6,2 SR | Keruntuhan finansial 2021 |
| Korban | 299 orang meninggal | Jutaan pembeli rumah dan investor |
| Status pemulihan | Rekonstruksi berjalan lambat | Aset dibekukan, restrukturisasi utang |
| Respons negara | Dana miliaran euro | Vonis seumur hidup bagi pendiri |
Dua kasus ini mengajarkan bahwa pemulihan tidak hanya soal anggaran, tetapi juga soal kelembagaan, transparansi, dan kecepatan bertindak. Amatrice menunjukkan betapa mahalnya kelambatan: kota yang kehilangan penduduknya justru semakin sulit kembali hidup. Evergrande menunjukkan betapa mahalnya kepercayaan yang disia-siakan: ketika satu perusahaan raksasa jatuh, jutaan keluarga ikut menanggung.
Pelajaran bagi Indonesia
Bagi Indonesia, yang berada di kawasan cincin api dan kerap menghadapi gempa, kisah Amatrice adalah peringatan tentang pentingnya tata ruang, standar bangunan tahan gempa, dan kesiapan dana rekonstruksi sejak dini. Sementara itu, kasus Evergrande mengingatkan pengawas keuangan di negara berkembang agar tidak membiarkan utang korporasi membengkak tanpa kendali. Sebab, ketika raksasa jatuh, guncangannya tidak pernah hanya dirasakan oleh satu negara.
Sepuluh tahun setelah dini hari yang kelam di Amatrice, dan lima tahun setelah guncangan Evergrande, kedua negara masih berjalan di tengah proses pemulihan yang panjang. Sejarah mencatat bahwa kehancuran datang dalam sekejap, tetapi pemulihan selalu butuh waktu — dan sering kali, butuh lebih dari satu dekade.
[SOCIAL_TWEET]: 10 tahun setelah gempa, Amatrice masih berjuang bangkit. Sementara itu, pendiri Evergrande divonis penjara seumur hidup atas keruntuhan finansial terbesar dalam sejarah. Dua kisah pemulihan yang tak boleh dilupakan. #Amatrice #Evergrande[SOCIAL_TG]: 🔴 BERITA TERKINI — Pendiri Evergrande divonis penjara seumur hidup; Italia masih berjuang memulihkan Amatrice 10 tahun pasca-gempa. Simak analisis lengkapnya di Beritaseputar.com.
Comments (0)