Sep 20, 2026
Nasional

Pemuda Singapura Diadili di AS Terkait Pencurian Kripto Rp 4,6 Triliun

Kasus pencurian aset digital kembali mengguncang panggung internasional. Seorang pemuda asal Singapura berusia 22 tahun, Malone Lam, kini harus berhadapan

Pemuda Singapura Diadili di AS Terkait Pencurian Kripto Rp 4,6 Triliun

Kasus pencurian aset digital kembali mengguncang panggung internasional. Seorang pemuda asal Singapura berusia 22 tahun, Malone Lam, kini harus berhadapan dengan meja hijau di Amerika Serikat setelah didakwa mendalangi peretasan kripto fantastis senilai lebih dari US$260 juta atau sekitar Rp 4,6 triliun. Kehidupan glamor instan yang sempat dinikmatinya pun runtuh seketika saat aparat penegak hukum federal membongkar aksinya.

Modus Canggih di Balik Bobolnya Dompet Kripto

Malone Lam, yang menggunakan sejumlah identitas samaran di dunia maya, diduga bersekongkol dengan rekan kejahatannya untuk mengelabui seorang investor kripto kakap berbasis di Washington D.C. Modus yang digunakan bukan sekadar peretasan biasa, melainkan perpaduan antara social engineering tingkat tinggi dan manipulasi teknis.

Pelaku berhasil menyusup ke akun pribadi korban setelah menyamar sebagai tim pendukung resmi platform kripto dan penyedia layanan keamanan. Setelah memperoleh akses kredensial penting, sindikat ini dengan cepat menyedot ribuan keping Bitcoin dan memecahnya ke dalam berbagai jaringan pencucian uang digital serta layanan crypto mixer demi mengaburkan jejak transaksi.

"Para pelaku memanfaatkan teknik manipulasi psikologis yang sangat terencana untuk mengakses dompet digital korban sebelum memindahkan dana dalam hitungan menit," ungkap perwakilan Biro Investigasi Federal (FBI) dalam laporan dakwaan.

Gaya Hidup Super Mewah: Hamburkan Miliaran Rupiah Semalam

Setelah berhasil menggasak dana triliunan rupiah tersebut, Lam langsung menjalani gaya hidup jetset yang serba berlebihan di Miami dan Los Angeles. Uang haram hasil peretasan itu digunakan untuk membiayai pesta pora tiada henti serta membeli barang-barang mewah bernilai luar biasa.

Laporan persidangan mengungkap rincian mencengangkan seputar bagaimana Lam menghabiskan uang jarahannya:

  • Pesta Klub Malam Fantastis: Menghabiskan hingga ratusan ribu dolar AS atau lebih dari Rp 10 miliar hanya dalam satu malam di kelab malam eksklusif.
  • Koleksi Supercar Langka: Membeli deretan mobil sport mewah termasuk Ferrari, Lamborghini, dan Porsche secara tunai.
  • Sewa Rumah Mewah: Menyewa vila megah bernilai sewa miliaran rupiah per bulan di kawasan elit Amerika Serikat.
  • Barang Koleksi dan Perhiasan: Memborong jam tangan mewah berhias berlian serta tas bermerek bernilai miliaran rupiah.

Ancaman Hukuman dan Pelajaran Keamanan Digital

Kini, seluruh kemewahan tersebut berakhir di balik jeruji besi. FBI bersama Departemen Kehakiman AS berhasil melacak pola transaksi di blockchain dan menyita puluhan aset mewah, rekening bank, serta sisa mata uang kripto yang belum sempat dicairkan. Lam kini menghadapi ancaman hukuman penjara puluhan tahun atas tuduhan konspirasi penipuan kawat (wire fraud) dan tindak pidana pencucian uang.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi para pelaku industri kripto global bahwa jejak digital kejahatan finansial di dunia kripto tidak sepenuhnya anonim dan akan selalu dapat diendus oleh penegak hukum modern.

Malone Lam (22) asal Singapura kini diadili di AS atas peretasan kripto senilai US$260 juta. Pelaku sempat hidup super mewah sebelum akhirnya diringkus FBI.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User