Sep 19, 2026
Nasional

Pejabat Filipina dan China Saling Sindir Terkait Laut China Selatan

Hubungan diplomatik antara Manila dan Beijing kembali berada di titik didih. Pejabat tinggi dari Filipina dan China saling melontarkan pernyataan keras ser

Pejabat Filipina dan China Saling Sindir Terkait Laut China Selatan

Hubungan diplomatik antara Manila dan Beijing kembali berada di titik didih. Pejabat tinggi dari Filipina dan China saling melontarkan pernyataan keras serta sindiran tajam menyusul rentetan insiden dan ketegangan yang terus berulang di perairan sengketa Laut China Selatan.

Perselisihan teranyar ini dipicu oleh saling klaim kedaulatan di sejumlah fitur maritim strategis, termasuk Second Thomas Shoal dan Scarborough Shoal. Kedua negara saling tuduh melanggar hukum internasional dan memicu provokasi yang mengancam stabilitas kawasan Asia Tenggara.

Kronologi Eskalasi Ketegangan Kedua Negara

Gesekan antara armada penjaga pantai kedua negara tidak terjadi dalam semalam. Berikut adalah rangkaian dinamika yang memperkeruh situasi di lapangan:

  1. Konfrontasi Fisik di Laut: Kapal penjaga pantai China berulang kali dilaporkan menghadang, menembakkan meriam air (water cannon), hingga melakukan manuver berbahaya terhadap kapal logistik Filipina yang hendak memasok perbekalan ke BRP Sierra Madre.
  2. Perang Urat Syaraf Diplomatik: Kementerian Luar Negeri Filipina secara rutin melayangkan nota protes diplomatik resmi, sementara Beijing menegaskan bahwa tindakan mereka sah demi menjaga kedaulatan teritorial.
  3. Saling Sindir Pejabat Publik: Manila menuduh Beijing bersikap arogan dan melanggar hukum laut internasional, sedangkan pihak China membalas dengan menuduh Filipina sengaja menciptakan drama politik atas dorongan negara barat.
"Kami tidak akan mundur sejengkal pun dalam mempertahankan hak kedaulatan kami di zona ekonomi eksklusif kami sendiri," tegas salah satu juru bicara keamanan nasional Filipina dalam konferensi pers resminya.

Bantahan Keras dari Pihak Beijing

Menanggapi tuduhan tersebut, Kementerian Luar Negeri China menegaskan bahwa seluruh aktivitas patroli mereka berada di dalam yurisdiksi yang sah. Beijing kembali mengingatkan putusan historis versi mereka dan memperingatkan Filipina agar tidak terus menguji kesabaran China.

Pihak Beijing juga secara terbuka menyindir keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik ini. Mereka menilai Manila hanya menjadi bidak catur dalam strategi geopolitik Washington untuk membendung pengaruh China di kawasan Indo-Pasifik.

"Filipina harus segera menghentikan provokasi dan pelanggaran di wilayah perairan China, serta berhenti mengandalkan kekuatan eksternal untuk menekan kami," demikian pernyataan resmi juru bicara Kemenlu China.

Dampak terhadap Stabilitas Kawasan

Memanasnya retorika antara Filipina dan China menimbulkan kekhawatiran nyata bagi negara-negara anggota ASEAN lainnya. Sengketa yang tak kunjung mereda ini dinilai dapat memicu insiden militer terbuka jika jalur komunikasi darurat tidak diaktifkan secara efektif.

Beberapa poin kunci yang menjadi sorotan analis keamanan regional meliputi:

  • Implementasi UNCLOS 1982: Filipina bersandar pada Konvensi PBB tentang Hukum Laut dan putusan arbitrase 2016, sementara China tetap menolak mengakui putusan tersebut.
  • Perjanjian Pertahanan Bersama (MDT): Pakta pertahanan antara Filipina dan AS sewaktu-waktu bisa terpicu jika terjadi serangan bersenjata terhadap aset militer Filipina.
  • Negosiasi Code of Conduct (CoC): Pembahasan pedoman tata perilaku maritim antara ASEAN dan China terancam berjalan lambat akibat rendahnya rasa saling percaya.

Hingga kini, situasi di Laut China Selatan masih sangat dinamis. Kedua belah pihak tetap menyiagakan kapal patroli mereka di titik-titik rawan, sembari menunggu langkah diplomasi konkret untuk meredakan tensi yang kian membara.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User