Sep 19, 2026
Hukum

PBB — AS Diduga Lakukan Kejahatan Perang Usai Serang Sekolah Iran

Sebuah kabar mengejutkan dan memilukan datang dari pentas politik internasional. Misi pencari fakta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara resmi menyataka

PBB — AS Diduga Lakukan Kejahatan Perang Usai Serang Sekolah Iran

Sebuah kabar mengejutkan dan memilukan datang dari pentas politik internasional. Misi pencari fakta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara resmi menyatakan adanya indikasi kuat bahwa Amerika Serikat telah melakukan kejahatan perang dalam serangkaian serangan udara di Iran. Temuan ini langsung menjadi sorotan tajam dunia, mengingat salah satu serangan tersebut menghantam sebuah sekolah dasar dan menewaskan seratusan anak-anak yang tak berdosa.

Laporan PBB yang dirilis pada hari Kamis tersebut menegaskan bahwa ada alasan yang masuk akal untuk memercayai keterlibatan militer Negeri Paman Sam dalam aksi mematikan itu. Misi ini menyoroti dua insiden utama yang dinilai melanggar hukum humaniter internasional secara terstruktur, di mana infrastruktur sipil menjadi sasaran empuk dalam kampanye tekanan militer Washington terhadap Tehran.

Tragedi Sekolah Minab yang Menewaskan Seratus Lebih Anak

Fokus utama dari penyelidikan tim PBB merujuk pada insiden tragis yang terjadi pada 28 Februari lalu. Sebuah serangan udara menghantam Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh yang terletak di wilayah Minab, Iran selatan. Laporan tersebut mencatat bahwa serangan mematikan ini telah menewaskan lebih dari 120 anak-anak yang sedang menimba ilmu.

Tidak hanya sekolah, tim PBB juga menemukan bukti kuat atas serangan lain yang menyasar sebuah pusat olahraga masyarakat. Kedua lokasi ini murni merupakan fasilitas sipil yang seharusnya dilindungi di bawah hukum perang internasional. "Tindakan menghantam fasilitas pendidikan dan olahraga di mana warga sipil berkumpul adalah bentuk pelanggaran berat yang tidak dapat dibenarkan atas alasan militer apa pun," ungkap narasi analitis dalam temuan tim PBB tersebut.

Ringkasan Insiden yang Diselidiki PBB

Berikut adalah gambaran umum dari dua insiden utama yang menjadi fokus investigasi dugaan kejahatan perang oleh tim PBB:

Fasilitas Sasaran Lokasi Insiden Dampak Korban Sipil Status Pengakuan AS
SD Shajareh Tayyebeh Minab, Iran Selatan > 120 anak-anak tewas Diklaim ada korelasional, dianggap "kesalahan"
Pusat Olahraga Sipil Iran Warga sipil tewas dan luka-luka Belum memberikan respons resmi

Respons Nyeleneh Gedung Putih dan Sikap Donald Trump

Reaksi dari pihak Amerika Serikat sendiri dinilai sangat minim dan cenderung meremehkan tuduhan berat ini. Pemerintah AS sampai saat ini belum secara formal mengklaim bertanggung jawab penuh atas jatuhnya ratusan korban jiwa di sekolah Minab tersebut. Namun, jejak pengakuan implisit sempat terlontar dari pejabat militer mereka di hadapan publik.

Pada bulan Mei lalu, Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, memberi kesaksian di depan Komite Angkatan Bersenjata DPR AS. Ia mengakui bahwa serangan di Minab memang berkorelasi langsung dengan jadwal serangan udara militer AS yang diluncurkan pada hari tersebut.

Sementara itu, Presiden Donald Trump justru memberikan tanggapan yang terkesan santai saat dikonfirmasi oleh awak media pada bulan Juni lalu.

"Tidak ada orang yang melakukan hal itu secara sengaja. Kesalahan bisa saja terjadi dalam situasi perang seperti ini," ujar Presiden Donald Trump saat mengomentari tragedi yang menewaskan ratusan siswa tersebut.

Sikap Trump ini mencerminkan pola kepemimpinannya yang agresif dan sering kali mengabaikan norma-norma perang internasional. Bahkan dalam berbagai kesempatan sebelumnya, Trump secara terbuka menyatakan bahwa ia tidak terlalu peduli jika ancamannya untuk menggempur infrastruktur sipil Iran bakal dikategorikan sebagai kejahatan perang oleh badan dunia.

Pelanggaran Hukum Internasional dan Tekanan Politik

Kampanye militer yang dilancarkan oleh pemerintahan AS di bawah kepemimpinan Trump dinilai telah menabrak batas-batas etika hukum perang. Penyerangan terhadap infrastruktur sipil—seperti sekolah, pusat olahraga, hingga fasilitas publik lainnya—digunakan sebagai instrumen tekanan politik tingkat tinggi terhadap rezim Tehran.

Hingga saat ini, baik pihak Gedung Putih maupun Pentagon masih memilih bungkam dan belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan konfirmasi mengenai laporan terbaru dari misi pencari fakta PBB tersebut. Publik internasional kini menunggu langkah konkret dari PBB dan Mahkamah Internasional untuk menindaklanjuti temuan kejahatan perang ini agar keadilan bagi para korban anak-anak dapat ditegakkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User