Upaya transisi energi bersih di wilayah Jawa Tengah kian mendapat perhatian serius dari kalangan akademisi. Guru Besar Fisika Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro (Undip), Prof. Dr. Agus Setyawan, S.Si., M.Si., menegaskan bahwa pemanfaatan potensi panas bumi (geotermal) di kawasan Gunung Ungaran memiliki nilai strategis tinggi untuk memangkas emisi karbon sektor ketenagalistrikan nasional.
Kawasan Gunung Ungaran yang terletak melintasi Kabupaten Semarang dan Kabupaten Kendal menyimpan cadangan energi hijau melimpah. Menurut kajian akademis, pemanfaatan energi panas bumi ini tidak hanya memperkuat keandalan pasokan listrik interkoneksi Jawa-Bali, tetapi juga menjadi pilar krusial dalam merealisasikan target Net Zero Emission (NZE) Indonesia pada 2060 mendatang.
"Pengembangan potensi panas bumi Gunung Ungaran bukan sekadar proyek infrastruktur listrik, melainkan langkah nyata dalam dekarbonisasi energi. Geotermal adalah energi baseload yang stabil, ramah lingkungan, dan berkelanjutan jika dikelola dengan standar teknologi tinggi serta mengutamakan kelestarian alam," ujar Prof. Agus Setyawan.
Tahapan Kronologis Pengembangan Kawasan Panas Bumi
Pengembangan lapangan panas bumi memerlukan roadmap riset dan tata kelola teknis yang sangat terukur guna meminimalkan risiko lingkungan. Berdasarkan pemetaan para pakar energi, ada empat fase penting dalam merealisasikan potensi ini:
- Fase Studi Geologi dan Geofisika: Melakukan pemetaan struktur batuan bawah permukaan, sistem reservoir, dan potensi fluida termal untuk menentukan titik prospek terbaik di lereng Gunung Ungaran.
- Fase Pengeboran Eksplorasi: Memvalidasi temperatur serta permeabilitas reservoir guna memastikan nilai keekonomian dan kapasitas daya yang dapat dibangkitkan secara stabil.
- Fase Studi AMDAL dan Dialog Publik: Melibatkan masyarakat setempat, pemerintah daerah, dan pegiat lingkungan untuk memastikan aspek keselamatan hidrologi serta mitigasi kebencanaan.
- Fase Konstruksi dan Integrasi Jaringan: Membangun fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) terintegrasi yang siap menyalurkan listrik hijau ke gardu induk transmisi.
Manfaat Ganda bagi Lingkungan dan Ekonomi Regional
Prof. Agus memaparkan bahwa diversifikasi energi ke panas bumi memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan energi fosil. Selain tidak menghasilkan emisi pembakaran batu bara, PLTP memiliki tapak lahan yang relatif efisien sehingga kelestarian hutan lindung di sekitar Gunung Ungaran tetap terjaga.
Adapun manfaat strategis yang dihadirkan meliputi sejumlah poin kunci berikut:
- Reduksi Karbon Signifikan: Mengurangi jutaan ton emisi karbon dioksida per tahun dengan menggantikan konsumsi pembangkit berbasis bahan bakar fosil.
- Kemandirian Energi Daerah: Mengoptimalkan potensi sumber daya alam lokal tanpa bergantung pada suplai pasokan batu bara dari luar pulau.
- Pertumbuhan Ekonomi Komunitas: Menciptakan lapangan kerja lokal dan mendorong skema direct use panas bumi untuk sektor agrowisata dan pengeringan hasil tani.
Dengan sinergi antara kajian sains perguruan tinggi, kepatuhan regulasi oleh pengembang, serta dukungan terbuka dari masyarakat setempat, pemanfaatan panas bumi Gunung Ungaran diharapkan segera memasuki fase realisasi konkret demi menjamin ketahanan energi hijau masa depan.
Comments (0)