Sep 18, 2026
Nasional

JAKARTA — Pengawasan Keselamatan Pasien PTM Jangka Panjang Harus Ditingkatkan

Pengobatan penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, hingga kanker memerlukan napas panjang. Berbeda dengan peny

JAKARTA — Pengawasan Keselamatan Pasien PTM Jangka Panjang Harus Ditingkatkan

Pengobatan penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, hingga kanker memerlukan napas panjang. Berbeda dengan penyakit akut yang sembuh dalam hitungan hari, pengobatan PTM kerap berlangsung seumur hidup. Di sinilah aspek keselamatan pasien (patient safety) menjadi pilar utama yang tidak boleh diabaikan begitu saja oleh fasilitas kesehatan maupun keluarga pasien.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, PTM diperkirakan menyumbang lebih dari 73% dari total kematian di Indonesia. Tingginya angka ini sejalan dengan jumlah pasien yang menggantungkan hidupnya pada konsumsi obat harian. Namun, konsumsi obat-obatan dalam jangka panjang tanpa evaluasi ketat justru menyimpan potensi bahaya baru, seperti interaksi obat, gangguan fungsi organ sekunder, hingga ketidakpatuhan berobat akibat kejenuhan.

"Keselamatan pasien pada terapi PTM jangka panjang bukan sekadar mencegah kesalahan pemberian obat saat di apotek. Ini mencakup pemantauan berkala terhadap dampak pengobatan bagi organ vital lain seperti ginjal dan hati," tegas praktisi kesehatan masyarakat dalam diskusi kesehatan di Jakarta.

Mengapa Keselamatan Pasien PTM Begitu Krusial?

Pasien PTM sering kali mengonsumsi lebih dari satu jenis obat atau mengalami kondisi polifarmasi. Sebagai contoh, seorang penderita diabetes kerap juga mengonsumsi obat hipertensi dan penurun kolesterol sekaligus. Tanpa adanya pemantauan terpadu, risiko terjadinya interaksi obat yang merugikan bisa meningkat hingga 40% pada pasien lansia.

Selain itu, efektivitas obat juga bisa berubah seiring berjalannya waktu. Dosis yang diberikan tiga tahun lalu belum tentu masih aman atau efektif untuk kondisi pasien hari ini. Oleh karena itu, sistem pengawasan pengobatan jangka panjang harus digeser dari sekadar "rutinitas mengambil obat" menjadi "evaluasi medis aktif".

Perbandingan Pendekatan Pengobatan PTM

Berikut adalah perbandingan antara pendekatan pengelolaan medis konvensional dengan pendekatan yang berfokus pada keselamatan pasien:

Aspek Evaluasi Pendekatan Konvensional Pendekatan Patient Safety
Pemantauan Obat Menunggu keluhan dari pasien Audit obat berkala setiap 3-6 bulan
Pemeriksaan Lab Dilakukan hanya saat kondisi memburuk Skrining fungsi ginjal & hati rutin tahunan
Peran Pasien Penerima instruksi pasif Mitra aktif dengan edukasi kemandirian

Tahapan Penting Menjaga Safety Pasien PTM

Untuk memastikan pasien dapat menjalani terapi jangka panjang dengan aman dan efektif, para tenaga medis disarankan menerapkan urutan langkah evaluasi berikut secara berkala:

  1. Rekonsiliasi Obat Berkala: Dokter dan apoteker wajib mencocokkan seluruh obat yang dikonsumsi pasien, termasuk suplemen atau herbal, untuk menghindari efek samping berbahaya.
  2. Skrining Fungsi Organ Vital: Melakukan pemeriksaan laboratorium secara rutin setidaknya 1 kali dalam 6 bulan untuk memantau fungsi ginjal dan hati.
  3. Edukasi Dosis dan Gejala Bahaya: Memastikan pasien dan pendamping (caregiver) memahami tanda-tanda efektivitas obat berlebih, seperti hipoglikemia pada penderita diabetes.
  4. Evaluasi Psikososial: Menilai tingkat kejenuhan pasien dalam mengonsumsi obat agar tidak terjadi penghentian pengobatan secara mendadak (drop-out).

Pada akhirnya, menjaga keselamatan pasien PTM bukan hanya tugas dokter di rumah sakit, melainkan sinergi bersama antara apoteker, pasien, dan dukungan keluarga di rumah. Pengobatan yang aman akan meningkatkan kualitas hidup penderita PTM secara signifikan dalam jangka panjang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User