Sep 19, 2026
Hukum

Pakar Sebut Ketidaktegasan Pemerintah Picu Lonjakan Krisis Ekoansietas Publik

Isu perubahan iklim kini bukan lagi sekadar ancaman fisik berupa kenaikan suhu global atau kebakaran hutan hebat, melainkan telah merambah ke ranah kesehat

Pakar Sebut Ketidaktegasan Pemerintah Picu Lonjakan Krisis Ekoansietas Publik

Isu perubahan iklim kini bukan lagi sekadar ancaman fisik berupa kenaikan suhu global atau kebakaran hutan hebat, melainkan telah merambah ke ranah kesehatan mental masyarakat. Fenomena kecemasan iklim atau yang dikenal sebagai écoanxiété (ekoansietas) kian melonjak di berbagai belahan dunia. Namun, sebuah kritik tajam mencuat bahwa ketakutan mendalam ini bukan hanya dampak langsung dari bencana lingkungan semata, melainkan buah dari ketidaktegasan dan lambannya respons politik pemerintah dalam mengambil tindakan nyata.

Dilema Penanganan Medis atas Krisis Kebijakan

Ketika kebakaran hutan dahsyat melanda selama musim panas, pemerintah di berbagai negara kerap meluncurkan program pendampingan psikologis guna membantu warga meredam luapan emosi kecemasan mereka. Alih-alih memberikan kepastian kebijakan jangka panjang, pendekatan yang diambil justru terkesan menggeser persoalan sistemik menjadi masalah kejiwaan individu.

Jurnalis lingkungan Stéphane Foucart menyoroti bahwa upaya memedikalisi atau menganggap ketakutan rasional masyarakat sebagai gangguan psikologis semata mencerminkan kegagalan sebuah sistem kekuasaan.

"Menganggap kecemasan rasional masyarakat sebagai masalah kejiwaan di tengah ketiadaan respons serius terhadap bencana adalah indikasi nyata dari sekaratnya sebuah sistem politik," tulis Foucart dalam analisisnya.

Kronologi Meningkatnya Tekanan Mental Terkait Iklim

Kecemasan ekologis berkembang seiring rentetan peristiwa yang memperlihatkan jurang besar antara realitas krisis dan respons pengambil kebijakan. Berikut adalah alur eskalasi yang terjadi di tengah publik:

  1. Gelombang Bencana Ekstrem: Terjadinya kebakaran hutan berskala masif, banjir bandang, dan anomali cuaca ekstrem yang merusak ruang hidup warga secara beruntun.
  2. Minimnya Kebijakan Konkret: Peluncuran janji-janji iklim politis yang minim implementasi nyata di lapangan, memicu keraguan publik terhadap komitmen pengurangan emisi.
  3. Medikalisasi Respons Publik: Pemerintah merespons kekhawatiran warga dengan kampanye manajemen stres emosional, alih-alih mengumumkan moratorium atau reformasi industri perusak lingkungan.
  4. Kekecewaan dan Ekoansietas Kronis: Lahirnya rasa putus asa massal karena masyarakat merasa ditinggalkan berhadapan langsung dengan ancaman masa depan tanpa perlindungan regulasi yang memadai.

Kecemasan Rasional yang Butuh Aksi Nyata

Para pakar lingkungan menegaskan bahwa rasa cemas yang dialami publik adalah respons yang sepenuhnya logis terhadap kerusakan biosfer. Mengobati rasa cemas warga dengan sesi konseling psikologis tanpa menghentikan akar perusakan iklim diibaratkan seperti memberi obat penenang kepada penumpang di dalam kapal yang sedang bocor parah.

Untuk menekan laju krisis ekoansietas, masyarakat sesungguhnya tidak hanya membutuhkan petunjuk pengelolaan stres, melainkan langkah-langkah struktural berikut:

  • Transisi Energi Berkeadilan: Penghentian subsidi energi fosil secara bertahap dan percepatan energi terbarukan.
  • Penegakan Hukum Lingkungan: Tindakan tegas terhadap korporasi dan aktivitas industri yang merusak ekosistem hutan.
  • Transparansi Kebijakan Publik: Pelibatan masyarakat dalam perencanaan mitigasi bencana iklim di tingkat lokal maupun nasional.

Selama para pembuat kebijakan terus bersikap pasif di hadapan bencana alam yang nyata, kecemasan publik akan terus membengkak menjadi bentuk ketidakpercayaan yang akut terhadap institusi negara.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User