Aug 25, 2026
entertainment

Nin Enuy, Perempuan 81 Tahun yang Masih Menyimpan Cinta di Hati

Pagi itu, sinar matahari baru saja merayap pelan di sela-sela dedaunan singkong di halaman belakang. Di dapur sederhana berukuran tiga kali empat meter, sesosok perempuan bersarung batik tengah menumi...

Nin Enuy, Perempuan 81 Tahun yang Masih Menyimpan Cinta di Hati

Pagi itu, sinar matahari baru saja merayap pelan di sela-sela dedaunan singkong di halaman belakang. Di dapur sederhana berukuran tiga kali empat meter, sesosok perempuan bersarung batik tengah menumis sambal. Gerakannya cekatan, tangannya lincah memotong cabai, seolah usia hanyalah angka yang tidak pernah ia anggap serius. Di kampung itu, semua orang mengenalnya dengan panggilan akrab Nin Enuy. Namun di atas kertas identitas, ia adalah Nurhayati, perempuan kelahiran 21 Oktober 1945 yang kini menginjak usia 81 tahun. Kata renta tidak pantas disematkan padanya.

Nin Enuy mengisahkan bahwa ia tidak pernah ingin berhenti bergerak. Bekerja, baginya, adalah doa yang paling sederhana sekaligus cara terbaik merawat jiwa. “Kalau saya berhenti, siapa lagi yang akan menghidupkan rumah ini?” katanya sambil tertawa renyah, memperlihatkan sisa gigi yang masih utuh di usianya yang tak lagi muda.

Perjalanan Hidup yang Tidak Pernah Mudah

Perjalanan hidup perempuan ini tidak pernah mulus. Ia lahir di masa penjajahan, tumbuh dalam kesederhanaan yang menuntutnya berjuang sejak kecil. Ia menikah muda, kemudian bergulat dengan kerasnya kehidupan sebagai istri petani. Sawah digarap dari subuh hingga petang, hasil panen ditabung sedikit demi sedikit untuk biaya sekolah anak-anaknya.

Air mata sempat beberapa kali mengunjungi hidupnya. Ketika harga gabah anjlok, ketika musim kemarau datang terlalu panjang, dan terutama ketika suami tercintanya berpulang sepuluh tahun lalu. Namun perempuan mungil itu memilih bangkit. “Menangis boleh, tapi tidak boleh lama-lama,” ujarnya mengenang masa-masa terberat itu. “Yang sudah pergi pasti ingin melihat kita tetap berdiri.”

Cinta yang Tidak Lekang oleh Waktu

Di balik ketangguhannya, tersimpan kisah cinta yang mengharukan. Meski suaminya telah tiada, Nin Enuy mengaku masih sering “berbicara” dengan almarhum, terutama di malam hari ketika suasana rumah hening. Kebiasaan itu ia lakukan sambil memandang foto pernikahan mereka yang menggantung di dinding kamar.

“Saya masih sering mengajaknya cerita, soal cucu, soal panen, soal apa saja,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca. “Cinta itu tidak hilang, hanya pindah tempat. Dari dunia nyata ke dalam doa.”

Yang membuat warga kampung tersentuh, di usia senjanya Nin Enuy justru menjadi jembatan cinta bagi sesama lansia. Setiap Minggu sore, rumahnya berubah menjadi ruang berkumpul. Para kakek dan nenek datang untuk mengobrol, bernyanyi lagu-lagu lama, atau sekadar menikmati teh hangat buatannya. Nin Enuy percaya, tidak ada usia untuk merasa kesepian — dan tidak ada usia pula untuk berhenti saling menyayangi.

Inspirasi yang Hidup di Sekampung

Keteladanan perempuan ini menyebar pelan tapi pasti. Anak-anak muda di kampung kerap mampir untuk belajar memasak, meminta doa, atau sekadar mendengarkan kisah-kisah masa lalunya yang penuh hikmah. Para tetangga mengaku takjub melihat semangatnya yang tak pernah padam. “Beliau itu seperti lentera di kampung kami,” ujar seorang tetangga. “Selama beliau masih tersenyum, kami merasa tidak ada yang mustahil.”

Ditanya soal rahasia awet muda, Nin Enuy hanya tertawa. Baginya tidak ada ramuan khusus, tidak ada obat ajaib. Yang ia miliki hanyalah kesederhanaan: makan secukupnya, bekerja dengan senang hati, dan selalu menyimpan rasa syukur. Ia juga rajin ke masjid setiap subuh, mempercayai bahwa hati yang dekat dengan Tuhan tidak akan mudah keriput.

Kini, setiap pagi masih akan terlihat sosoknya menyapu halaman, menimba air, dan menata dagangan sayur di emperan rumah. Tetangga yang lewat selalu disapanya dengan senyum. Pada usia 81 tahun, Nin Enuy membuktikan bahwa cinta, semangat, dan mimpi tidak mengenal kata pensiun.

“Jangan tanyakan berapa umur saya, tapi tanyakan berapa banyak hal yang masih bisa saya lakukan hari ini,” katanya menutup obrolan. “Selama masih bisa bergerak, selama itu pula cinta dan semangat hidup tidak boleh berhenti.”

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User