Di sudut dapur beratap seng kampung itu, asap teh hangat mengepul pelan menembus celah jendela kayu. Se pas tangan kurus namun tangkas merangkai daun pandan menjadi anyaman sederhana. Nurhayati—yang akrab disapa Nin Enuy—duduk bersila di lantai semen yang masih basah embun pagi. Usianya telah melangkah ke angka 78, namun sorot matanya masih berkilau seperti remaja yang baru saja menemukan surat cinta di dalam laci. Di sebelahnya, Sarman—sang teman seperjalanan di masa senja—menyapukan sapu lidi dengan gerakan lambat namun penuh perhatian. Tak ada kata-kata romantis yang terucap. Hanya senyum tipis dan hembusan napas yang serempak, seolah waktu telah mencukupkan mereka untuk saling mengerti tanpa banyak bicara.
Ketika Senja Berbicara tentang Cinta
Perjalanan hidup Nin Enuy bukanlah kisah dongeng yang selalu manis. Di balik layar keramahan dan senyumnya yang khas, tersimpan jejak air mata dan kerinduan yang telah mengeras menjadi tekad. Ditinggal sang suami beberapa dekade silam, ia harus berjuang seorang diri membesarkan anak-anaknya. Mimpi-mimpi sederhana tentang kebersamaan seolah terkubur bersama waktu. Namun takdir punya cara unik untuk mengisahkan babak baru. Pertemuannya dengan Sarman di sebuah pengajian kampung tiga tahun lalu terasa seperti halaman buku yang terlupakan akhirnya terbuka kembali.
"Saya pikir cuma anak muda yang berhak merasa deg-degan. Ternyata di usia ini, jantung ini masih bisa berdetak kencang ketika ada yang ingat saya suka kopi pahit tanpa gula," ucapnya sambil tertawa pelan.
Bagi Nin Enuy, bangkit dari kesendirian bukanlah hal yang mudah. Tubuhnya memang masih gesit, namun ada kerapuhan lain yang tak terlihat: ketakutan akan penolakan, rasa malu, dan bayangan masa lalu yang menghantui. Namun Sarman datang dengan kesabaran seorang petani yang telah terbiasa menunggu musim tanam. Perlahan, ia merangkai kembali kepercayaan yang sempat rapuh.
Di Balik Tawa, Perjuangan yang Terus Berlanjut
Tak banyak yang tahu bahwa cinta di usia senja juga butuh keberanian. Di tengah masyarakat yang kerap menganggap lansia sebaiknya pasrah pada kesendirian, Nin Enuy dan Sarman memilih menyentuh hati dengan cara mereka sendiri. Mereka tak menikah secara formal—sesuatu yang tabu di mata sebagian orang. Namun bagi keduanya, kebersamaan yang lahir dari kesederhanaan jauh lebih bermakna daripada selembar surat nikah yang dipajang di dinding.
Setiap pagi, mereka berbagi tugas: Sarman membeli sayur di pasar tradisional, Nin Enuy memasak dengan bumbu andalannya. Di malam hari, mereka duduk di teras rumah sambil mendengarkan siaran radio dan mengenang masa lalu. Tak ada harta berlimpah, tak ada perjalanan liburan ke luar negeri. Hanya secangkir kopi, sepotong tempe goreng, dan cerita-cerita lama yang terus diulang namun tak pernah membosankan. "Kami ini seperti dua pohon tua yang akarnya sudah saling menyilang. Memang tak bisa lagi berbunga lebat, tapi naungan kami cukup untuk saling melindungi," tutur Sarman dengan suara bergetar.
Momen Mengharukan di Sudut Kampung
Kisah mereka menjadi inspirasi bagi warga sekitar. Anak-anak muda yang dulu sibuk dengan dunianya sendiri kini sering mampir sekadar untuk minum teh dan mendengar cerita dari sang lansia. Ada momen mengharukan ketika pada ulang tahun Nin Enuy yang ke-78 tahun lalu, Sarman menyajikan kue buatan sendiri—gagal mengembang dan sedikit gosong di tepinya. "Itu kue paling jelek yang pernah saya lihat, tapi rasanya manis sekali karena dibuat dengan tangan yang sudah mulai gemetar," kenang Nin Enuy. Air mata berkaca-kaca di pelupuk matanya saat mengenang detik itu.
"Cinta itu bukan untuk yang sempurna, tapi untuk yang mau bertahan. Di usia kami, bertahan artinya bangun pagi dan masih melihat orang yang kita sayang ada di samping."
Bagi pasangan ini, cinta bukanlah tentang pemberian mewah, melainkan kehadiran yang konsisten dan perhatian kecil yang dilakukan setiap hari. Di balik setiap tawa yang terdengar dari rumah berdinding biru itu, ada pemahaman bahwa mimpi tak selalu harus besar. Kadang, cukup memiliki seseorang yang mengingat obatmu, yang menarik selimutmu saat tidur, yang diam-diam menyisakan potongan ikan terbaik di piringnya untukmu.
Saat matahari mulai condong ke barat, Nin Enuy berdiri dari duduknya dengan gesit—seolah usia hanyalah angka di atas kertas. Ia merapikan kemeja Sarman yang kusut, dan sang lelaki membalas dengan menepuk punggungnya lembut. Di kampung itu, di antara deretan rumah sederhana dan jalan setapak yang berlumpur saat hujan, tumbuhlah sesuatu yang langka: keyakinan bahwa cinta tak mengenal batas waktu. Perjalanan hidup memang penuh liku, namun di ujung jalan yang berkabut, masih ada tangan yang menanti untuk digenggam. Dan bagi Nin Enuy, tangan itu cukup hangat untuk menemaninya menutup hari-hari yang tersisa dengan tenang dan penuh syukur.
Comments (0)