Di tengah udara dingin Edmonton yang menusuk hingga ke tulang, ada kehangatan yang justru tumbuh di dalam sebuah ruangan sederhana. Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, seorang perempuan berhijab tersenyum haru, matanya berkaca-kaca saat mendengar lantunan ayat suci menggema untuk pertama kalinya di Masjid Al-Ikhlas Centre. Perempuan itu adalah Nikita Willy, aktris yang dikenal luas di Tanah Air, namun pada hari itu ia hadir bukan sebagai bintang, melainkan sebagai saksi perjalanan sebuah mimpi yang akhirnya terwujud.
Peresmian Masjid Al-Ikhlas Centre pada akhir pekan lalu menjadi momen bersejarah, bukan hanya bagi komunitas Muslim di Kanada Barat, tetapi juga bagi seluruh diaspora Indonesia yang merantau jauh dari kampung halaman. Masjid ini merupakan yang pertama di wilayah tersebut, diinisiasi oleh Muslim Community in Edmonton (IMCE) bersama Cinta Quran Foundation. Namun di balik kemegahan acara tersebut, tersimpan kisah-kisah perjuangan yang jarang terlihat oleh publik.
Perjalanan Panjang Sebuah Impian
Berbicara tentang masjid ini, ketua IMCE, Ahmad Fauzi, mengisahkan bahwa ide pembangunan telah dimulai sejak lima tahun lalu. Saat itu, komunitas Muslim Indonesia di Edmonton hanya berjumlah puluhan keluarga. Mereka biasa melaksanakan salat Jumat di ruang sewaan sebuah gereja tua, dengan karpet yang digelar di lantai kayu berderit. "Kami selalu bermimpi memiliki tempat sendiri, tempat yang benar-benar menjadi rumah bagi kami," tuturnya dengan suara bergetar.
Perjalanan itu tidak mudah. Pengumpulan dana dilakukan dari pintu ke pintu, dari acara bazar kecil hingga penggalangan daring. Banyak di antara mereka yang bekerja sebagai buruh pabrik atau sopir taksi, namun tetap menyisihkan penghasilan untuk mimpi bersama. "Saya ingat, ada seorang ibu tua yang setiap bulan menyumbang 20 dolar dari uang pensiunnya. Ia bilang, 'Ini untuk anak cucu kita di sini, biar mereka tidak lupa dengan akar mereka'," kenang Ahmad sambil mengusap matanya.
Nikita Willy: Bukan Sekadar Tamu Kehormatan
Kehadiran Nikita Willy di tengah acara bukanlah sekadar seremonial belaka. Ia datang lebih awal, membantu menyiapkan hidangan untuk para tamu, dan duduk di lantai bersama anak-anak komunitas saat sesi dongeng Islami. "Saya terharu melihat semangat mereka. Ini bukan tentang gedung megah, tapi tentang kebersamaan yang tulus," ujar Nikita saat ditemui di sela acara.
Bagi Nikita, momen ini menjadi pengingat bahwa perjuangan untuk mempertahankan iman di perantauan adalah perjuangan yang nyata dan berat. "Saya sering membayangkan bagaimana rasanya jauh dari keluarga dan tanah air. Tapi melihat mereka di sini, dengan senyum dan air mata bahagia, saya belajar bahwa rumah itu bukan selalu tentang tempat, tapi tentang orang-orang yang kita cintai dan iman yang kita jaga," tambahnya dengan mata berkaca-kaca.
"Saya terharu melihat semangat mereka. Ini bukan tentang gedung megah, tapi tentang kebersamaan yang tulus." — Nikita Willy
Di Balik Layar: Kerja Keras Relawan
Di balik layar acara yang berjalan lancar, ada puluhan relawan yang bekerja tanpa lelah sejak subuh. Mereka memasak, merapikan saf, mengatur parkir, hingga menjaga anak-anak agar orang tua mereka bisa khusyuk beribadah. Salah satunya adalah Siti Rahma, seorang ibu tiga anak yang baru pindah ke Edmonton dua tahun lalu. "Ini kali pertama saya merasa benar-benar punya komunitas. Sebelum ada masjid ini, saya sering merasa kesepian di hari Jumat. Sekarang, saya punya keluarga baru," katanya sambil menyeka air mata.
Masjid Al-Ikhlas Centre tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah. Rencananya, bangunan ini juga akan menjadi pusat kegiatan sosial, seperti kelas bahasa Inggris untuk pendatang baru, bimbingan belajar anak-anak, dan dapur umum untuk tunawisma. "Kami ingin masjid ini menjadi jembatan, bukan hanya bagi umat Islam, tapi bagi semua orang yang membutuhkan," jelas Ahmad Fauzi.
Momen yang Menyentuh Hati
Puncak acara terjadi saat sesi pemotongan pita dan pembukaan pintu masjid. Semua orang berbaris, saling bergandengan tangan, dan melangkah masuk bersama-sama. Di dalam, lantai yang baru dipasang masih berbau kayu, dan karpet merah membentang rapi. Saat imam memulai salat berjamaah pertama, suasana hening namun penuh haru. Beberapa jamaah terlihat menangis, termasuk Nikita Willy yang duduk di saf belakang.
"Ini adalah momen yang tidak akan pernah saya lupakan. Saya melihat sendiri bagaimana mimpi sederhana bisa menjadi kenyataan dengan kerja keras dan doa," tulisnya dalam sebuah catatan pribadi yang kemudian dibagikan kepada panitia. Ia juga berjanji akan kembali ke Edmonton untuk mengisi kajian rutin di masjid tersebut.
Kisah Masjid Al-Ikhlas Centre adalah kisah tentang orang-orang biasa yang melakukan hal luar biasa. Mereka tidak memiliki dana melimpah atau pengaruh besar, tetapi mereka memiliki keyakinan dan kebersamaan yang tidak tergoyahkan. Di tengah dinginnya Kanada, mereka berhasil membangun kehangatan yang akan terus menyala untuk generasi mendatang. Sebuah inspirasi bahwa mimpi, sekecil apa pun, jika dirawat dengan cinta dan doa, akan tumbuh menjadi rumah bagi banyak jiwa.
Bagi Nikita Willy, perjalanan ke Edmonton bukan sekadar menghadiri acara. Ia pulang dengan membawa pelajaran tentang arti perjuangan, tentang ketulusan, dan tentang bagaimana sebuah bangunan sederhana bisa menjadi simbol harapan yang sangat besar. "Saya bangga menjadi bagian dari momen ini. Ini bukan akhir, tapi awal dari sesuatu yang indah," tutupnya dengan senyum hangat, sebelum melangkah keluar ke udara dingin, membawa kehangatan di dalam hatinya.
Comments (0)