Aug 25, 2026
entertainment

Nikita Willy dan Kisah di Balik Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat

Udara Edmonton sore itu dingin hingga menyentuh tulang, tetapi langkah Nikita Willy tetap ringan saat ia menapaki halaman sebuah bangunan sederhana yang baru saja diresmikan. Di balik pintunya, ratusa...

Nikita Willy dan Kisah di Balik Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat

Udara Edmonton sore itu dingin hingga menyentuh tulang, tetapi langkah Nikita Willy tetap ringan saat ia menapaki halaman sebuah bangunan sederhana yang baru saja diresmikan. Di balik pintunya, ratusan pasang mata menanti dengan haru. Bagi perempuan yang telah lama berkiprah di layar kaca Tanah Air ini, momen tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan perjalanan batin yang mempertemukannya dengan mimpi ribuan perantau Indonesia di Kanada Barat.

Rumah ibadah bernama Masjid Al-Ikhlas Centre itu akhirnya berdiri tegak setelah bertahun-tahun hanya menjadi angan-angan. Masjid ini tercatat sebagai masjid Indonesia pertama di kawasan Kanada Barat, buah kolaborasi antara Muslim Community in Edmonton (IMCE) dan Cinta Quran Foundation. Bagi komunitas diaspora yang selama ini beribadah berpindah-pindah dari satu ruang sewaan ke ruang lainnya, kehadiran masjid tersebut terasa seperti menemukan kembali sepotong tanah air yang hilang.

Mimpi yang Dirajut Ribuan Kilometer dari Rumah

Kisah masjid ini bermula dari kerinduan yang sederhana. Para perantau Indonesia di Edmonton — pekerja, pelajar, dan keluarga kecil yang meniti hidup di negeri empat musim — selama bertahun-tahun hanya bisa berkumpul di garasi, ruang serbaguna, atau sudut apartemen untuk salat berjamaah dan mengaji. Dari kebersamaan yang terbatas itu, lahirlah tekad untuk memiliki rumah ibadah sendiri. Rupiah demi rupiah, dolar demi dolar, mereka sisihkan hingga mimpi itu perlahan menemukan wujudnya.

Nikita mengisahkan betapa dirinya terenyuh mendengar perjuangan tersebut. Baginya, kehadiran di peresmian itu bukan tentang selebritas yang datang memberi sambutan, melainkan tentang seorang hamba yang ikut merasakan getir dan manisnya perjuangan saudara seimannya di perantauan.

"Saya tidak bisa menahan air mata. Di tempat sejauh ini, ternyata ada saudara-saudara kita yang berjuang membangun rumah untuk pulang kepada Allah. Ini menyentuh sekali," ujar Nikita dengan suara bergetar.

Air Mata di Balik Pintu Masjid

Momen mengharukan itu terjadi ketika Nikita memasuki ruang utama masjid. Ia sempat terdiam beberapa detik, menyentuh dinding yang masih beraroma cat baru, sebelum akhirnya duduk bersimpuh di antara para ibu dan anak-anak Indonesia yang datang berbondong-bondong. Beberapa jamaah tampak mengusap sudut matanya. Ada yang sudah belasan tahun tinggal di Kanada dan baru kali ini merasakan suasana masjid yang terasa begitu Indonesia — dari sapaan hangat, aroma masakan di dapur kecilnya, hingga lantunan ayat suci yang mengalun familiar.

Di balik layar peresmian itu, Nikita juga menyempatkan diri berbincang dengan para pengurus komunitas. Ia mendengar langsung bagaimana mereka bergotong royong, dari mengurus izin, menggalang dana lintas benua, hingga mengecat dinding masjid secara bergiliran sepulang kerja.

"Masjid ini bukan dibangun dengan uang semata, tapi dengan doa dan keringat banyak orang. Kami ingin anak-anak kami punya tempat untuk mengenal siapa dirinya," tutur seorang anggota komunitas dengan mata berkaca-kaca.

Lebih dari Sekadar Bangunan

Bagi diaspora Indonesia di Kanada Barat, Masjid Al-Ikhlas Centre adalah lebih dari sekadar bangunan bata dan semen. Ia adalah rumah — tempat anak-anak belajar membaca Al-Qur'an dengan logat kampung halaman, tempat para ibu bertukar resep rendang dan opor saat Ramadan tiba, tempat kerinduan pada Indonesia disembuhkan sedikit demi sedikit. Di sinilah identitas dijaga agar tidak luruh ditelan waktu dan jarak.

Nikita sendiri memaknai kehadirannya sebagai pengingat akan hal-hal sederhana yang sering terlupa. Di tengah gemerlap dunia hiburan yang ia geluti, menyaksikan komunitas kecil yang berjuang membangun rumah ibadah di negeri orang memberinya perspektif baru tentang makna kecukupan dan kebersamaan.

"Kadang kita yang di tanah air merasa semua sudah biasa. Tapi di sini, sebuah masjid kecil saja bisa membuat orang menangis bahagia. Itu pelajaran besar buat saya pribadi," ungkapnya lirih.

Cahaya Kecil untuk Generasi Berikutnya

Sore beranjak senja ketika rangkaian peresmian usai. Lampu-lampu masjid mulai dinyalakan, memancarkan cahaya hangat yang menembus dinginnya udara Edmonton. Anak-anak kecil berlarian di pelataran, tertawa lepas, seolah tahu bahwa tempat itu kini milik mereka — warisan dari orang-orang yang berani bermimpi.

Nikita Willy berdiri sejenak di depan pintu, menatap bangunan itu untuk terakhir kalinya sebelum melangkah pergi. Ada senyum kecil di wajahnya, ada doa yang ia titipkan diam-diam. Bahwa kelak, dari masjid sederhana ini, akan lahir generasi yang mencintai Tuhannya sekaligus bangga pada akarnya. Dan kisah perjuangan sekelompok perantau di Kanada Barat itu akan terus menjadi inspirasi — bahwa sejauh apa pun kaki melangkah, rumah untuk pulang selalu bisa dibangun, asal ada hati yang mau berjuang bersama.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User