Di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona Jakarta, sebuah ruangan yang biasanya menjadi saksi peluncuran program wisata biasa, senja itu terasa berbeda. Di sudut ruangan, seorang perempuan paruh baya tampak menyeka sudut matanya. Ia bukan pejabat, bukan pula jurnalis. Ia adalah Maria Goreti, warga Maumere yang sengaja datang jauh-jauh dari Nusa Tenggara Timur hanya untuk menyaksikan momen yang ia sebut sebagai "mimpi yang akhirnya menemukan jalannya pulang."
Panggung peluncuran Camino de Flores: The Sacred Journey of Flores itu memang tidak dibuka dengan tayangan gemerlap atau statistik kunjungan. Ia dibuka dengan lantunan doa dan kisah perjalanan spiritual yang selama berabad-abad hidup dalam denyut nadi masyarakat Flores. Sebuah perjalanan yang kini dirancang menjadi jalur ziarah terpadu, menghubungkan situs-situs iman, budaya, dan keindahan alam di Pulau Flores.
Jejak Langkah yang Lebih Tua dari Peta
Mengisahkan perjalanan ini bukanlah hal yang sederhana. Camino de Flores bukan sekadar produk pariwisata baru. Ia adalah penamaan ulang atas tradisi yang telah dijalani warga Flores lintas generasi. Di pegunungan, di pesisir, di desa-desa kecil yang berjarak berjam-jam perjalanan darat, orang-orang telah berjalan kaki menuju gereja, kapel, dan situs-situs leluhur sejak jauh sebelum kata "destinasi" menjadi bahasa keseharian.
"Kami tidak menciptakan jalur ini. Kami hanya menyalakan lampu agar orang lain bisa melihat bahwa jalur ini sudah ada," ujar seorang pemuka gereja setempat dengan suara pelan, seolah tak ingin mengganggu kesakralan ruangan. Kalimat itu membuat beberapa hadirin menunduk. Ada perasaan haru yang menyelinap di antara baris-baris kursi.
Perjalanan ini menawarkan lebih dari sekadar pemandangan. Ia mengajak pejalan untuk menyentuh batu-batu tua di dinding gereja, mendengar kidung yang dinyanyikan dalam bahasa daerah, dan merasakan dinginnya pagi di lereng gunung yang dianggap sakral oleh warga. Setiap ruas jalannya menyimpan cerita: tentang seorang misionaris yang tinggal puluhan tahun di desa terpencil, tentang nenek yang setia menyalakan lilin di kapel kecil, atau tentang anak-anak yang berlari riang menyambut tamu dengan senyum canggung.
Perjuangan di Balik Layar
Di balik layar, perjalanan membangun jalur ini tidak selalu mulus. Warga di beberapa titik harus berjuang meyakinkan bahwa ziarah bukanlah komoditas yang bisa dijual murah. Mereka ingin tamu datang dengan hormat, bukan sekadar berfoto lalu pergi. Di sisi lain, kaum muda di desa-desa mulai kembali tertarik pada tradisi yang dulu dianggap kuno.
"Dulu saya malu jalan kaki ke kapel. Sekarang saya bangga. Tamu dari jauh saja mau berjalan untuk berdoa," kata Yohanes, pemuda dari Bajawa yang ikut dalam tim penyambut, mengisahkan perjalanan batinnya sendiri. Ia mengaku pernah ingin merantau ke kota karena merasa desanya tidak punya masa depan. Kini ia menjadi pemandu lokal, menemani peziarah menelusuri jalur yang ia hafal di luar kepala.
Air mata memang beberapa kali muncul dalam acara itu — dari warga yang merasa diakui, dari pejabat yang sadar bahwa yang mereka luncurkan bukanlah produk biasa, melainkan wajah dari sebuah pulau yang selama ini lebih sering dilihat dari luar daripada didengar dari dalam.
Inspirasi bagi Perjalanan yang Lebih Dalam
Camino de Flores diharapkan menjadi inspirasi bagi cara baru berwisata: lebih pelan, lebih dalam, lebih menghargai. Peziarah diajak untuk tidak terburu-buru. Ada waktu untuk duduk, mendengar, dan merenung. Ada ruang untuk menyapa warga, berbagi cerita, dan pulang dengan hati yang lebih penuh daripada koper.
Bagi Maria Goreti, peluncuran itu bukan akhir, melainkan awal. "Saya ingin cucu saya tahu bahwa kampungnya punya jalan yang sakral. Bukan hanya jalan untuk lewat, tapi jalan untuk pulang," katanya, matanya masih basah. Di ruangan yang perlahan sepi, cahaya lampu menimpa peta Flores yang terpampang di dinding — sebuah pulau panjang yang kini bersiap membuka pintu bagi siapa saja yang ingin berjalan bukan hanya dengan kaki, tetapi juga dengan jiwa.
Comments (0)