Uap hangat mengepul dari atas dandang di sudut dapur berukuran empat kali lima meter itu. Mbah Sumarni, 78 tahun, duduk di atas bangku kayu pendek, kedua tangannya masih cekatan memutar adonan tepung beras ketan di atas tampah bambu. Di luar, hujan baru saja reda, meninggalkan bau tanah basah yang bercampur aroma gula merah yang sedang mendidih di atas tungku. "Ini bukan sekadar makanan," ujarnya pelan, hampir berbisik. "Ini doa yang saya bulatkan pelan-pelan, biar hidup anak cucu nanti bulat, tidak mudah pecah."
Jenang grendul, begitu ia menyebutnya, adalah kudapan sederhana yang telah ia kenal sejak masih bocah. Bola-bola kecil dari tepung beras ketan, direbus dalam air mendidih, lalu disiram kuah gula merah yang legit dan sedikit beraroma pandan. Di desanya di lereng utara Jawa Tengah, jenang ini bukan hidangan mewah. Ia hadir saat selamatan, saat syukuran panen, atau saat ada kerabat yang tengah berduka. Namun justru kesederhanaannya itu yang membuatnya selalu diingat.
Bola-Bola Kecil dan Kenangan yang Menggulir
Mbah Sumarni mengisahkan, ia pertama kali belajar membuat jenang grendul dari ibunya saat berusia sembilan tahun. Waktu itu, ia hanya diminta memilin adonan menjadi butiran sebesar kelereng. "Tangan saya kecil, jadi hasilnya tidak rata. Ibu bilang, jangan marah kalau grendul-nya bengkok. Yang penting ikhlasnya," kenangnya sambil tersenyum. Sejak itu, setiap kali ada acara keluarga, ia selalu kebagian tugas memilin adonan. Perlahan, tangannya terbiasa. Perlahan pula, ia memahami bahwa memasak bukan soal hasil sempurna, melainkan soal kesabaran.
Bahan-bahan jenang grendul sangat sederhana. Tepung beras ketan, sedikit air, dan sejumput garam. Untuk kuahnya, gula merah batangan dipotong tipis, direbus bersama air, daun pandan, dan sepotong jahe. Tidak ada takaran pasti. Semua diukur dengan rasa dan ingatan. "Kalau gula merahnya muda, kuahnya kurang gelap. Kalau tuanya, wanginya kuat. Saya pilih yang sedang, seperti hidup ini," katanya.
Proses pembuatannya terbilang memakan waktu. Setelah adonan tepung beras ketan dicampur air hangat, ia mulai memilinnya satu per satu. Butuh sekitar satu jam untuk menghasilkan seratus butir grendul. Tangan keriputnya bergerak ritmis, seperti menari pelan di atas tampah. Di sela-sela kegiatan itu, ia kerap menyanyikan tembang Jawa bernuansa sendu. "Kadang saya menangis sendiri," ujarnya. "Bukan karena sedih, tapi karena ingat ibu. Dulu, dia juga begitu. Memilin adonan sambil menyanyi."
Kuah Gula Merah yang Menyimpan Cerita
Bagi warga di kampung Mbah Sumarni, jenang grendul bukan hanya camilan. Ia adalah penanda waktu. Saat musim tanam tiba, para tetua membuat jenang ini sebagai simbol harapan agar benih yang ditanam tumbuh subur. Saat panen, jenang grendul kembali hadir sebagai ungkapan syukur. "Grendul itu bulat. Bulat berarti utuh, berarti rukun," jelas Mbah Sumarni. "Kuah gula merahnya melambangkan manisnya hidup kalau kita mau bersabar."
Namun, zaman berubah. Anak-anak muda di kampungnya lebih memilih jajanan instan. Proses membuat jenang grendul yang panjang dianggap tidak praktis. "Ada yang bilang, mending beli yang sudah jadi. Saya sedih, tapi tidak marah," katanya. Ia lalu memutuskan untuk mulai mengajarkan resep ini kepada cucunya, Rani, 24 tahun, yang kebetulan sedang berkunjung dari kota. Rani awalnya ragu. Tangannya kaku saat memilin adonan. "Awalnya saya pikir ini membosankan. Tapi begitu melihat Mbah Sumarni sabar banget, saya jadi malu sendiri," ujar Rani.
Momen mengharukan terjadi ketika Rani berhasil membuat sepuluh butir grendul pertama. Mbah Sumarni memegang bahu cucunya, lalu berkata pelan, "Ini yang saya tunggu. Bukan grendulnya, tapi kamu mau belajar." Rani menangis. Ia mengaku baru menyadari bahwa di balik makanan sederhana itu, ada perjalanan panjang seorang perempuan tua yang ingin warisannya tidak hilang.
Inspirasi dari Dapur Tua yang Tak Pernah Sepi
Hari itu, setelah jenang grendul matang, Mbah Sumarni mengajak saya mencicipinya. Bola-bola ketan itu kenyal, tidak terlalu manis, dan kuah gula merahnya terasa hangat di tenggorokan. Ada rasa legit yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. "Enak, ya?" tanyanya. Saya mengangguk. Ia tertawa kecil, lalu menambahkan, "Itu karena ada air mata saya di dalamnya. Air mata bahagia."
Kisah Mbah Sumarni bukanlah kisah tentang kehilangan, melainkan tentang bangkit dan berbagi. Ia tidak pernah berhenti membuat jenang grendul, meski hanya untuk keluarga sendiri. Baginya, setiap butir grendul adalah pengingat bahwa hal-hal kecil yang dilakukan dengan cinta tidak pernah sia-sia. "Saya tidak punya harta. Tapi saya punya resep ini. Dan saya mau anak cucu saya tahu, dari mana mereka berasal," ujarnya.
Di tengah derasnya arus modernisasi, dapur tua Mbah Sumarni tetap menjadi ruang perjuangan dan mimpi. Ia tidak melawan perubahan, tetapi ia memilih untuk merawat satu hal yang diyakininya berharga. Jenang grendul, dengan kuah gula merahnya yang legit dan kenyal, adalah cara ia bercerita tentang hidup, tentang kesabaran, dan tentang cinta yang tidak pernah pudar. Bagi siapa pun yang pernah mencicipinya, kisah ini akan selalu punya tempat di hati.
Comments (0)