Sep 19, 2026
Nasional

Muslimat NU Ingatkan Kental Manis Bukan Pengganti Susu Balita

Pimpinan Pusat (PP) Muslimat Nahdlatul Ulama kembali menyuarakan peringatan penting terkait pemenuhan gizi anak usia dini di Indonesia. Organisasi perempua

Muslimat NU Ingatkan Kental Manis Bukan Pengganti Susu Balita

Pimpinan Pusat (PP) Muslimat Nahdlatul Ulama kembali menyuarakan peringatan penting terkait pemenuhan gizi anak usia dini di Indonesia. Organisasi perempuan berbasis keagamaan ini menegaskan bahwa produk kental manis bukanlah pengganti Air Susu Ibu (ASI) maupun susu pertumbuhan bagi balita. Kesalahan persepsi yang masih marak di masyarakat ini dinilai menjadi salah satu pemicu terhambatnya pengentasan masalah tengkes atau stunting di berbagai daerah.

Kental manis pada dasarnya adalah produk pelengkap makanan dengan kandungan gula yang sangat tinggi serta kadar protein yang relatif minim. Namun, karena harga yang terjangkau dan kepraktisannya, tidak sedikit keluarga yang menyajikannya sebagai minuman susu utama bagi anak balita mereka setiap hari.

Fenomena Salah Kaprah yang Masih Mengakar

Dalam sosialisasi terbarunya, Muslimat NU menyoroti masih banyaknya orang tua di tingkat akar rumput yang menganggap kental manis sama fungsinya dengan susu formula atau susu pertumbuhan balita. Hal ini kerap diperparah oleh kebiasaan turun-temurun serta minimnya literasi label gizi pada kemasan produk makanan.

"Masyarakat harus diedukasi secara berkelanjutan bahwa kental manis itu fungsinya adalah topping atau perisa tambahan makanan, bukan pengganti susu pokok harian balita. Kandungan gulanya tinggi dan tidak mencukupi kebutuhan mikronutrien anak," tegas perwakilan pengurus PP Muslimat NU.

Dampak Buruk Konsumsi Gula Berlebih pada Anak

Pemberian kental manis secara rutin sebagai minuman utama balita membawa risiko kesehatan jangka pendek maupun jangka panjang. Anak-anak yang mengonsumsinya secara berlebihan rentan mengalami gangguan metabolisme dan defisiensi nutrisi penting.

Beberapa dampak negatif yang wajib diwaspadai para orang tua antara lain:

  • Risiko Obesitas dan Diabetes Dini: Tingginya sukrosa dan karbohidrat sederhana dapat memicu penumpukan kalori berlebih tanpa disertai rasa kenyang yang bernutrisi.
  • Kerusakan Gigi (Karies): Paparan gula cair secara terus-menerus merusak enamel gigi anak yang masih dalam masa pertumbuhan.
  • Kekurangan Gizi Kronis (Stunting): Balita merasa kenyang karena asupan manis, sehingga menolak makanan bergizi seimbang yang kaya akan protein hewani, zat besi, dan vitamin.

Tahapan Edukasi Muslimat NU ke Tingkat Komunitas

Guna menekan angka kejadian salah asuh nutrisi tersebut, Muslimat NU telah menyusun serangkaian langkah terstruktur melalui jejaring posyandu dan majelis taklim di seluruh pelosok tanah air:

  1. Pendataan dan Identifikasi Lapangan: Kader Muslimat NU melakukan pemetaan terhadap pola konsumsi balita di lingkungan posyandu dan pengajian keluarga.
  2. Penyuluhan Literasi Gizi Seimbang: Menggelar sesi edukasi tatap muka mengenai pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), keutamaan ASI eksklusif, serta cara membaca label nutrisi kemasan.
  3. Demonstrasi Menu PMT Bergizi: Memberikan pelatihan praktis memasak Pemberian Makanan Tambahan (PMT) lokal yang kaya protein hewani seperti telur, ikan, dan hati ayam tanpa bergantung pada pemanis buatan.
  4. Monitoring dan Evaluasi Tumbuh Kembang: Memantau kurva tinggi dan berat badan anak secara berkala untuk memastikan tidak ada balita yang mengalami gagal tumbuh.

Melalui gerakan masif ini, Muslimat NU berharap kesadaran kolektif masyarakat makin terbangun, sehingga tidak ada lagi balita Indonesia yang kehilangan hak tumbuh kembang optimalnya akibat konsumsi pangan yang keliru.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User