Aug 25, 2026
entertainment

Mimpi di Ujung Senja: Suara Bhita dari Pangkalpinang

Senja di Pangkalpinang selalu punya cara sendiri untuk bercerita. Di sebuah rumah sederhana dengan dinding kayu yang mulai lapuk, seorang gadis remaja berdiri di depan cermin retak. Tangannya mengepal...

Mimpi di Ujung Senja: Suara Bhita dari Pangkalpinang

Senja di Pangkalpinang selalu punya cara sendiri untuk bercerita. Di sebuah rumah sederhana dengan dinding kayu yang mulai lapuk, seorang gadis remaja berdiri di depan cermin retak. Tangannya mengepal, matanya terpejam, lalu suara emas itu keluar menggetarkan bilik-bilik kamar. Itulah Bhita, peserta D'Academy 8 yang membawa serpihan harapan dari tanah Bangka.

Hari-harinya tak pernah lepas dari alunan musik dangdut. Sejak kecil, Bhita terbiasa mendengar suara biduan dari radio tua milik ayahnya. Ia tak sekadar mendengar—ia menyerap, menirukan, dan menjadikannya bagian dari napas. Dangdut bukan sekadar hiburan, melainkan teman setia yang menemani kesendiriannya saat orang tua bekerja di pasar ikan.

Langit yang Tak Selalu Cerah

Perjalanan menuju panggung besar tak pernah mulus. Bhita kecil sering diolok-olok teman sekolah karena hobinya menyanyi dangdut. Di mata sebagian orang, dangdut dianggap musik kampungan. Tapi ejekan itu justru menjadi pupuk bagi mimpinya. Setiap malam, ia menyelinap ke dapur dan bernyanyi di depan tungku, seakan nyala api kecil itu adalah lampu sorot panggung megah.

Ibunya, seorang penjual gorengan, adalah saksi utama dedikasi Bhita. Dengan suara bergetar, sang ibu suatu kali berkata, "Nak, kalau kamu yakin, nyanyilah sampai suaramu terdengar ke seluruh Indonesia." Kata-kata itu menjadi mantra yang terus terngiang. Bhita tahu, di rumahnya yang hanya berukuran 4x5 meter, mimpi tak boleh disimpan sendiri—ia harus diperjuangkan.

Panggung yang Menguji Nyali

Ketika pintu audisi D'Academy 8 terbuka, Bhita hampir tak percaya. Jauh dari Pangkalpinang, ia harus menyeberangi laut dan melawan rasa takut. Di ruang tunggu yang penuh peserta berbakat, ia sempat gemetar. Namun saat namanya dipanggil, ia teringat tungku dapur di rumah, cermin retak, dan suara gemuruh tepukan imajiner yang sering ia bayangkan. Ia pun melangkah dengan dada penuh bara.

Penampilannya tak sekadar menyanyi—ia bercerita. Setiap lengking nada yang keluar adalah kisah tentang anak perempuan yang merantau dari pulau timah demi mengejar panggung impian. Juri terpaku. Para penonton terdiam. Di detik itulah Bhita mengerti bahwa suaranya telah menemukan rumah yang sesungguhnya.

Api Kecil dari Bangka

Kembali ke kampung halaman seusai salah satu babak, Bhita disambut tetangga dengan haru. Banyak yang tak menyangka bahwa dari gang sempit di Pangkalpinang, lahir suara yang bisa mengguncang panggung nasional. "Saya hanya ingin membuktikan bahwa mimpi tidak mengenal batas," ujar Bhita dengan mata yang masih berkaca-kaca.

Kini, setiap kali ia naik panggung, Bhita membawa doa-doa dari langgar kecil dekat rumahnya, doa dari ibunya yang setiap malam menunggu di depan televisi, dan doa dari para tetangga yang dulu pernah meremehkan mimpinya. D'Academy 8 bukan sekadar kompetisi baginya; ini adalah altar tempat ia meletakkan segala lelah dan air mata.

Perjalanan Bhita belum usai. Tapi satu hal pasti: dari sebuah gang kecil di tepian Pulau Bangka, ia telah menyalakan api yang tak akan mudah padam. Suaranya akan terus mengudara, mengabarkan pada dunia bahwa harapan selalu punya jalan, meski harus lahir dari rumah yang paling sederhana sekalipun.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User