Dua kebijakan kontroversial mewarnai jalannya pemerintahan Presiden Javier Milei dalam sepekan terakhir. Di satu sisi, dua hakim federal yang memiliki hubungan dengan Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) mengalami pembekuan nominasi di Senat. Di sisi lain, Menteri Deregulasi Federico Sturzenegger kembali memanaskan perdebatan publik dengan mendorong pencabutan undang-undang yang melindungi harga buku. Kedua manuver politik ini memantik gelombang kritik dari berbagai kalangan dan memperlihatkan bagaimana Casa Rosada menggunakan kekuasaan eksekutif untuk membentuk ulang lanskap hukum dan ekonomi Argentina.
Skorsing Senyap Dua Hakim di Senat
Sudah 80 hari berlalu sejak Juan Pedro Galván Greenway dan Alejandro Catania—dua hakim pengadilan pidana ekonomi—menjalani sidang dengar pendapat di hadapan Komisi Perjanjian Senat Argentina. Keduanya dicalonkan untuk mengisi kursi di Kamar Banding Nasional untuk yurisdiksi yang sama. Namun, hingga hari ini, surat pengangkatan mereka masih membeku tanpa adanya dictamen (rekomendasi resmi komisi).
Sumber di lingkungan parlemen mengonfirmasi bahwa pembekuan ini bukanlah kebetulan administratif. Perintah langsung datang dari Karina Milei, Sekretaris Jenderal Kepresidenan sekaligus adik kandung presiden. Ironisnya, pencalonan Galván Greenway dan Catania sebelumnya justru didorong oleh Menteri Kehakiman yang saat itu baru dilantik, Juan Bautista Mahiques—sosok yang dipilih sendiri oleh Karina Milei untuk menggantikan Mariano Cúneo Libarona.
"Pliego mereka sudah beredar dan ditandatangani oleh senator pro-pemerintah maupun oposisi dialogis tanpa ada keberatan," ujar seorang legislator yang enggan disebutkan namanya. "Lalu tiba-tiba ada telepon dari Casa Rosada. Sejak saat itu, semuanya berhenti."
Peran kunci dalam menjaga status quo ini dipegang oleh Juan Carlos Pagotto, senator dari La Rioja yang mengetuai Komisi Perjanjian. Pagotto dikenal loyal kepada keluarga Menem—Martín Menem, Ketua DPR, dan sepupunya Eduardo "Lule" Menem. Ia memastikan tidak ada satu pun senator yang membubuhkan tanda tangan tambahan untuk mempercepat dictamen kedua hakim tersebut. Semua menunggu lampu hijau dari Karina Milei.
Mengapa dua hakim ini menjadi target? Jawabannya mengarah ke hubungan mereka dengan AFA. Nama Ketua AFA Claudio "Chiqui" Tapia dan tangan kanannya sekaligus bendahara AFA, Pablo Toviggino, muncul dalam beberapa perkara yang tengah berjalan lambat di pengadilan federal. Meskipun detail kasusnya tidak diungkap secara luas, spekulasi politik menyebutkan bahwa pembekuan ini adalah sinyal dari Casa Rosada: tidak ada ruang bagi figur yang dianggap dekat dengan establishment sepak bola untuk naik ke posisi yudisial yang lebih tinggi.
Publik Argentina sendiri sudah terbiasa dengan ketegangan antara kekuasaan politik dan AFA—institusi yang telah lama dianggap sebagai negara dalam negara. Namun, langkah Karina Milei kali ini terasa berbeda. Alih-alih konfrontasi terbuka, ia memilih strategi pembekuan diam-diam: tidak menolak, tidak menerima, hanya menunda tanpa batas waktu yang jelas.
Lama di Senat, Badai di Toko Buku
Sementara drama yudisial bergulir di koridor parlemen, medan pertempuran lain berkobar di ranah digital. Menteri Deregulasi dan Transformasi Negara, Federico Sturzenegger, menggunakan akun X-nya pada akhir pekan lalu untuk melontarkan dukungan terbuka bagi pencabutan Undang-Undang 25.542 tentang Perlindungan Aktivitas Toko Buku—sebuah aturan yang telah berlaku sejak November 2001.
Norma tersebut mewajibkan seluruh penerbit dan importir untuk menetapkan harga jual tetap (PVP) untuk setiap buku yang beredar di pasar Argentina. Harga ini berlaku seragam di semua kanal penjualan: jaringan toko buku besar, toko buku independen, supermarket, hingga platform digital. Diskon yang diizinkan sangat terbatas: hanya 10% secara umum, maksimal 20% untuk guru dan pelajar dalam pameran buku, dan diskon khusus 50% untuk program pembelian perpustakaan seperti yang dijalankan oleh Conabip (Komisi Nasional Perpustakaan Populer).
Bagi Sturzenegger, aturan ini adalah simbol inefisiensi pasar. Dalam unggahannya, ia berargumen bahwa penghapusan UU 25.542 akan membuka pintu menuju "buku-buku yang lebih murah". Logikanya sederhana: liberalisasi harga akan memicu persaingan antarpenjual, dan konsumen akan menikmati harga yang lebih rendah.
Namun, logika itu tidak diterima begitu saja. Industri penerbitan dan para pemilik toko buku independen langsung bereaksi keras. Mereka memperingatkan bahwa tanpa harga tetap, toko-toko buku kecil akan tergilas oleh pemain besar—supermarket dan platform e-commerce raksasa yang mampu menjual buku di bawah harga modal untuk menarik pelanggan, sambil menutup kerugian dari penjualan produk lain.
"Yang akan mati bukan harga mahal, melainkan bibliodiversitas—keberagaman buku dan penulis yang hanya bisa hidup karena toko buku independen berani menyimpan judul-judul niche," tulis seorang editor senior dalam surat pembaca yang viral.
Undang-undang ini sebenarnya lahir dari krisis ekonomi 2001 sebagai tameng bagi ekosistem literasi Argentina. Selama lebih dari dua dekade, PVP telah menciptakan keseimbangan rapuh antara kepentingan bisnis besar dan pelestarian jaringan toko buku yang tersebar dari Buenos Aires hingga Patagonia. Kini, dengan inflasi yang masih menggigit dan daya beli masyarakat yang terus tergerus, argumen "buku lebih murah" memang terdengar menggoda secara populis—tetapi kenyataannya jauh lebih kompleks.
Pola Intervensi Casa Rosada
Kedua episode ini—pembekuan hakim dan serangan terhadap UU 25.542—bukanlah peristiwa yang terisolasi. Keduanya mencerminkan pola pemerintahan Milei yang semakin terpusat pada pengambilan keputusan eksekutif yang cepat, personal, dan minim konsultasi kelembagaan. Di ranah yudisial, Karina Milei bertindak sebagai penjaga gerbang yang menentukan siapa yang layak naik ke pengadilan banding. Di ranah legislasi, Sturzenegger berfungsi sebagai ujung tombak deregulasi yang menantang norma-norma yang telah berurat akar.
Dampak dari kedua kebijakan ini masih menjadi teka-teki. Apakah pembekuan hakim akan mencair setelah pemilu paruh waktu? Apakah Kongres akan menyetujui pencabutan UU 25.542 meskipun lobi dari kalangan penerbit dan penulis begitu masif? Yang pasti, dua arena pertarungan ini menunjukkan bahwa pemerintahan Milei tidak berniat melambat—baik di pengadilan maupun di rak-rak buku.
Bagi masyarakat Argentina, taruhannya bukan sekadar siapa yang duduk di kursi hakim atau berapa harga novel terbaru. Taruhannya adalah bagaimana kekuasaan dijalankan: dengan proses yang transparan dan terlembaga, atau melalui telepon singkat dari Casa Rosada dan cuitan akhir pekan di media sosial.