Oct 10, 2026
entertainment

Merawat Diri dengan Bahasa Cinta yang Sering Terlupa

Di sudut sebuah kafe kecil di Jakarta Selatan, seorang perempuan berusia tiga puluhan menutup laptopnya perlahan. Ia baru saja menyelesaikan rapat daring yang melelahkan, tetapi kali ini ada yang berb...

Merawat Diri dengan Bahasa Cinta yang Sering Terlupa

Di sudut sebuah kafe kecil di Jakarta Selatan, seorang perempuan berusia tiga puluhan menutup laptopnya perlahan. Ia baru saja menyelesaikan rapat daring yang melelahkan, tetapi kali ini ada yang berbeda. Ia tidak langsung membuka ponselnya lagi, tidak juga menenggelamkan diri ke pekerjaan berikutnya. Ia memesan secangkir teh hangat, menyesapnya tanpa tergesa, dan membiarkan dirinya bernapas. "Dulu saya selalu merasa bersalah kalau tidak produktif," ujarnya lirih, mengenang perjalanan panjangnya belajar mencintai diri sendiri. "Ternyata selama ini saya lebih keras pada diri sendiri daripada pada orang lain."

Kisah perempuan itu bukan cerita tunggal. Ia mewakili banyak orang yang tumbuh dengan keyakinan bahwa kasih sayang hanya layak diberikan kepada orang lain. Padahal, konsep yang kini populer sebagai love language atau bahasa cinta sejatinya bukan hanya tentang bagaimana kita memperlakukan pasangan atau keluarga. Ia juga soal bagaimana kita memperlakukan tubuh dan pikiran sendiri setiap hari, dengan cara-cara sederhana yang sering terlewat.

Ketika Cinta Diarahkan ke Dalam

Selama bertahun-tahun, bahasa cinta dipahami sebagai lima cara mengungkapkan kasih: kata-kata penyemangat, waktu berkualitas, sentuhan fisik, hadiah, dan tindakan pelayanan. Namun para praktisi kesehatan mental mulai melihat bahwa kerangka yang sama bisa dipakai untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri. Memberikan kata-kata penyemangat kepada diri, misalnya, bukan berarti membual. Ia adalah upaya menghentikan kebiasaan mengkritik diri yang kerap berlangsung tanpa sadar.

"Banyak orang berbicara pada dirinya dengan nada yang tidak akan pernah mereka gunakan untuk sahabatnya," kata seorang konselor psikologi yang mendampingi klien-klien muda di kota Bandung. Ia menuturkan bahwa perjalanan penyembuhan dimulai dari hal paling sederhana: menyadari percakapan batin, lalu menggantinya dengan kalimat yang lebih ramah. Bukan perubahan besar dalam semalam, melainkan latihan kecil yang diulang setiap hari.

Sentuhan Kecil yang Menghidupkan Tubuh

Bagi sebagian orang, bahasa cinta yang paling nyata adalah sentuhan. Bukan sentuhan dari orang lain, melainkan sentuhan yang diberikan kepada diri: menepuk bahu sendiri saat lelah, meregangkan tubuh setelah berjam-jam duduk, atau sekadar mengusap tangan saat cuaca dingin. Tubuh, menurut para ahli, menyimpan jejak stres yang menumpuk dan sering diabaikan. Memberi perhatian fisik kepada diri adalah bentuk penghormatan yang paling mendasar.

Seorang pekerja lepas bercerita bagaimana ia dulu terbiasa melewatkan makan siang demi mengejar tenggat. Suatu hari, tubuhnya protes. Ia jatuh sakit dan baru menyadari bahwa selama ini ia memperlakukan tubuhnya seperti mesin yang tak perlu dirawat. "Sekarang saya belajar masak untuk diri sendiri. Sederhana saja, telur dan sayur. Tapi rasanya seperti memberi hadiah," katanya sambil tersenyum. Ia menyebut kebiasaan itu sebagai love language paling jujur, sebab tidak ada yang melihat dan tidak ada yang memuji, namun ia merasakannya setiap hari.

Waktu Berkualitas Tanpa Rasa Bersalah

Dari semua bentuk bahasa cinta, waktu berkualitas untuk diri sendiri mungkin yang paling sulit diwujudkan. Dunia menuntut kita selalu terhubung, selalu siap, selalu produktif. Meluangkan satu jam tanpa ponsel dianggap kemewahan, padahal justru di situlah pikiran menemukan ruang untuk pulih. Seorang ibu dua anak mengisahkan bagaimana ia dulu merasa egois ketika membaca buku sendirian di kamar. "Air mata saya keluar saat menyadari saya tidak pernah menganggap diri saya layak untuk diistirahatkan," kenangnya.

Perlahan ia belajar bahwa merawat diri bukanlah pengabaian tanggung jawab. Justru sebaliknya, tubuh dan pikiran yang sehat memungkinkannya hadir lebih utuh bagi keluarga. Momen-momen kecil itu, kata dia, menjadi sumber kekuatan yang tak terlihat namun nyata.

Pada akhirnya, bahasa cinta untuk diri sendiri bukanlah kemewahan atau tren sesaat. Ia adalah keputusan harian yang diambil dengan penuh keberanian, untuk berhenti sejenak, mendengarkan, dan memperlakukan diri dengan kelembutan yang selama ini hanya diberikan kepada orang lain. Sebab dari cinta yang dirawat di dalam, barulah cinta itu bisa mengalir keluar dan menghangatkan hidup banyak orang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User