Aug 25, 2026
entertainment

Menyusuri Makna Evolusi dalam Koleksi Artwear TULOLA

Di bawah temaram lampu sorot yang menari di permukaan logam, sebuah kalung spiral tegak berdiri di antara puluhan aksesori lain. Cahaya menerpa tiap lekuknya, menciptakan bayangan yang seolah bergerak...

Menyusuri Makna Evolusi dalam Koleksi Artwear TULOLA

Di bawah temaram lampu sorot yang menari di permukaan logam, sebuah kalung spiral tegak berdiri di antara puluhan aksesori lain. Cahaya menerpa tiap lekuknya, menciptakan bayangan yang seolah bergerak, hidup. Pagi itu, 23 Juli 2026, sudut pamer Kawan Nusantara di Jakarta mulai dipadati langkah-langkah penasaran. Mereka datang untuk melihat, tapi tak sedikit yang akhirnya tinggal lebih lama, terbius oleh cerita yang terpendam di balik setiap karya TULOLA.

Label artwear yang lahir dari tangan-tangan terampil itu membawa sebuah koleksi bertajuk "Evolusi". Bukan sekadar nama, melainkan sebuah manifesto visual tentang perjalanan hidup perancangnya, Intan Pramesti, yang penuh luka, pelajaran, dan akhirnya harapan.

Kelahiran dari Bara Luka

Intan bercerita dengan suara lirih tentang masa-masa sulit yang menginspirasi koleksi ini. Dua tahun lalu, ia kehilangan ibunya, sosok yang dulu sering meremehkan mimpinya berkarya. "Ibu selalu bilang, menjadi perajin tidak akan membuatmu kaya. Tapi setelah ia tiada, aku menemukan surat-surat lamanya. Ternyata, dulu Ibu juga ingin menjadi pelukis," ujarnya, sembari menyentuh salah satu bros berbentuk kepompong yang pecah.

Dari situlah kata "Evolusi" bermula. Setiap aksesori dalam koleksi ini menggambarkan tahap metamorfosis: kepompong yang rapuh, sayap yang mulai terbuka, hingga wujud utuh yang siap terbang. Intan menuangkan emosinya dalam anyaman benang emas, potongan kayu ulin, dan serat daun lontar yang sudah ia kumpulkan sejak kecil dari desanya di Flores.

Merajut Identitas dalam Setiap Serat

Proses kreatif di balik koleksi ini tidak instan. Intan menghabiskan waktu hampir delapan bulan hanya untuk meriset teknik anyaman tradisional yang hampir punah. Ia belajar langsung dari seorang penenun tua di kampungnya yang usianya sudah renta. "Nenek Marta bilang, tanganmu harus ikut bernapas saat menganyam. Kalau tidak, seratnya akan melawan," kenang Intan sambil tersenyum getir. Hasilnya adalah detail yang seolah mengalir alami, menyatu dengan bentuk aksesori yang organik namun berani.

Salah satu karya ikonik dari koleksi ini adalah kalung "Sayap Luka", terbuat dari tenunan benang sutra dengan aksen perak yang sengaja dibakar permukaannya. "Bukan untuk merusak, tapi untuk memberi karakter. Luka yang kita terima justru menjadi identitas terkuat kita," jelasnya.

Ketika Evolusi Menyentuh Jiwa Pengunjung

Di hari kedua pameran, seorang wanita paruh baya berdiri lama di depan kalung yang sama. Matanya berkaca-kaca. Tanpa banyak bicara, ia memegang tangan Intan dan berbisik, "Saya baru saja kehilangan anak. Rasanya hidup sudah berhenti. Tapi melihat ini, saya jadi percaya, evolusi itu nyata. Nanti saya akan bisa terbang lagi." Kutipan itu bukan testimoni biasa—ia menjadi bukti bahwa kriya bisa menjadi jembatan antarmanusia, menyembuhkan tanpa kata.

Kawan Nusantara sendiri menjadi panggung yang tepat. Acara yang mempertemukan lebih dari 50 komunitas kreatif ini memberi ruang bagi kisah-kisah personal seperti milik Intan untuk menemukan rumah. Stan TULOLA bukan yang termegah, tapi selalu ramai oleh pengunjung yang ingin mendengar langsung cerita di balik setiap karya. Mereka tidak sekadar membeli; mereka membawa pulang sepotong perjalanan batin.

Hingga matahari terbenam di hari terakhir, Intan masih sibuk merapikan stan. Seseorang bertanya, apa mimpinya selanjutnya. Ia terdiam, lalu menjawab pelan, "Aku ingin terus berkarya, agar luka-luka lain di luar sana tahu bahwa mereka tidak sendirian. Evolusi tidak pernah berhenti, kan?"

Koleksi "Evolusi" mungkin telah usai dipamerkan, tapi jejak emosinya akan terus hidup di hati mereka yang pernah disentuhnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User