Di sebuah ruangan yang dipenuhi aroma kopi dan tawa hangat, Jumat (2/10/2026) sore itu, sekelompok orang duduk melingkar. Bukan pertemuan biasa. Mereka adalah para pemimpi yang percaya bahwa melangkah ke tempat asing bukan sekadar mengisi feed media sosial, melainkan sebuah perjalanan pulang ke dalam diri. Bincang redaksi bertajuk "Mengapa Kita Perlu Para Pejalan Bijak?" menjadi pembuka dari rangkaian "Jelajah Kemolekan Sorong Selatan", sebuah kolaborasi Kemitraan Strategis National Geographic Indonesia dan Legenda Khatulistiwa dalam ekosistem Plataran Indonesia.
Momen itu sederhana. Tidak ada panggung megah, tidak ada sorotan lampu. Hanya meja panjang, beberapa cangkir, dan obrolan yang mengalir seperti sungai tenang. Namun di sudut ruangan itulah, sebuah gagasan besar tumbuh: bahwa perjalanan sejatinya adalah cara manusia belajar merawat bumi dan sesamanya.
Perjalanan yang Mengubah Cara Pandang
"Kita tidak sedang menjual destinasi. Kita sedang mengajak orang untuk pulang dengan hati yang lebih penuh," ujar salah satu pembicara, mengisahkan bagaimana perjalanan ke Sorong Selatan bukan hanya soal melihat burung cenderawasih atau menyusuri hutan hujan. Ada yang lebih dalam. Setiap langkah di tanah Papua Barat itu mengajarkan kerendahan hati.
Para pejalan bijak, begitu istilah yang mereka usung, adalah mereka yang datang bukan untuk mengambil, tetapi untuk memberi. Mereka yang menaruh hormat pada adat, pada alam, pada cerita yang tak tertulis di buku panduan. Di Sorong Selatan, kata mereka, wisata bukan tentang menginjak, melainkan tentang menyatu.
"Ketika kita berjalan dengan bijak, kita pulang membawa lebih dari sekadar foto. Kita membawa cerita, dan cerita itulah yang mengubah hidup," tutur seorang narasumber dengan mata berbinar.
Bincang redaksi itu pun menjadi cermin. Banyak yang hadir mengaku tergerak. Ada yang mengenang perjalanan pertamanya ke timur Indonesia, ada pula yang menahan air mata karena teringat kampung halaman. Diskusi berjalan hangat, penuh tawa, sesekali hening saat kalimat-kalimat menyentuh menyelinap masuk.
Kolaborasi untuk Mimpi yang Lebih Besar
Kolaborasi National Geographic Indonesia dan Legenda Khatulistiwa dalam ekosistem Plataran Indonesia bukan tanpa alasan. Keduanya percaya bahwa pariwisata bisa menjadi jembatan kesejahteraan tanpa merusak apa yang sudah ada. Sorong Selatan dipilih bukan karena viral, melainkan karena kaya. Kaya akan hutan, laut, budaya, dan manusia yang ramah.
"Kami ingin mengangkat yang belum banyak dikenal, bukan yang sudah ramai," kata perwakilan penyelenggara. "Karena di sanalah dampak terbesar bisa dirasakan masyarakat lokal."
Acara pembukaan itu menjadi penanda bahwa perjalanan panjang akan segera dimulai. Rencananya, rombongan akan menyusuri pesisir, mendaki bukit, dan menginap di rumah-rumah warga. Mereka akan belajar menenun, memasak papeda, dan mendengar legenda dari mulut para tetua.
"Mimpi kami sederhana: agar anak-anak di Sorong Selatan bangga pada kampungnya sendiri," ucap seorang pegiat wisata dengan suara bergetar.
Di balik perencanaan yang matang, ada air mata dan doa. Ada keyakinan bahwa perjalanan bukan sekadar hobi, tetapi jalan ibadah sosial. Setiap rupiah yang dibelanjakan di sana diharapkan berputar, menghidupi keluarga-keluarga sederhana, dan menjaga hutan tetap berdiri.
Menjadi Pejalan yang Bijak
Lalu, apa sebenarnya arti menjadi pejalan bijak? Jawabannya mengalir dari obrolan sore itu. Pejalan bijak adalah yang bertanya sebelum bertindak, yang mendengar sebelum berbicara, yang menikmati tanpa merusak. Ia sadar bahwa dirinya tamu, dan bumi ini rumah bersama.
"Kita semua bisa menjadi pejalan bijak. Mulai dari hal kecil: tidak membuang sampah, menghormati adat, dan membeli produk lokal," pesan seorang peserta.
Bincang redaksi itu berakhir, tetapi gaungnya baru dimulai. "Jelajah Kemolekan Sorong Selatan" bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah undangan bagi siapa pun yang rindu perjalanan bermakna, perjalanan yang menyentuh hati dan meninggalkan jejak baik.
Di luar ruangan, senja mulai turun. Beberapa orang masih berbincang, enggan beranjak. Di sudut ruangan berukuran tak seberapa itu, mimpi tentang timur Indonesia yang lebih dikenal, lebih dijaga, dan lebih dicintai, perlahan bangkit. Dan bagi mereka yang percaya, perjalanan menuju Sorong Selatan baru saja dimulai dari sebuah obrolan hangat di Jakarta.
Comments (0)