Aug 26, 2026
entertainment

Mengubah Rasa Takut Jadi Berani di Fimelahood Playdate

Denting tawa kecil memecah hening di sudut ruangan berpendar warna pastel. Seorang anak perempuan berusia lima tahun menggenggam erat krayon ungu, matanya berbinar menatap sosok monster lucu di hadapa...

Mengubah Rasa Takut Jadi Berani di Fimelahood Playdate

Denting tawa kecil memecah hening di sudut ruangan berpendar warna pastel. Seorang anak perempuan berusia lima tahun menggenggam erat krayon ungu, matanya berbinar menatap sosok monster lucu di hadapannya. Bukan monster menyeramkan yang biasa hadir dalam mimpi buruk, melainkan karakter rekaan yang baru saja ia dengar kisahnya dalam sesi mendongeng. Di Fimelahood Playdate, rasa takut yang selama ini mengendap di benak anak-anak perlahan diubah menjadi keberanian lewat cerita dan warna.

Momen ini hanyalah satu dari banyak adegan mengharukan yang mewarnai acara bertajuk Belajar Menaklukkan Rasa Takut tersebut. Di tengah maraknya kekhawatiran orang tua akan dampak kecemasan pada anak, Fimelahood Playdate hadir membawa angin segar: pendekatan lembut yang menyentuh hati, bukan dengan nasihat menggurui, melainkan lewat imajinasi dan permainan.

Dari Dongeng yang Menghidupkan Monster

Di atas karpet bermotif bintang, seorang pendongeng duduk bersila dengan suara lirih. Ia membuka buku besar bergambar makhluk berbulu bernama Momo. Diceritakan, Momo takut pada bayangan sendiri. Anak-anak mendengarkan dengan tatapan serius, sesekali tersenyum saat Momo melakukan tindakan konyol. Pendongeng itu lihai mengubah ketegangan menjadi kehangatan, menjadikan monster bukan sebagai ancaman, melainkan teman.

"Cerita itu penting," ujar salah satu fasilitator acara. "Saat anak mendengar karakter yang juga mengalami ketakutan, mereka merasa tidak sendirian. Itu langkah awal yang kuat." Setelah dongeng usai, tiap anak diminta menggambar apa yang membuat mereka takut. Hasilnya mencengangkan: monster di bawah tempat tidur, suara petir, hingga sosok badut ulang tahun yang terlalu heboh.

Mewarnai Keberanian, Mengubah Rasa Takut Jadi Teman

Bukan tanpa alasan aktivitas mewarnai dipilih sebagai kelanjutan sesi bercerita. Di meja panjang yang dipenuhi kertas dan krayon, anak-anak dengan bebas menuangkan imajinasi mereka. Ada yang menjadikan monster tadi berwarna pelangi, ada pula yang menggambar payung raksasa untuk melindungi diri dari petir. Setiap goresan adalah ekspresi yang jujur, sekaligus terapi halus untuk meredam kecemasan.

Seorang ibu mengisahkan betapa anaknya yang semula enggan tidur sendiri, kini mulai berani setelah menggambar "penjaga malam" dari tokoh dongeng tadi. "Ia menempelkan gambarnya di dekat tempat tidur," katanya berlinang air mata. "Malam itu ia bilang, 'Mimi, Momo akan menjaga aku.' Rasanya seperti keajaiban kecil."

Para psikolog anak yang hadir mengamini kekuatan kolaborasi antara narasi dan seni. "Ketakutan anak seringkali abstrak, sulit diungkapkan lewat kata-kata," tutur salah seorang di antaranya. "Dengan mendengar cerita, mereka punya kosakata baru; dengan menggambar, mereka menyalurkan emosi. Keduanya adalah jembatan menuju keberanian."

Pelukan Hangat dan Pesan untuk Orang Tua

Acara tidak hanya berpusat pada anak. Di sesi terpisah, para orang tua diajak berdiskusi ringan tentang bagaimana mendampingi buah hati menghadapi rasa takut. Pesan utamanya sederhana namun mendalam: jangan remehkan ketakutan anak. "Kita sering tergoda bilang 'itu kan tidak nyata,'" ungkap seorang mentor parenting. "Padahal, bagi mereka, monster di lemari sama nyatanya dengan rasa lapar. Validasi dulu, baru ajak mereka mencari cara mengatasinya."

Di penghujung sore, anak-anak memamerkan karya mereka dengan bangga. Dinding ruangan berubah menjadi galeri mini penuh warna, saksi bisu perjalanan emosional para peserta. Seorang anak lelaki menunjuk gambarnya: monster dengan topi dan senyum lebar. "Namanya Jojo," katanya lantang. "Dia takut gelap, tapi aku ajari dia nyanyi. Sekarang dia temanku."

Perjalanan menaklukkan rasa takut memang tak bisa selesai dalam satu sore. Namun, di Fimelahood Playdate, benih-benih keberanian sudah ditanam. Lewat cerita yang menyentuh dan aktivitas yang membebaskan, anak-anak belajar bahwa ketakutan bukanlah musuh abadi—ia bisa dijinakkan, bahkan dijadikan sahabat dalam kesederhanaan yang hangat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User