Di sebuah aula yang dipenuhi cahaya temaram, pria berkacamata itu berdiri di depan podium. Suaranya tenang, tetapi setiap katanya seperti menancap di dada para hadirin. Menteri Kebudayaan Fadli Zon sedang mengenang sosok yang telah tiada hampir tiga setengah abad lamanya, namun jejaknya masih terasa begitu hidup: Syekh Yusuf Al-Makassari.
"Empat abad bukan waktu yang singkat," ujarnya pelan, seolah sedang berbicara kepada kawan lama, bukan kepada ratusan pasang mata yang menyimak. "Namun warisan beliau justru semakin relevan di zaman yang serba cepat ini."
Peringatan 400 tahun kelahiran ulama asal Makassar itu bukan sekadar seremoni tahunan. Ia menjadi semacam perjalanan pulang, mengajak siapa pun yang hadir untuk menengok kembali sosok yang pernah mengembara dari Gowa hingga ke tanah Afrika Selatan, membawa nama Nusantara di pundaknya.
Perjalanan Seorang Pengembara Ilmu
Syekh Yusuf bukan tokoh yang lahir dan besar di satu tempat lalu berdiam di sana. Ia mengisahkan perjalanan panjang seorang pencari ilmu yang tak pernah puas. Dari belajar di Banten, melanjutkan ke Aceh, lalu menimba pengetahuan di Yaman dan Mekah, hingga akhirnya diasingkan oleh Belanda ke Sri Lanka dan Cape Town.
"Beliau adalah bukti bahwa orang Indonesia sudah mendunia jauh sebelum kata globalisasi ditemukan," ujar Fadli Zon dengan nada kagum. "Di setiap tempat yang disinggahinya, ia meninggalkan jejak peradaban."
Jejak itu bukan hanya berupa ajaran agama, tetapi juga cara berpikir, seni, dan tradisi. Di Cape Town, Syekh Yusuf dikenal sebagai bapak spiritual komunitas Muslim pertama di sana. Hingga kini, namanya diabadikan dalam berbagai tempat, dan setiap tahun ribuan orang datang berziarah ke makamnya.
"Beliau tidak pernah membawa senjata. Yang beliau bawa hanya ilmu dan akhlak. Tapi justru itu yang membuat penjajah takut," kata Fadli Zon, suaranya sedikit bergetar.
Kutipan itu menggantung di udara. Beberapa hadirin tampak mengangguk, yang lain menyeka sudut mata. Suasana ruangan berubah menjadi semacam ruang refleksi bersama.
Di Balik Layar Diplomasi Budaya
Bagi Fadli Zon, sosok Syekh Yusuf adalah contoh sempurna bagaimana diplomasi budaya seharusnya bekerja. Tanpa paksaan, tanpa kekerasan, seorang ulama dari pelosok Nusantara mampu menembus batas-batas negara dan keyakinan. Ia diterima bukan karena kekuatan, tetapi karena kearifan.
"Diplomasi budaya bukan soal mengirim penari ke luar negeri lalu pulang. Ini soal menanamkan nilai, meninggalkan kesan, dan membangun jembatan yang tak mudah runtuh," terangnya.
Pemerintah, lanjut dia, sedang berupaya menjadikan warisan Syekh Yusuf sebagai bagian dari ingatan kolektif bangsa. Tidak hanya lewat peringatan, tetapi juga melalui riset, penerbitan, dan pendidikan karakter di sekolah-sekolah.
"Anak-anak kita perlu tahu bahwa sebelum ada dunia digital, ada manusia yang sudah menembus batas dengan ilmu," tambahnya.
Mimpi yang Tak Pernah Padam
Di sudut ruangan, seorang perempuan paruh baya mengenakan kain tradisional Makassar tampak menunduk. Namanya tidak disebut, tetapi ia datang dari jauh, hanya untuk memastikan bahwa sosok yang dihormatinya tidak dilupakan.
"Saya hanya ingin anak cucu saya tahu, ada orang dari kampung kami yang dihormati di negeri orang," katanya lirih.
Momen-momen sederhana seperti itulah yang membuat peringatan 400 tahun Syekh Yusuf terasa berbeda. Bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah panggilan untuk bangkit dan meneladani semangat seorang pengembara ilmu.
Fadli Zon menutup sambutannya dengan sebuah pesan yang menggantung panjang: "Jika Syekh Yusuf mampu menembus dunia di usia yang serba terbatas, apa alasan kita untuk tidak berbuat lebih?"
Pertanyaan itu tidak memerlukan jawaban lisan. Ia menuntut jawaban berupa tindakan. Dan di situlah warisan sejati seorang Syekh Yusuf Al-Makassari menemukan maknanya kembali, empat abad setelah ia pertama kali menghirup udara dunia.
Comments (0)