Oct 12, 2026
entertainment

Pucuk Labu, Renyah Cinta Seorang Ibu di Dapur Sederhana

Di sudut dapur berukuran 2x3 meter itu, Suparni (58) menunduk dalam-dalam. Jari-jarinya yang keriput memilah satu per satu pucuk labu yang baru dipetik dari kebun belakang rumah. Daun-daun muda berwar...

Pucuk Labu, Renyah Cinta Seorang Ibu di Dapur Sederhana

Di sudut dapur berukuran 2x3 meter itu, Suparni (58) menunduk dalam-dalam. Jari-jarinya yang keriput memilah satu per satu pucuk labu yang baru dipetik dari kebun belakang rumah. Daun-daun muda berwarna hijau pucat itu diletakkannya di atas tampah bambu, sembari sesekali meniup sisa tanah yang masih menempel. "Yang muda saja, yang tuanya dibuang. Kalau tidak, keras di gigi," ujarnya lirih, Sabtu (11/1/2025) pagi.

Pucuk labu atau yang di beberapa daerah disebut pucuk waluh, bagi Suparni bukan sekadar sayuran. Ia mengisahkan, sejak suaminya meninggal sepuluh tahun lalu, tanaman labu di pekarangan menjadi penyambung hidup. Dari satu batang merambat di pagar kayu, ia bisa memanen pucuk hampir setiap dua hari. "Dulu suami saya yang nanam. Sekarang saya lanjutkan. Rasanya seperti masih ada dia di sini," tuturnya sambil tersenyum tipis, mata yang mulai sayu menahan air mata.

Rahasia Renyah di Tangan Seorang Nenek

Banyak orang mengeluh pucuk labu jadi lembek dan berlendir saat ditumis. Suparni punya rahasia yang ia pelajari turun-temurun dari ibunya di Kampung Cikandang, Garut. Pertama, pucuk labu harus dicuci bersih lalu diremas perlahan dengan sedikit garam selama tidak lebih dari satu menit. "Jangan kelamaan, nanti hancur. Cukup sampai layu sedikit," pesannya. Kedua, ia selalu menumis dengan api besar dan waktu singkat. "Bawang putihnya digeprek, bukan diiris. Biar wanginya keluar lebih tajam."

Menurut Suparni, minyak kelapa kampung hasil olahan sendiri memberi aroma khas yang tidak bisa digantikan minyak pabrik. Ia memanaskan wajan besi tuanya hingga hampir berasap, lalu memasukkan lima siung bawang putih geprek dan dua cabai rawit utuh. Dalam hitungan detik, aroma harum memenuhi dapur. Pucuk labu dimasukkan, diaduk cepat, ditaburi sedikit garam dan sejumput gula. Tidak perlu air, tidak perlu penyedap. "Cukup tiga puluh detik. Angkat. Jangan sampai lembek," katanya tegas.

Hasilnya? Pucuk labu yang masih berwarna hijau cerah, batangnya terasa renyah saat digigit, dengan rasa manis alami bercampur gurih bawang putih. Sensasi renyah itulah yang membuat hidangan sederhana ini selalu dirindukan keluarga besar Suparni yang kini tersebar di Jakarta dan Bandung. Setiap kali pulang kampung, anak-anaknya minta dimasakkan tumis pucuk labu. "Kata anak saya, rasanya tidak ada di restoran mana pun," ujarnya bangga.

Perjalanan Sebuah Sayuran Humble

Pucuk labu memang kerap dianggap sayuran kelas bawah. Di pasar tradisional, seikat pucuk labu dijual hanya Rp2.000 hingga Rp5.000. Namun di balik kesederhanaannya, tanaman ini disebut-sebut kaya nutrisi. Beberapa penelitian menyebut pucuk labu mengandung vitamin A, C, kalsium, dan serat yang baik untuk pencernaan. "Orang kota beli sayuran mahal, saya cukup petik di belakang rumah. Rezeki tidak harus mahal," kata Suparni.

Kisah Suparni bukan kisah tunggal. Di banyak kampung, perempuan-perempuan sepuh seperti dia adalah penjaga resep warisan yang tidak pernah tertulis. Mereka menyimpan pengetahuan soal pucuk labu muda yang tepat, waktu menumis yang pas, hingga cara mengemasnya agar tahan lama. Di balik setiap tumis yang renyah, ada tangan-tangan yang berjuang menjaga tradisi agar tidak hilang ditelan zaman.

Ketika Dapur Menjadi Ruang Berbagi

Belakangan, Suparni mulai mengajarkan resep tumis pucuk labunya kepada anak-anak muda di kampung. Ia membuka kelas memasak kecil-kecilan di teras rumah setiap Minggu pagi. Pesertanya tak banyak, sekitar sepuluh orang, tapi ia senang. "Saya tidak mau resep ibu saya hilang. Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi?" ucapnya dengan mata berbinar.

Salah satu muridnya, Rina (23), mengaku awalnya ragu bisa menumis pucuk labu seenak gurunya. "Tapi Bu Suparni sabar sekali. Beliau bilang, masak itu soal rasa, bukan sekadar resep. Harus pakai cinta," tuturnya haru. Kini Rina rutin memasak tumis pucuk labu untuk keluarganya di kos. Baginya, hidangan itu bukan lagi menu murah, melainkan pengingat akan kehangatan rumah.

Momen paling mengharukan terjadi ketika anak bungsu Suparni, Dedi, pulang dari perantauan bulan lalu. Tanpa diminta, ia langsung masuk dapur dan meminta ibunya mengajari cara memetik pucuk labu yang benar. "Saya mau bisa masak ini kalau nanti Ibu sudah tidak ada," katanya lirih. Suparni hanya terdiam, lalu memeluk anaknya erat-erat. Air mata jatuh di tampah bambu yang sama, di tempat yang sama, seperti sepuluh tahun silam saat ia kehilangan suaminya.

Sore itu, sepiring tumis pucuk labu bawang putih tersaji di meja kayu tua. Renyah, hangat, sederhana. Di atasnya, Suparni menaburkan sedikit bawang goreng. "Ini bukan cuma makanan," katanya penuh arti. "Ini cara saya bilang, saya masih di sini, menjaga semuanya." Bagi banyak orang, tumis pucuk labu mungkin hanya lauk pelengkap. Tapi di dapur kecil itu, ia adalah kisah tentang cinta, kehilangan, dan bangkit kembali — semua dalam satu gigitan renyah yang menyentuh hati.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User