Oct 11, 2026
entertainment

Menggambar Cinta Untuk Diri Sendiri

Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, hanya ada satu sumber cahaya yang setia menemaninya setiap malam. Sebuah lampu belajar berwarna kuning keemasan menerangi wajah seorang gadis berusia dua pulu...

Menggambar Cinta Untuk Diri Sendiri

Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, hanya ada satu sumber cahaya yang setia menemaninya setiap malam. Sebuah lampu belajar berwarna kuning keemasan menerangi wajah seorang gadis berusia dua puluh dua tahun yang duduk bersila di atas karpet lusuh. Kertas, pensil, penghapus dan beberapa alat mewarnai bertebaran di sekelilingnya. Dengan kedua tangan yang ia lipat di atas pangkuan, ia menatap pantulan dirinya sendiri di cermin kecil yang ditempelkan di atas mejanya. Bukan untuk merapikan rambut, namun untuk mengumpulkan keberanian. Keberanian untuk mulai menggambar wajahnya sendiri, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun ia berusaha untuk menghindarinya.

Gadis itu bernama Dira. Bagi kebanyakan orang, menggambar wajah sendiri mungkin terdengar sepele. Namun, bagi Dira, ini merupakan salah satu perjuangan terberat yang pernah ia lalui. Sejak duduk di bangku sekolah, Dira terbiasa mendengar cibiran tentang bentuk wajahnya, warna kulitnya, maupun bentuk tubuhnya. Kalimat-kalimat yang dilontarkan dengan enteng itu, tanpa disadari, telah tertanam begitu dalam di hatinya. Perlahan, ia mulai membenci apa yang ia lihat di cermin. Ia akan mengalihkan pandangan setiap kali melewatinya, bahkan enggan untuk mengambil foto bersama teman-temannya. Rasa tidak cukup itu terus membuntutinya hingga ia dewasa, menggerogoti mimpi dan kepercayaan dirinya sedikit demi sedikit.

Di Balik Layar Ketidaksukaan Diri

Ilustrasi selalu menjadi tempat pelarian bagi Dira. Sejak kecil, ia gemar mencoret-coret kertas dengan sketsa bunga, awan, hewan kecil maupun karakter imajinasinya. Lewat goresan pensilnya, ia bisa menciptakan dunia yang jauh lebih indah dari apa yang tengah ia rasakan. Dunia di mana semua makhluk dicintai apa adanya, tanpa syarat dan tanpa cela. Namun, ada satu hal yang tidak pernah berani ia masukkan kedalam karyanya, yaitu dirinya sendiri. Setiap kali niat itu muncul, tangannya akan membeku. Ia merasa tidak pantas untuk menjadi objek yang indah di atas kertas miliknya sendiri.

Perjalanan ini mengisahkan betapa sulitnya seseorang untuk melihat kebaikan pada dirinya, padahal dengan mudah ia bisa melihatnya pada orang lain. Dira mengaku bahwa ia bisa menghabiskan berjam-jam untuk memperindah ilustrasi orang lain, namun hanya butuh sedetik untuk menghapus seluruh sketsanya sendiri. Rasa malu pada diri sendiri telah menjadi tembok yang jauh lebih tinggi dibandingkan apapun yang pernah ia hadapi.

Hingga pada suatu malam, di tengah keheningan kamarnya, Dira merasa lelah. Lelah untuk terus berlari dari pantulannya. Lelah untuk terus menghukum dirinya atas sesuatu yang tidak bisa ia ubah. Di situlah, lahir sebuah tekad kecil di dalam hatinya untuk mencoba sekali lagi. Bukan untuk sempurna, namun untuk berani.

Momen Mengharukan Saat Goresan Pertama

Dira mulai menggoreskan pensilnya dengan sangat pelan. Tangannya bergetar, namun ia terus melanjutkannya. Ia menggambar garis rahang, bentuk mata, lekuk alis, hingga rambut ikalnya yang selalu ia kuncir asal. Setiap goresan terasa seperti ia sedang membersihkan luka-lama yang selama ini tersembunyi. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, namun ia biarkan saja jatuh. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kelegaan yang telah lama tertahan.

Ketika sketsa itu hampir selesai, Dira terdiam. Ia menatap hasil karyanya dengan seksama, lalu beralih menatap cerminnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak melihat cacat. Ia melihat seorang gadis yang tangguh. Seorang gadis yang telah berjuang sendirian dengan begitu hebatnya untuk tetap bertahan hingga hari ini. Seorang gadis yang, meski pernah hancur berkali-kali, tetap memilih untuk bangkit dan melanjutkan hidupnya. Terdapat kehangatan yang tiba-tiba memenuhi dadanya, sebuah perasaan yang asing, namun begitu menyentuh. Perasaan itu adalah cinta.

"Aku baru sadar, selama ini aku begitu sibuk mencari alasan untuk membenci diriku, sampai-sampai aku lupa untuk mencari alasan untuk mencintainya. Ternyata, alasan itu ada di setiap tarikan napasku."

Berbagi Mimpi dan Menjadi Inspirasi

Sejak momen mengharukan itu, Dira memutuskan untuk tidak lagi menyembunyikan ilustrasi dirinya. Ia mulai membagikannya secara perlahan melalui akun kecil miliknya. Tanpa ekspektasi, namun dengan harapan bahwa mungkin ada orang lain diluar sana yang merasakan hal yang sama dengannya. Tanggapan yang ia terima, jauh melampaui apa yang bisa ia bayangkan. Banyak pesan masuk dari orang-orang yang mengaku bahwa karyanya telah memberi mereka keberanian untuk melihat diri mereka dengan lebih lembut.

Di balik layar kesibukannya membalas pesan, Dira sering termenung. Siapa sangka, goresan pensil sederhana miliknya bisa menjadi secercah harapan bagi orang lain? Namun, yang paling berharga baginya, adalah perubahan yang terjadi di dalam dirinya sendiri. Ia kini bisa tersenyum saat melihat pantulannya. Ia bisa tertawa lepas di depan kamera. Yang dulunya merupakan mimpi yang terasa mustahil, kini menjadi bagian dari kesehariannya yang paling sederhana, namun paling berharga.

Dira terus berjuang untuk menjaga rasa cinta itu. Ia tahu, tidak selalu mudah. Ada kalanya keraguan itu kembali datang berbisik, berusaha menariknya kembali ke lubang yang sama. Namun, setiap kali itu terjadi, ia akan kembali duduk di sudut kamarnya, mengambil pensilnya, dan menggambar dirinya sekali lagi. Hanya untuk mengingatkan hatinya bahwa ia layak dicintai, tepat seperti apa adanya.

Mencintai Yang Sederhana

Kisah Dira menjadi sebuah inspirasi bahwa mencintai diri sendiri bukanlah hal yang egois. Bukan berarti kita harus merasa lebih baik dari orang lain, namun berarti kita memilih untuk berhenti melukai diri kita dengan kata-kata yang kejam. Terkadang, bentuk cinta paling besar adalah menerima bekas luka, merangkul ketakutan, dan tetap memilih untuk peduli pada diri sendiri di hari-hari tersulit.

Dira masih duduk di ruangan yang sama, dengan lampu yang sama, dan cermin kecil yang sama. Namun, tatapannya kini berbeda. Ia tidak lagi mencari kesempurnaan, ia mencari kejujuran. Melalui setiap goresan, ia mengajarkan kita semua bahwa keindahan tidak selalu berjarak jauh. Terkadang, keindahan itu bersembunyi tepat di balik pantulan yang selama ini kita hindari. Dan mungkin, sudah saatnya kita semua berhenti berlari darinya, lalu mulai menggambar cinta untuk diri kita sendiri, satu goresan demi satu goresan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User