Aug 25, 2026
entertainment

Menanti The Script: Jadwal Jual Tiket Konser Jakarta 2027

Di sebuah kamar kos berukuran 3x4 meter di bilangan Jakarta Selatan, Rani menatap layar ponselnya lama-lama. Tangannya gemetar saat notifikasi itu muncul tepat pukul satu dini hari: The Script akan ma...

Menanti The Script: Jadwal Jual Tiket Konser Jakarta 2027

Di sebuah kamar kos berukuran 3x4 meter di bilangan Jakarta Selatan, Rani menatap layar ponselnya lama-lama. Tangannya gemetar saat notifikasi itu muncul tepat pukul satu dini hari: The Script akan manggung di Indonesia Arena, Jakarta, pada 3 April 2027. Ia sempat membaca ulang tiga kali, seolah tak percaya. Lalu ia menekan tombol berbagi ke grup keluarga, dengan satu kalimat yang hanya berbunyi, "Akhirnya, Ma. Dia datang."

Rani hanyalah satu dari ribuan wajah yang menyimpan mimpi yang sama. Sejak pertama kali mendengar "The Man Who Can't Be Moved" di radio sekolah menengahnya, ia menyimpan janji kecil pada dirinya sendiri: suatu hari ia akan mendengar suara Danny O'Donoghue secara langsung, dari barisan penonton, sambil bernyanyi sekuat tenaga. Kini, janji itu perlahan menemukan jalannya.

Jadwal Penjualan Tiket yang Dinanti Bertahun-tahun

Kepastian itu datang lewat pengumuman resmi yang menyebut konser akan digelar di Indonesia Arena, kawasan Gelora Bung Karno, pada 3 April 2027. Bersamaan dengan itu, panitia merilis jadwal penjualan tiket beserta daftar harganya. Para penggemar yang selama ini hanya bisa menonton konser lewat rekaman di layar kini punya tanggal yang bisa mereka coret di kalender.

Di berbagai komunitas penggemar, unggahan soal jadwal penjualan itu langsung membanjiri linimasa. Ada yang membagikan tangkapan layar, ada yang menghitung uang tabungannya berulang-ulang, ada pula yang mulai berdiskusi soal kategori tempat duduk terbaik. Suasana seperti perayaan kecil: orang-orang asing yang saling tersenyum karena tahu mereka sedang memeluk mimpi yang sama.

Perjalanan Panjang Menabung Sebuah Mimpi

Di balik layar kegembiraan itu, ada perjuangan yang tak terlihat. Andi, seorang pekerja swasta berusia 31 tahun, mengakui ia sudah menabung untuk momen ini sejak 2023. "Setiap bulan saya sisihkan, meski kadang cuma lima puluh ribu. Semua saya simpan di satu amplop bertuliskan 'The Script'. Teman-teman saya sempat menertawakan, tapi saya tidak peduli," ujarnya, dengan mata yang berkaca-kaca. "Ini bukan sekadar konser. Ini tentang saya membuktikan pada diri sendiri bahwa mimpi lama itu layak diperjuangkan."

Kisah serupa datang dari Sari, ibu dua anak asal Bekasi yang membawa anak bungsunya ikut bernyanyi "Hall of Fame" setiap pagi menuju sekolah. Baginya, lagu-lagu The Script adalah peta masa mudanya — saat ia berjuang meraih beasiswa, saat ia bangkit dari patah hati, saat ia belajar memaafkan. "Saya ingin anak-anak saya tahu bahwa ibunya punya masa lalu yang indah, dan masa lalu itu berhak dirayakan," katanya.

Air Mata di Balik Antrean Panjang

Momen mengharukan juga muncul di ruang-ruang diskusi daring. Seorang penggemar bercerita bahwa ia dan sahabatnya berjanji sejak kuliah untuk menonton The Script bersama. Sahabatnya kini telah tiada, dan ia berniat membeli dua tiket: satu untuk dirinya, satu untuk kursi kosong yang akan ia isi dengan bunga. "Saya ingin mendengar 'If You Ever Come Back' sambil merasa dia ada di sebelah saya," tulisnya, dan unggahan itu dibanjiri dukungan dari ribuan orang yang tak pernah bertemu dengannya.

Cerita-cerita seperti inilah yang membuat konser tak pernah sekadar menjadi panggung musik. Ia adalah ruang di mana orang-orang berkumpul, masing-masing mengisahkan perjalanan hidupnya lewat nyanyian — yang sederhana sekaligus menyentuh. Ada yang datang membawa beban kerja, ada yang datang membawa luka lama, ada yang datang hanya untuk bernyanyi sekuat-kuatnya agar semuanya terlepas.

Sebuah Janji yang Kini Menemukan Jalannya

Menjelang hari-H, para penggemar mulai menyiapkan segala hal: menyetel alarm, menguji koneksi internet, meminta bantuan saudara untuk ikut membeli tiket dari perangkat berbeda. Ritual kecil yang tampak sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan harapan yang besar. Bagi banyak orang, memiliki tiket konser bukanlah sekadar bukti transaksi. Ia adalah tanda bahwa mimpi yang bertahun-tahun dipelihara akhirnya berani dipegang erat-erat.

Rani, yang semula hanya menatap notifikasi dengan tangan gemetar, kini sudah menghitung mundur di ponselnya. "Saya mungkin akan menangis begitu lagu pertama dimulai," katanya sambil tertawa kecil. "Tapi itu tidak apa-apa. Saya sudah menunggu terlalu lama untuk menyembunyikan air mata."

Di Indonesia Arena pada 3 April 2027 nanti, ribuan orang akan berkumpul membawa kisahnya masing-masing. Mungkin di antara mereka ada yang datang sendiri, ada yang menggandeng anak, ada yang memeluk foto seorang sahabat. Yang pasti, malam itu bukan hanya tentang sebuah band yang tampil di panggung. Malam itu tentang mimpi-mimpi yang akhirnya sampai di pelabuhannya — dan tentang orang-orang biasa yang berani percaya bahwa menunggu itu selalu punya akhir yang manis.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User