Oct 10, 2026
entertainment

Meluncur di Trotoar Kampung, Hoverboard Murah yang Mengubah Cara Anak Bermain

Di sebuah gang sempit di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, dua anak berusia sepuluh tahun bergantian berdiri di atas papan setinggi lutut mereka. Roda itu berputar pelan, memantulkan cahaya lampu ja...

Meluncur di Trotoar Kampung, Hoverboard Murah yang Mengubah Cara Anak Bermain

Di sebuah gang sempit di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, dua anak berusia sepuluh tahun bergantian berdiri di atas papan setinggi lutut mereka. Roda itu berputar pelan, memantulkan cahaya lampu jalan yang mulai menyala. Salah satunya, Rafi, menggenggam erat ujung pagar tetangga sebelum akhirnya memberanikan diri meluncur sejauh lima meter. Tawanya pecah. "Ini kayak terbang, Kak," katanya, mata berbinar. Papan bergaya hoverboard itu baru ia dapatkan sepekan lalu — hadiah dari sang ibu yang menabung selama tiga bulan. Harganya tak sampai satu juta rupiah, jauh dari bayangan Rafi bahwa alat semacam itu selalu mahal.

Ketika Mimpi Kecil Bertemu Harga yang Bersahabat

Hoverboard, papan roda dua yang bergerak berdasarkan keseimbangan tubuh, memang sempat dianggap barang mewah. Beberapa tahun silam, harganya bisa menembus angka lima juta rupiah. Namun gelombang produksi lokal dan masuknya merek-merek baru membuat harga merosot drastis. Kini, di marketplace dan toko mainan pinggir jalan, papan itu bisa didapat mulai dari Rp400 ribuan hingga Rp1,2 juta tergantung kualitas baterai, motor, dan fitur Bluetooth. "Saya sempat ragu, takut cepat rusak. Tapi ternyata anak saya pakai setiap sore, sudah empat bulan, masih aman," ujar Yanti, ibu Rafi, saat ditemui di rumahnya. Ia mengisahkan bagaimana sang anak begitu bersemangat hingga lupa bermain gawai. "Dulu dia cuma diam di kamar. Sekarang? Saya harus panggil tiga kali baru pulang," tambahnya sambil tersenyum kecut, campur bahagia.

Pemandangan serupa juga terlihat di kompleks perumahan di Bandung. Sekelompok remaja SMP berlatih trik sederhana — berputar pelan, maju-mundur, sesekali terjatuh. Mereka tak canggung. "Kalau jatuh ya bangun lagi, gak ada yang mati," celetuk Aldi, salah satu di antara mereka, disambut tawa teman-temannya. Di balik canda itu, ada cerita perjuangan. Aldi mengaku harus membantu ayahnya berjualan gorengan selama sebulan untuk membeli hoverboard bekas seharga Rp650 ribu. "Uangnya saya kumpulin sendiri. Rasanya beda, lebih bangga," ujarnya.

Memilih dengan Cermat, Bukan Sekadar Murah

Meski harga kian terjangkau, para pengguna dan penjual mengingatkan pentingnya memilih dengan bijak. Pemilik toko mainan elektronik di kawasan Blok M, Hendra, menjelaskan bahwa harga murah sering kali berbanding lurus dengan kapasitas baterai. "Yang murah biasanya 4,4 Ah. Pemakaian bisa satu sampai satu setengah jam. Kalau yang lebih mahal, bisa dua jam lebih," jelasnya. Ia menyarankan pembeli memperhatikan tiga hal: jenis baterai, kekuatan motor, dan fitur keselamatan seperti auto-shutdown dan alarm kecepatan. "Bukan soal mahal-murahnya saja, tapi keamanan anak. Jangan asal beli yang paling murah kalau motor dan baterainya tidak jelas," pesannya.

Selain itu, ukuran roda dan lebar papan perlu disesuaikan dengan usia pemakai. Untuk anak di bawah sepuluh tahun, papan berukuran 6,5 inci lebih mudah dikendalikan. Sementara remaja atau orang dewasa bisa memilih roda 8 hingga 10 inci yang lebih stabil di permukaan tidak rata. "Saya selalu tes dulu sebelum beli. Pastikan tidak goyang, tidak berbunyi aneh, dan lampunya berfungsi semua," ujar Sari, seorang pembeli lain, usai mencoba sebuah hoverboard di toko Hendra. Ia mengaku membeli untuk hadiah ulang tahun anaknya. "Saya ingin anak saya merasakan serunya bermain di luar, bukan cuma lihat layar," ujarnya.

Lebih dari Sekadar Mainan

Di balik gemuruh roda dan cahaya lampu LED, hoverboard menyimpan cerita yang lebih dalam. Ia menjadi sarana belajar keseimbangan, keberanian, dan kepercayaan diri. Banyak orang tua mengisahkan perubahan kecil yang mengharukan. "Anak saya yang dulu takut jatuh, sekarang malah mengajari teman-temannya," tutur Rina, warga Bekasi. "Momen itu bikin saya terharu. Ternyata dari mainan sederhana, dia belajar bangkit." Fenomena ini menunjukkan bahwa kebahagiaan tak selalu datang dari harga mahal. Dengan pilihan yang tepat dan pengawasan yang cukup, hoverboard murah bisa menjadi jembatan bagi anak-anak untuk kembali bergerak, tertawa, dan bermimpi.

Di gang Ciputat, Rafi kembali meluncur, kali ini sedikit lebih jauh. Ia hampir jatuh, tetapi berhasil menyeimbangkan tubuh. "Yeay! Aku bisa!" teriaknya. Sang ibu berdiri di ambang pintu, menutup mulut dengan tangan, mata berkaca. "Saya cuma ingin dia bahagia," bisiknya. Dan malam itu, di atas papan kecil yang berputar pelan, kebahagiaan itu nyata — sederhana, murah, tetapi menyentuh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User