Oct 10, 2026
entertainment

Dompet Lipat: Teman Setia Pria di Saku Celana

Di sebuah kedai kopi kecil di sudut Jalan Kemang, Jakarta Selatan, seorang pria berusia tiga puluhan bernama Raka duduk termenung. Tangannya merogoh saku belakang celana, lalu mengeluarkan sebuah domp...

Dompet Lipat: Teman Setia Pria di Saku Celana

Di sebuah kedai kopi kecil di sudut Jalan Kemang, Jakarta Selatan, seorang pria berusia tiga puluhan bernama Raka duduk termenung. Tangannya merogoh saku belakang celana, lalu mengeluarkan sebuah dompet lipat berbahan kulit cokelat tua. Usianya sudah lima tahun, tapi jahitannya masih rapi. Di dalamnya hanya ada beberapa lembar uang, dua kartu bank, dan satu foto kecil seorang perempuan yang tersenyum. "Ini bukan sekadar dompet," ujarnya pelan. "Ini tempat saya menyimpan hal-hal yang paling saya jaga."

Kisah Raka mungkin terdengar sederhana, tapi bagi banyak pria, dompet lipat adalah benda yang jauh lebih personal dari yang terlihat. Ia bukan aksesori mahal atau barang mewah yang dipamerkan. Justru sebaliknya, dompet lipat hadir dalam bentuknya yang mungil, sering kali tersembunyi di saku, namun setia menemani setiap perjalanan. Dari rapat pagi yang tergesa-gesa, perjalanan dinas ke luar kota, hingga momen kecil saat membayar kopi untuk seseorang yang istimewa.

Pilihan yang Tak Sekadar Soal Gaya

Berbicara soal dompet lipat, sebagian orang mungkin menganggapnya sebagai pilihan klasik yang tak pernah lekang waktu. Namun di balik bentuknya yang ringkas, ada pertimbangan fungsional yang membuatnya tetap relevan. Seorang pengrajin kulit asal Yogyakarta, Bagas, mengisahkan bagaimana ia telah membuat ratusan dompet lipat selama lebih dari satu dekade. "Pria itu cenderung praktis," katanya sambil menggosok lembaran kulit sapi. "Mereka tidak mau ribet. Dompet harus muat di saku, tidak bikin celana berat, tapi tetap bisa menampung kartu dan uang dengan aman."

Bagas bercerita, banyak pelanggannya datang bukan karena ingin tampil bergaya, melainkan karena butuh teman yang bisa diandalkan. Ada seorang pedagang yang dompetnya selalu basah karena kehujanan saat berjualan. Ada pula seorang ayah yang menyelipkan uang jajan anaknya di kompartemen tersembunyi. "Setiap dompet punya ceritanya sendiri," ujarnya. "Saya cuma yang menjahit, tapi yang menghidupkan itu pemiliknya."

Momen Kecil yang Mengharukan

Bagi Raka, dompet lipatnya menyimpan kenangan yang tak ternilai. Ia mengisahkan saat pertama kali membeli dompet itu bersama mendiang ayahnya. Waktu itu ia masih mahasiswa, uangnya pas-pasan, dan ayahnya menawarkan untuk membelikan satu dompet yang bagus. "Bapak bilang, dompet itu bukan buat gaya-gayaan. Buat jaga uang, jaga kepercayaan, dan jaga martabat," kenangnya dengan mata berkaca-kaca. Kini, setiap kali ia membuka dompet itu, ia seperti mendengar kembali nasihat sang ayah.

Cerita semacam ini bukan hal langka. Di berbagai kota, dompet lipat sering menjadi barang pertama yang dibeli seorang pria ketika ia mulai bekerja. Ada yang membelinya dari hasil gaji pertama, ada yang mendapatkannya sebagai hadiah kelulusan. Benda mungil itu kemudian menjadi saksi bisu perjalanan hidup: dari kesulitan, kebanggaan, hingga momen-momen sederhana seperti mentraktir teman atau menyisihkan uang untuk menabung.

Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

Di era dompet digital dan pembayaran tanpa uang tunai, keberadaan dompet lipat memang sempat dipertanyakan. Namun nyatanya, ia tetap dicari. Sejumlah perajin mengaku pesanan dompet lipat tidak pernah sepi, bahkan cenderung stabil. "Mungkin karena orang butuh sesuatu yang bisa dipegang," kata Bagas. "Kalau di layar hp, rasanya beda. Dompet itu nyata, bisa dibuka, bisa ditutup, ada suara kliknya."

Pilihan dompet lipat pria pun kini semakin beragam. Mulai dari yang berbahan kulit asli, kulit sintetis, hingga kanvas. Ada yang tipis dengan sedikit kompartemen, ada pula yang lebih tebal dengan banyak slot kartu. Ukurannya pun bervariasi, dari yang bisa masuk saku kemeja hingga yang pas di saku celana. Semua dirancang untuk satu tujuan yang sama: menemani aktivitas harian dengan tenang dan aman.

Pada akhirnya, dompet lipat bukanlah sekadar benda mati. Ia adalah teman perjalanan, penyimpan rahasia kecil, dan pengingat akan nilai-nilai sederhana. Seperti yang diungkapkan Raka sebelum menutup dompetnya kembali, "Barang ini kecil, tapi fungsional. Dan kadang, hal-hal kecil yang paling setia menemani kita." Di sudut kedai kopi itu, dompet cokelat tua kembali masuk ke saku, siap menemani langkah berikutnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User