Mantan ART Ajukan Gugatan Rp1 Miliar, Cerita di Balik Perjuangan Nur Rohmah
Pagi itu, sinar matahari masuk malu-malu melalui celah jendela sebuah rumah sederhana di pinggiran kota. Di dalamnya, seorang perempuan berusia setengah baya duduk termenung di tepi dipan kayu. Matany...
Pagi itu, sinar matahari masuk malu-malu melalui celah jendela sebuah rumah sederhana di pinggiran kota. Di dalamnya, seorang perempuan berusia setengah baya duduk termenung di tepi dipan kayu. Matanya sembab, namun sorotnya tetap menyimpan sepercik keteguhan. Dialah Nur Rohmah, mantan asisten rumah tangga yang kini tengah menempuh jalan panjang demi mendapatkan kembali harga dirinya. Tangannya yang kasar—bekas bertahun-tahun menggosok lantai dan mencuci piring—kini memegang selembar surat gugatan perdata senilai Rp1 miliar yang ia layangkan kepada mantan majikannya, seorang perempuan bernama Erin, pemilik nama lengkap Rien Wartia Trigina.
Bukan perkara mudah bagi seorang perempuan yang sehari-harinya bergulat dengan kesulitan ekonomi untuk melawan seseorang yang jauh lebih berkuasa. Namun, Nur Rohmah memilih untuk tidak tinggal diam. Ia mengisahkan bahwa selama bekerja, ia kerap menerima perlakuan yang jauh dari kata layak. “Saya hanya ingin keadilan,” ujarnya lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh suara kipas angin tua di sudut ruangan. Gugatan ini bukan sekadar tuntutan materi, melainkan puncak dari akumulasi luka batin yang selama ini ia pendam sendirian.
Melangkah dengan Hati Berdebar: Awal Mula Bekerja
Nur Rohmah mengisahkan, perkenalannya dengan keluarga Erin bermula dari ajakan seorang kerabat yang telah lebih dulu bekerja di sana. Kala itu, ia merasa beruntung mendapatkan pekerjaan dengan upah yang dijanjikan cukup untuk menghidupi kedua anaknya yang masih bersekolah. Dengan penuh harap, ia meninggalkan kampung halamannya dan memulai hidup baru di sebuah rumah besar yang asing baginya. “Waktu itu saya berpikir, akhirnya ada jalan rezeki,” kenangnya, sembari mengusap sudut matanya.
Namun, kenyataan tak seindah bayangan. Hari-hari yang dijalaninya jauh lebih berat dari yang ia duga. Jam kerja yang panjang, istirahat yang nyaris tak ada, serta berbagai tuntutan yang kadang di luar batas kemanusiaan menjadi sajian rutin. Ia tidak hanya mengurus rumah, tetapi juga kerap menjadi pelampiasan emosi ketika sang majikan sedang tertekan. Di sinilah benih-benih ketidakadilan mulai tumbuh, menggerogoti semangatnya yang semula berkobar-kobar.
Titik Balik: Luka yang Tak Tertahankan
Puncaknya terjadi pada suatu malam yang dingin. Setelah seharian bekerja tanpa henti, Nur Rohmah dituduh melakukan kesalahan yang tidak pernah ia lakukan. Tuduhan itu disertai kata-kata yang begitu merendahkan martabatnya sebagai manusia. “Rasanya seperti ditampar berkali-kali, meski tangan tak menyentuh pipi,” tuturnya, suaranya bergetar. Malam itu, ia mengemasi barang-barangnya dengan tangan gemetar. Ia pergi dengan langkah lunglai, membawa luka yang lebih dalam dari sekadar lelah fisik.
Setelah meninggalkan rumah tersebut, Nur Rohmah mencoba bangkit. Namun, trauma psikis yang ia alami tidak bisa begitu saja hilang. Rasa percaya dirinya runtuh, dan ia butuh waktu berbulan-bulan untuk sekadar berani bertemu orang baru. Keluarganya-lah yang kemudian mendorongnya untuk mencari keadilan. “Anak saya bilang, ‘Ibu jangan diam saja. Ibu juga manusia,’” ucapnya, matanya berkaca-kaca. Kata-kata anaknya itulah yang menjadi pemicu langkah besar yang kini ia tempuh.
Jalan Hukum yang Terjal dan Tuntutan Rp1 Miliar
Dengan bantuan beberapa pihak yang peduli, Nur Rohmah akhirnya memberanikan diri membawa kasusnya ke ranah perdata. Nilai gugatan Rp1 miliar yang ia ajukan bukanlah angka yang muncul tanpa dasar. Angka itu disusun dengan mempertimbangkan kerugian immateriil yang ia alami: hilangnya masa depan yang dulu ia yakini, derita psikologis yang terus menghantui, serta waktu dan tenaga yang telah ia korbankan tanpa penghargaan yang setimpal. “Uang bukan segalanya. Tapi ini tentang mengembalikan harga diri yang pernah direnggut,” kata kuasa hukumnya yang mendampingi Nur Rohmah selama proses pengajuan gugatan.
Kasus ini menambah daftar panjang ketidakadilan yang dialami para pekerja rumah tangga, yang seringkali luput dari perhatian. Sebelumnya, mantan asisten rumah tangga lain dari keluarga yang sama juga telah menempuh jalur serupa. Hal ini memperlihatkan adanya pola yang mungkin sudah berlangsung lama, namun baru kini berani diungkap. Nur Rohmah berharap, langkahnya ini bisa membuka mata banyak pihak bahwa pekerja rumah tangga bukanlah sosok tanpa hak yang bisa diperlakukan seenaknya.
Di tengah proses hukum yang masih berjalan, Nur Rohmah terus berjuang melawan rasa cemas dan takut. Ia sadar, melawan seseorang dengan sumber daya yang lebih besar bukanlah hal mudah. Namun, di dalam hatinya, ia yakin bahwa kebenaran memiliki jalannya sendiri. “Saya percaya, Tuhan tidak tidur. Dia melihat semuanya,” ucapnya dengan suara yang kali ini terdengar lebih mantap.
Kisah Nur Rohmah bukan sekadar angka Rp1 miliar yang tercantum di atas kertas gugatan. Di balik itu, ada perjalanan panjang seorang perempuan sederhana yang memilih untuk bangkit dari keterpurukan. Ada air mata yang jatuh setiap malam, ada ketakutan yang terus menghantui, dan ada keberanian yang lahir dari luka paling dalam. Sosok seperti Nur Rohmah mengingatkan kita bahwa keadilan bukanlah hadiah cuma-cuma; ia adalah hasil dari perjuangan, seringkali oleh mereka yang paling lemah dan paling sedikit dipedulikan.
Comments (0)