Oct 15, 2026
entertainment

Malam Penghargaan IKAPI 2026 dan Dua Nama yang Bersinar

Di sebuah ruangan yang dipenuhi rak-rak buku dan aroma kertas baru, dua orang duduk tak jauh dari panggung. Brian Khrisna dan Marlina Sutandi menyimak setiap nama yang disebut. Ketika akhirnya nama me...

Malam Penghargaan IKAPI 2026 dan Dua Nama yang Bersinar

Di sebuah ruangan yang dipenuhi rak-rak buku dan aroma kertas baru, dua orang duduk tak jauh dari panggung. Brian Khrisna dan Marlina Sutandi menyimak setiap nama yang disebut. Ketika akhirnya nama mereka bergema dari pengeras suara, suasana berubah. Tepuk tangan mengalir, dan di sudut ruangan itu, beberapa pasang mata basah. Malam IKAPI Awards 2026 bukan sekadar ajang penghargaan tahunan. Ia menjadi panggung bagi kisah-kisah yang jarang tersorot: perjuangan panjang di balik halaman demi halaman.

Perjalanan Panjang Menuju Panggung

Brian Khrisna mengisahkan bahwa perjalanan menuju malam itu tidak pernah lurus. Ada momen ketika ia harus menulis ulang naskahnya berkali-kali, begadang hingga dini hari, dan mempertanyakan apakah karyanya akan pernah menemukan pembaca. "Saya pernah memikirkan untuk berhenti saja," ujarnya dengan suara pelan, seperti sedang mengingat kembali masa-masa sulit itu. Namun, ada satu hal yang membuatnya bertahan: keyakinan bahwa cerita yang ia tulis bisa menyentuh orang lain. Kini, penghargaan itu bukan hanya pengakuan atas karyanya, tetapi juga bukti bahwa mimpi yang dirawat dengan sabar akan menemukan jalannya.

Dua Kategori, Satu Semangat

Yang menarik, Brian dan Marlina menerima penghargaan di dua kategori yang berbeda. Perbedaan itu bukan pemisah, melainkan cerminan kekayaan dunia literasi Indonesia. Brian dikenal lewat karya yang menyentuh sisi personal dan emosional, sementara Marlina membawa pendekatan yang lebih eksploratif. Di balik perbedaan itu, keduanya berbagi satu semangat: menghadirkan karya yang jujur dan bermakna. "Kami bersaing di jalur yang berbeda, tetapi tujuannya sama, yaitu membawa pembaca ke tempat yang jarang mereka kunjungi," kata Marlina sambil tersenyum. Ia mengaku bahwa malam itu menjadi momen mengharukan, bukan karena trofi, tetapi karena melihat rekan-rekan sesama penulis saling mendukung.

Di Balik Layar yang Tidak Terlihat

Penghargaan sering kali hanya menampilkan kilau panggung. Padahal, di balik layar, ada begitu banyak air mata dan kerja keras yang tidak terlihat. Marlina mengenang masa-masa ketika ia harus membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan menulis. "Ada malam ketika anak saya tidur dengan buku catatan saya di sampingnya," kenangnya, matanya berkaca-kaca. "Saya merasa bersalah, tetapi saya juga tahu bahwa saya sedang berjuang untuk sesuatu yang penting." Cerita seperti ini jarang terdengar dalam pemberitaan tentang penghargaan, tetapi justru inilah yang membuat pencapaian mereka terasa lebih manusiawi.

Inspirasi bagi Generasi Berikutnya

Bagi Brian dan Marlina, penghargaan ini bukan garis akhir. Keduanya berharap karya mereka bisa menjadi inspirasi bagi penulis muda yang sedang berjuang. "Jangan takut untuk memulai dari hal-hal sederhana," pesan Brian. "Cerita yang paling menyentuh sering kali lahir dari pengalaman yang paling dekat dengan kita." Marlina menambahkan bahwa dunia literasi Indonesia masih luas dan terbuka. "Kami bukan siapa-siapa beberapa tahun lalu. Jika kami bisa sampai di sini, siapa pun juga bisa," ujarnya. Malam itu, di sudut ruangan yang penuh buku itu, dua nama bersinar. Namun, yang paling bersinar sebenarnya adalah kisah-kisah yang mereka bawa, tentang mimpi, kegigihan, dan keberanian untuk bangkit setelah jatuh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User