Aug 25, 2026
entertainment

Lintas Usia Berbagi Tawa di TRANS TV Festival Vol 5

Di bawah langit cerah BSD, suara tawa anak-anak berpadu dengan alunan musik nostalgia. Tepat di Lapangan Sunburst, Minggu (26/7), tersaji pemandangan yang tak biasa: seorang nenek berkerudung putih as...

Lintas Usia Berbagi Tawa di TRANS TV Festival Vol 5

Di bawah langit cerah BSD, suara tawa anak-anak berpadu dengan alunan musik nostalgia. Tepat di Lapangan Sunburst, Minggu (26/7), tersaji pemandangan yang tak biasa: seorang nenek berkerudung putih asyik menggenggam tangan cucunya, sementara tak jauh dari mereka, sekelompok remaja berfoto di depan panggung utama. TRANS TV Festival Vol 5 bukan sekadar ajang hiburan, melainkan panggung pertemuan antargenerasi yang melebur dalam satu irama kegembiraan.

Kehadiran yang Menghangatkan

Sudah sejak pagi, kursi-kursi roda dan kereta dorong bayi berjejer di tepi lapangan. Salah satu sosok yang mencuri perhatian adalah Mbah Sari (72), yang datang bersama tiga cucunya. Dengan langkah pelan, ia menyusuri stan-stan kuliner yang berjejer. “Saya ingin lihat langsung, katanya ada artis-artis yang dulu saya tonton di TV,” katanya sambil tersenyum, jemarinya yang mulai keriput menggenggam erat tangan si bungsu. Momen itu seakan melukiskan bahwa kebahagiaan tak memandang tahun kelahiran.

Tidak hanya para lansia yang hadir dengan cerita. Di sudut arena permainan, tampak Arka (7) berlarian dengan balon berbentuk karakter kartun. Ibunya, Dina, mengisahkan bahwa ini adalah kali pertama Arka melihat dunia luar secara langsung setelah sekian lama hanya berinteraksi lewat layar. “Dia tadinya takut keramaian, tapi di sini dia justru mengajak kami ke mana-mana,” ujar Dina, matanya berkaca-kaca. Bagi keluarga kecil itu, festival ini menjadi panggung kecil pertama bagi Arka untuk belajar tersenyum di tengah banyak orang.

Ketika Musik Menyatukan Hati

Puncak acara semakin syahdu saat band legendaris naik panggung. Para penonton dari berbagai usia berdiri tanpa sekat. Di barisan depan, sekelompok anak muda ikut bernyanyi lirik-lirik yang sebenarnya lahir sebelum mereka ada. Sementara di belakang, beberapa kakek-nenek ikut bergoyang pelan, sesekali merekam momen dengan ponsel pintar mereka. Semua larut dalam melodi yang seolah tak mengenal waktu.

“Lagu-lagu ini mengingatkan saya pada masa muda. Saya jadi cerita-cerita ke cucu,” ujar Pak Harun (68), matanya menerawang jauh. Di sampingnya, sang cucu yang masih SMP mengangguk antusias, meski mungkin belum sepenuhnya paham kenangan apa yang tengah kakeknya hidupkan kembali. Di situlah letak kekuatan festival ini: ruang bagi kenangan untuk diwariskan tanpa perlu banyak kata.

Inspirasi dari Pertemuan Sederhana

Menjelang senja, saat lampu hias mulai dinyalakan, puluhan pengunjung masih enggan pulang. Di sebuah bangku kayu, dua sahabat yang sudah lebih dari setengah abad bersahabat—Rini (65) dan Nur (66)—tertawa lepas sambil menikmati jagung bakar. “Kami sengaja datang jauh-jauh dari Bekasi. Rasanya seperti piknik waktu kecil dulu,” kata Rini, menggenggam tangan sahabatnya. Pertemuan sederhana itu menjadi bukti bahwa persahabatan tak pudar oleh usia.

TRANS TV Festival Vol 5 menutup hari dengan penuh kehangatan. Bukan hanya panggung besar dan artis ternama yang dikenang, tetapi juga cerita-cerita kecil yang lahir dari orang-orang biasa: seorang nenek yang kembali merasa muda, seorang anak yang menemukan keberanian, dan dua sahabat yang mengukuhkan kembali janji masa tua. Di antara ribuan langkah kaki yang berpulang, ada jejak yang lebih berarti dari sekadar hiburan: jejak kebersamaan manusia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User