Di keheningan malam yang mulai merambat di atas air kanal, kota tua Zhouzhuang perlahan berubah menjadi negeri dongeng. Ribuan lentera warna-warni bergelantungan di atap-atap kelenteng, jembatan batu, dan tepian sungai, memantulkan cahayanya ke permukaan air yang tenang. Inilah pemandangan yang menyambut para pengunjung dalam pameran lentera tahunan yang digelar untuk merayakan Festival Pertengahan Musim Gugur, atau yang dikenal sebagai Festival Kue Bulan. Meski pandemi masih membayangi, semangat warga untuk merayakan tradisi leluhur tak pernah padam.
Festival Pertengahan Musim Gugur adalah momen sakral bagi masyarakat Tionghoa untuk berkumpul bersama keluarga, menikmati kue bulan, dan mengagumi keindahan bulan purnama. Di Zhouzhuang, perayaan ini disulap menjadi sebuah pertunjukan cahaya dan warna yang memukau. Pameran lentera yang berlangsung selama sebulan penuh ini menjadi daya tarik utama, tidak hanya bagi penduduk lokal, tetapi juga pelancong dari berbagai penjuru negeri.
Zhouzhuang Bersolek dengan Ribuan Lentera
Begitu malam tiba, jalanan dan kanal Zhouzhuang yang telah berusia ratusan tahun dihiasi oleh aneka bentuk lentera. Ada lentera berbentuk naga raksasa yang meliuk-liuk, lentera kelinci dari legenda Dewi Bulan, hingga lentera tradisional berbentuk bola yang dihias kaligrafi indah. Cahaya merah, emas, dan hijau berpadu menciptakan suasana hangat di tengah udara musim gugur yang mulai sejuk. “Saya seperti berjalan di dalam lukisan klasik Tiongkok,” ujar seorang pengunjung yang enggan disebutkan namanya, matanya terus menerawang ke arah lentera berbentuk burung phoenix yang megah.
Tidak hanya sebagai dekorasi, setiap lentera memiliki cerita dan doa yang tersemat. Para perajin lokal telah bekerja selama berminggu-minggu untuk menghadirkan karya-karya ini. Bambu, kertas minyak, dan sutra adalah bahan utama yang diolah dengan tangan-tangan terampil. Prosesi pembuatan lentera nyaris tak berubah sejak zaman Dinasti Ming. “Ini bukan sekadar kerajinan, ini adalah warisan jiwa,” kata seorang perajin tua saat ditemui di bengkelnya yang sederhana.
Seni yang Menerangi Tradisi dan Harapan
Bagi warga Zhouzhuang, festival lentera bukan hanya hiburan, melainkan ritual penghubung antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Setiap lentera yang dinyalakan adalah simbol harapan—agar keluarga diberkahi kesehatan, hubungan harmonis, dan rezeki melimpah. Di sudut lain kota, anak-anak berlarian sambil membawa lentera mini berbentuk ikan, meyakini bahwa air sebagai elemen kehidupan akan membawa keberuntungan.
Pameran tahun ini sedikit berbeda. Beberapa lentera dirancang dengan tema solidaritas global, menggambarkan tangan-tangan yang saling menggenggam dari berbagai benua. Ini adalah respons seniman terhadap situasi dunia yang sedang berjuang melawan krisis. “Melalui cahaya, kita ingin menyampaikan pesan bahwa kegelapan akan selalu bisa dikalahkan,” ujar kurator pameran, Li Wei, dengan nada penuh keyakinan.
Malam yang Tak Ingin Segera Berlalu
Malam semakin larut, namun keramaian di Zhouzhuang justru kian terasa. Di bawah sinar bulan purnama yang sempurna, pasangan-pasangan muda bergandengan tangan di atas jembatan batu, sementara keluarga-keluarga duduk bersama menikmati kue bulan dan teh hangat. Musik tradisional mengalun lembut dari panggung kecil di pelataran kelenteng. Ada rasa damai yang tak terlukiskan.
Seorang ibu rumah tangga bernama Mei, yang datang bersama suami dan kedua anaknya, berbagi kisah. “Tahun lalu kami melewatkan festival karena situasi. Kini, bisa berada di sini, menatap lentera bersama, saya merasa sangat bersyukur. Ini mengingatkan kami bahwa kebersamaan adalah hal yang paling berharga,” tuturnya sambil memeluk putri kecilnya.
Bagi penduduk lokal, festival ini juga menjadi sumber kehidupan. Penjual makanan dan suvenir khas musim gugur, seperti kue bulan dengan aneka isi, manisan labu, dan pernak-pernik lentera, kebanjiran pembeli. Salah seorang pedagang mengaku pendapatannya naik tiga kali lipat dibanding hari biasa. “Tapi lebih dari uang, saya senang melihat senyum orang-orang,” katanya.
Keesokan harinya, mentari pagi akan mengembalikan Zhouzhuang ke wajah aslinya: kota air yang tenang. Namun jejak cahaya dan tawa malam festival akan tetap membekas di hati mereka yang pernah menyaksikannya. Pameran lentera ini bukan sekadar atraksi visual, melainkan perjalanan emosi—dari harapan, doa, hingga kebahagiaan sederhana yang lahir dari kerlip ribuan lentera di bawah rembulan purnama.
Comments (0)