Aug 25, 2026
entertainment

Law and the City: Kisah Hangat Anak Muda Berjuang di Kota Besar

Jarum jam sudah lewat pukul sembilan malam ketika Ratri, 26 tahun, merebahkan badan di kasur tipis kamar kostnya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Seharian ia berkutat dengan berkas-berkas di kantor ...

Law and the City: Kisah Hangat Anak Muda Berjuang di Kota Besar

Jarum jam sudah lewat pukul sembilan malam ketika Ratri, 26 tahun, merebahkan badan di kasur tipis kamar kostnya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Seharian ia berkutat dengan berkas-berkas di kantor tempatnya bekerja. Dengan ponsel di tangan, ia membuka satu episode drama yang belakangan setia menemaninya sebelum tidur. "Ada adegan tokohnya makan sendirian setelah hari yang berat. Saya tiba-tiba menangis. Rasanya seperti menonton hidup sendiri," ujarnya sambil tersenyum kecil.

Drama yang membuat Ratri dan banyak penonton muda Indonesia merasa ditemani itu adalah Law and the City, serial Korea terbaru yang kini tayang di platform streaming Vidio. Jauh dari kesan dingin ruang sidang, drama ini justru menghadirkan kisah yang hangat, sederhana, dan sangat manusiawi tentang anak-anak muda yang berjuang meniti mimpi di kota besar.

Kisah Anak Muda di Jantung Hukum Seoul

Law and the City mengisahkan kehidupan para pengacara muda yang berkantor di Seochodong, kawasan yang dikenal sebagai jantung dunia hukum di Seoul, Korea Selatan. Di sinilah Ahn Joo-hyung, yang diperankan Lee Jong-suk, menjalani hari-harinya sebagai pengacara asosiasi yang telah sembilan tahun mengabdi di firma hukum yang sama. Ia cerdas dan berpengalaman, tetapi perlahan kehilangan alasan mengapa ia memulai perjalanan ini.

Hidupnya berubah ketika Kang Hee-ji, diperankan Moon Ga-young, datang sebagai pengacara baru yang penuh idealisme. Pertemuan keduanya, bersama rekan-rekan seperjuangan di firma itu, mengalir menjadi kisah tentang persahabatan, cinta yang tumbuh pelan-pelan, dan keberanian untuk kembali percaya pada mimpi yang sempat padam.

Yang menyentuh, drama ini tidak berfokus pada kasus-kasus besar yang penuh intrik. Ia justru berdiri di atas momen-momen kecil: makan malam bersama setelah lembur, obrolan ringan di kedai langganan, hingga kekalahan di ruang sidang yang membuat dada sesak. Di situlah letak kekuatannya.

Di Balik Layar: Naskah yang Lahir dari Pengalaman Nyata

Kehangatan cerita Law and the City bukan kebetulan. Naskahnya ditulis oleh Lee Seung-hyun, seorang penulis yang juga berprofesi sebagai pengacara praktik. Pengalaman bertahun-tahun di dunia hukum membuat setiap dialog terasa jujur, jauh dari dramatisasi berlebihan.

"Saya tidak ingin membuat cerita tentang pengacara hebat. Saya ingin bercerita tentang orang-orang biasa yang kebetulan bekerja sebagai pengacara, dengan segala lelah dan mimpinya," demikian semangat yang diusung sang penulis dalam menggarap naskah drama ini.

Bagi Lee Jong-suk, drama ini menjadi perjalanan pulang yang emosional. Setelah lama dikenal lewat peran-peran penuh ketegangan, ia kini tampil lebih tenang dan dewasa. Sementara Moon Ga-young membawa energi segar seorang anak muda yang berani bermimpi, lengkap dengan keraguan dan air mata yang begitu akrab bagi siapa pun yang pernah memulai karier dari nol.

Cermin bagi Pekerja Muda Indonesia

Mungkin karena itulah drama ini terasa begitu dekat di hati penonton Indonesia. Di tengah hiruk-pikuk kota besar, banyak anak muda yang melihat dirinya dalam tokoh-tokoh di Seochodong: berangkat pagi, pulang malam, bergelut dengan target, dan sesekali bertanya lirih, "Untuk apa semua ini?"

"Saya bukan pengacara, tapi saya paham rasanya lelah dan tetap harus bangkit besok pagi," kata Dimas, 29 tahun, karyawan swasta di Jakarta yang mengaku tak pernah melewatkan satu episode pun. Baginya, momen paling mengharukan justru ketika para tokoh berkumpul di meja makan yang sama setelah hari yang berat. "Sederhana, tapi menghangatkan hati," ujarnya.

Di balik layar cerita hukum, Law and the City sesungguhnya berbicara tentang satu hal yang universal: bahwa perjuangan tidak selalu harus terasa sepi. Ada teman seperjalanan, ada tawa di sela lelah, dan ada alasan untuk terus melangkah meski mimpi terasa jauh. Kisah ini menjadi inspirasi kecil bagi siapa saja yang sedang berjuang menemukan tempatnya di dunia.

Tayang di Vidio

Bagi penonton di Indonesia, perjalanan para pengacara muda Seochodong ini dapat diikuti melalui layanan streaming Vidio, yang menghadirkan episode-episode terbarunya dengan subtitle Bahasa Indonesia. Kehadirannya menambah daftar tontonan Korea berkualitas yang bisa dinikmati penonton Tanah Air.

Pada akhirnya, Law and the City bukan sekadar drama tentang hukum. Ia adalah pengingat kecil yang lembut, bahwa di tengah kerasnya kota besar dan beratnya perjuangan, setiap orang berhak atas mimpi, kawan, dan momen sederhana yang membuatnya bertahan. Seperti yang dirasakan Ratri sebelum memejamkan mata malam itu: "Besok saya akan bangkit lagi. Drama ini yang mengingatkan saya kenapa."

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User