Sep 19, 2026
Hukum

Laporan GAO: AS Bayar Pegawai $7 Miliar untuk Tidak Bekerja

Bayangkan sebuah skenario di mana Anda tetap menerima gaji utuh setiap bulan, namun diminta untuk tidak perlu datang ke kantor atau mengerjakan tugas apa p

Laporan GAO: AS Bayar Pegawai $7 Miliar untuk Tidak Bekerja

Bayangkan sebuah skenario di mana Anda tetap menerima gaji utuh setiap bulan, namun diminta untuk tidak perlu datang ke kantor atau mengerjakan tugas apa pun. Bagi ribuan pegawai federal di Amerika Serikat, hal ini bukan sekadar angan-angan, melainkan realitas yang terjadi di bawah kebijakan efisiensi pemerintah. Laporan terbaru dari lembaga pengawas pemerintah AS, Government Accountability Office (GAO), mengungkap fakta mengejutkan mengenai besarnya dana publik yang dihabiskan hanya untuk "merumahkan" para pekerja negara.

Berdasarkan temuan GAO yang dirilis baru-baru ini, pemerintah AS diperkirakan telah membayar hampir $7 miliar (sekitar Rp110 triliun) kepada para pegawai yang keluar atau mengundurkan diri agar mereka tidak lagi bekerja. Langkah ekstrem ini merupakan bagian dari upaya agresif untuk memangkas ukuran birokrasi dan menekan anggaran negara melalui inisiatif Department of Government Efficiency (DOGE) pada masa pemerintahan Donald Trump.

Lonjakan Tajam Cuti Berbayar hingga 435 Persen

Salah satu temuan paling krusial dalam laporan GAO adalah lonjakan drastis pada penggunaan fasilitas cuti berbayar (paid leave). Lembaga pengawas tersebut mencatat bahwa penggunaan cuti berbayar di kalangan pekerja federal mengalami kenaikan fantastis hingga 435 persen selama dua tahun pertama pelaksanaan kebijakan tersebut. Pemerintah pada dasarnya mendorong para pegawai senior dan staf administrasi untuk mengambil opsi pensiun dini atau mengundurkan diri dengan imbalan tetap menerima kompensasi penuh selama masa transisi.

Indikator Pengeluaran Kondisi Normal (Sebelum Program) Setelah Inisiatif DOGE
Penggunaan Cuti Berbayar Tingkat Efisiensi Standar Melonjak 435%
Total Anggaran Non-Kerja Alokasi Operasional Rutin Hampir $7 Miliar (Rp110 Triliun)

Skema ini diambil sebagai cara cepat untuk mengosongkan posisi-posisi di berbagai lembaga birokrasi tanpa harus melewati proses pemecatan hukum yang rumit, panjang, dan berpotensi memicu gugatan serikat pekerja. Namun, imbalan yang harus dibayar oleh masyarakat pembayar pajak ternyata bernilai sangat fantastis.

Paradoks Efisiensi: Memangkas Anggaran dengan Pemborosan?

Kebijakan ini memicu gelombang kritik pedas dari berbagai pengamat politik dan tata kelola pemerintahan di Washington. Niat awal untuk menciptakan efisiensi anggaran justru melahirkan paradoks baru yang dinilai merugikan keuangan negara dalam jangka pendek.

"Sangat ironis ketika sebuah program yang digadang-gadang untuk menciptakan efisiensi birokrasi justru menghabiskan miliaran dolar hanya untuk membayar orang agar tidak melakukan pekerjaan apa pun."

Para pengkritik menilai bahwa alih-alih menghemat uang rakyat, strategi mendorong pengunduran diri secara masif ini justru menjadi sebuah pemborosan terselubung yang menguras kas negara secara mendadak. Banyak pihak mempertanyakan apakah manfaat jangka panjang dari pengurangan jumlah staf ini benar-benar sebanding dengan pengeluaran awal senilai $7 miliar yang menguap begitu saja.

Dampak pada Pelayanan Publik dan Moril Pegawai

Selain persoalan finansial, laporan GAO juga menyoroti dampak operasional pada berbagai instansi pemerintah. Kehilangan ribuan pegawai secara mendadak—meskipun mereka masih menerima gaji saat dalam masa cuti—menyebabkan kekosongan peran vital di beberapa sektor pelayanan publik. Proses restrukturisasi yang terburu-buru ini dinilai mengganggu efektivitas kerja harian di beberapa lembaga kunci.

Di sisi lain, moril para pekerja yang bertahan juga ikut terdampak. Beberapa laporan menunjukkan adanya ketimpangan beban kerja, di mana staf yang tersisa harus menanggung beban tugas tambahan, sementara rekan-rekan mereka yang sedang dalam proses keluar menikmati gaji penuh tanpa kewajiban kerja.

Fenomena ini menjadi pelajaran berharga bagi manajemen pemerintahan modern. Memangkas ukuran birokrasi memang merupakan agenda politik yang populer, namun eksekusi yang tidak terencana dengan matang justru berisiko menghasilkan beban finansial yang sangat berat bagi negara.

Upaya memangkas birokrasi lewat program DOGE di era Trump memicu lonjakan cuti berbayar hingga 435%. Total dana publik yang dikeluarkan mencapai Rp110 triliun hanya untuk merumahkan pekerja. Baca ulasan lengkapnya di Beritaseputar.com.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User