Di sudut dapur rumah tua itu, di sebuah kampung kecil di Yogyakarta, seorang nenek bernama Mbah Sumirah meraih sepotong laos dari keranjang anyaman. Jari-jarinya yang keriput mengupas kulit cokelat muda itu dengan hati-hati, mengirisnya tipis-tipis, lalu melemparkannya ke dalam air yang sedang mendidih di atas tungku. Uap hangat bercampur aroma khas pun menyeruak, memenuhi ruangan berukuran 3x4 meter yang menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya selama puluhan tahun.
"Laos ini sudah menemaniku sejak saya masih gadis," tuturnya lirih, mata tuanya berkilau mengenang masa lalu. "Setiap kali anak atau cucu saya masuk angin, demam, atau kurang nafsu makan, jamu laos inilah yang pertama saya racik. Tidak perlu mahal, cukup dari kebun sendiri."
Perjalanan Sebuah Rempah dari Dapur ke Dunia Kesehatan
Laos, atau yang dikenal dengan nama latin Alpinia galanga, bukan sekadar bumbu dapur biasa. Di balik bentuknya yang sederhana, rimpang berwarna cokelat muda ini menyimpan kisah panjang tentang kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di berbagai daerah di Indonesia, laos memiliki sebutan berbeda: lengkuas di Jawa, laja di Sunda, isen di Madura, hingga halawas di Minahasa.
Mbah Sumirah mengisahkan bagaimana ibunya dulu mengajarkan cara meracik jamu laos. Ia masih ingat betul, saat masih kecil, ia harus bangun sebelum matahari terbit untuk menumbuk laos bersama jahe dan kencur di atas lumpang batu. Bunyi tumbukan itu, katanya, adalah musik pagi yang membangunkan seluruh rumah.
"Rempah-rempah ini bukan cuma bahan. Ini doa, ini kasih sayang seorang ibu yang ingin anaknya sehat. Setiap tumbukan, ada harapan di dalamnya."
Air matanya tampak menetes saat mengenang sang ibu yang telah lama berpulang. Namun ia tersenyum, karena kini ia yang meneruskan tradisi itu kepada cucu-cucunya.
Khasiat yang Dibuktikan Zaman dan Ilmu Pengetahuan
Di balik kesederhanaannya, laos menyimpan senyawa aktif seperti galangin, kaempferol, dan berbagai minyak atsiri yang bermanfaat bagi tubuh. Penelitian modern pun mulai mengungkap apa yang telah diketahui nenek moyang kita selama berabad-abad: laos memiliki sifat antibakteri, antiinflamasi, dan antioksidan yang kuat.
Dokter Fitriani, seorang praktisi kesehatan tradisional, menjelaskan bahwa laos sering digunakan untuk meredakan batuk, radang tenggorokan, serta masalah pencernaan. "Saya sering menganjurkan pasien untuk mengonsumsi air rebusan laos yang dicampur madu," ujarnya. "Selain rasanya yang hangat, khasiatnya juga nyata. Namun tentu tetap perlu diimbangi dengan pola hidup sehat."
Tidak hanya untuk kesehatan, laos juga menjadi bagian dari kuliner Nusantara. Rendang, soto, opor, hingga gulai, semuanya menyertakan laos sebagai bumbu penting. Aroma khasnya yang tajam dan sedikit pedas mampu membangkitkan selera makan, menghangatkan tubuh, dan memberi karakter pada masakan.
Meski kini banyak produk herbal modern yang menawarkan kemasan praktis, Mbah Sumirah tetap setia dengan cara tradisional. "Bagi saya, menumbuk laos itu bukan sekadar membuat jamu," katanya. "Itu cara saya menyapa pagi, mensyukuri hidup, dan menjaga warisan."
Mimpi Kecil untuk Generasi Muda
Di tengah gempuran gaya hidup modern, Mbah Sumirah berharap generasi muda tidak melupakan kekayaan rempah Nusantara. Ia bermimpi suatu hari ada lebih banyak anak muda yang tertarik menanam laos di pekarangan rumah, bukan hanya membeli produk instan di pasaran.
"Rempah ini sederhana, tapi jangan diremehkan," pesannya. "Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi?"
Kisah Mbah Sumirah adalah pengingat bahwa di balik setiap bumbu dapur yang kita anggap biasa, tersimpan perjalanan panjang, air mata, dan mimpi yang menyentuh. Laos bukan hanya tanaman. Ia adalah saksi bisu perjuangan sebuah keluarga, warisan budaya, dan inspirasi untuk hidup lebih sehat dan bersyukur.
Comments (0)