Oct 15, 2026
entertainment

Langkah Dian Sastrowardoyo di Busan dan Bisikan Laut yang Tak Terlupakan

Di atas karpet merah yang membentang di hadapan gedung Busan Cinema Center, Korea Selatan, seorang perempuan melangkah dengan mantel panjang berwarna senada laut senja. Sorot lampu kamera berkelebat d...

Langkah Dian Sastrowardoyo di Busan dan Bisikan Laut yang Tak Terlupakan

Di atas karpet merah yang membentang di hadapan gedung Busan Cinema Center, Korea Selatan, seorang perempuan melangkah dengan mantel panjang berwarna senada laut senja. Sorot lampu kamera berkelebat dari segala arah, tetapi tatapannya justru menerawang jauh, seolah menembus dinding waktu dan kembali ke sebuah sudut sunyi di mana kata-kata pertama Laut Bercerita pernah ia eja dengan hati bergetar.

Malam itu, Dian Sastrowardoyo bukan sekadar aktris yang datang untuk menghadiri gala premiere. Ia adalah perempuan yang membawa serta seluruh perjalanan panjang sebuah cerita — tentang kehilangan, keberanian, dan suara-suara yang dulu dipaksa diam. World premiere film Laut Bercerita di Busan International Film Festival 2026 menjadi momen mengharukan yang ia tunggu selama bertahun-tahun, sebuah titik di mana mimpi dan kenangan akhirnya bertemu di panggung dunia.

Perjalanan Panjang Menuju Layar Lebar

Di balik gaun indah dan senyum yang ia tebar untuk para fotografer, ada kisah perjuangan yang tak banyak orang tahu. Novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori telah lama menjadi bacaan yang menggetarkan hati banyak orang. Ketika tawaran untuk membawanya ke layar lebar datang, Dian mengaku sempat ragu. Bukan karena tak percaya pada ceritanya, melainkan karena ia sadar tanggung jawab itu tidak ringan.

"Saya merasa seperti diberi amanah untuk menjaga suara orang-orang yang sudah tidak bisa bersuara lagi," ujarnya dengan mata berkaca-kaca dalam sesi jumpa pers sehari sebelum pemutaran. Kalimat itu keluar bukan sebagai formalitas, melainkan sebagai pengakuan seorang seniman yang telah menaruh seluruh hatinya pada proyek ini.

Proses penggarapan film ini memakan waktu bertahun-tahun. Mulai dari riset mendalam, diskusi panjang dengan penulis novel, hingga pembacaan naskah bersama para pemain yang berulang kali membuat ruangan hening karena haru. Dian mengisahkan bagaimana ia sering pulang larut malam dengan perasaan campur aduk, antara lelah dan haru, setelah seharian menghidupkan kembali masa kelam yang pernah terjadi di negeri ini.

Momen Mengharukan di Hadapan Penonton Dunia

Ketika lampu bioskop akhirnya meredup dan tulisan pembuka muncul di layar lebar, suasana di dalam ruangan berubah hening. Dian duduk di barisan penonton, menyaksikan karyanya untuk pertama kalinya bersama ratusan orang dari berbagai belahan dunia. Di detik-detik itulah, air mata tak lagi bisa ia bendung.

"Mendengar cerita ini disaksikan orang Korea, orang Eropa, orang dari berbagai negara yang mungkin tidak tahu sejarah kami — itu rasanya seperti pelukan hangat dari dunia," tuturnya usai pemutaran, suaranya masih bergetar.

Ia bercerita bahwa salah satu momen paling menyentuh terjadi saat kredit penutup berjalan. Tidak ada yang beranjak dari kursi. Hening sejenak, lalu tepuk tangan panjang menggema. Dian mengaku tak mampu menahan haru ketika beberapa penonton asing menghampirinya dan bertanya, dengan mata berkaca-kaca, tentang latar belakang cerita tersebut.

"Saya bilang, ini tentang orang-orang sederhana yang punya mimpi besar. Tentang bagaimana cinta pada tanah air bisa membuat seseorang melakukan hal-hal luar biasa," kisahnya.

Inspirasi bagi Generasi Muda

Bagi Dian, perjalanan Laut Bercerita bukan hanya soal prestasi di festival internasional. Ia berharap film ini bisa menjadi jembatan bagi generasi muda untuk mengenal sejarah bangsanya dengan cara yang berbeda — melalui cerita manusia, bukan sekadar hafalan tanggal dan tahun.

"Anak-anak muda hari ini butuh merasakan, bukan cuma membaca. Lewat film ini, saya ingin mereka ikut merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh-tokohnya. Kalau mereka bisa menangis bersama, maka mereka juga akan belajar untuk tidak melupakan," ucapnya penuh harap.

Di sela-sela kesibukannya menghadiri berbagai sesi di Busan, Dian masih menyempatkan diri berjalan santai menyusuri pantai Haeundae di pagi hari. Ia mengaku suara ombak di sana mengingatkannya pada judul film yang ia bawa. Laut yang bercerita, katanya, adalah metafora tentang segala hal yang bisu namun menyimpan begitu banyak kenangan.

Malam itu, ketika ia melangkah turun dari panggung dan berbaur dengan penonton, Dian tahu satu hal pasti: perjalanan cerita ini belum berakhir. Ia baru saja dimulai, dan akan terus bergema, dari satu hati ke hati yang lain, melampaui batas negara dan waktu. Di sudut kota Busan yang dingin, sebuah kisah Indonesia akhirnya menemukan rumah barunya di hati dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User