Aug 25, 2026
entertainment

Kisah V BTS: Berjuang di Balik Gemerlap dalam Sunyi

Di sudut ruangan yang remang-remang, jauh dari sorot lampu panggung yang selalu mengejar, Kim Taehyung duduk sendirian. Ia melepas ear monitor yang baru saja menempel di telinganya selama berjam-jam. ...

Kisah V BTS: Berjuang di Balik Gemerlap dalam Sunyi

Di sudut ruangan yang remang-remang, jauh dari sorot lampu panggung yang selalu mengejar, Kim Taehyung duduk sendirian. Ia melepas ear monitor yang baru saja menempel di telinganya selama berjam-jam. Di salah satu sisi kepalanya, dunia terasa berbeda. Bukan keheningan yang menyenangkan, melainkan sebuah sunyi yang telah menemaninya selama dua setengah tahun terakhir. Bagi dunia, ia adalah V BTS, pria dengan senyum lebar dan suara bariton yang mampu menenangkan jutaan orang. Namun di balik layar gemerlap itu, ternyata ada kisah lain yang baru kini ia pilih untuk mengisahkan.

Di Balik Tawa yang Menggema

Setiap kali naik ke panggung, V selalu memberikan yang terbaik. Tarian yang tajam, gestur yang memukau, dan interaksi hangat dengan para penggemar—semuanya terlihat sempurna. Namun, sedikit yang tahu bahwa di balik layar setiap pertunjukan megah itu, pria kelahiran 1995 itu harus berjuang dengan kondisi yang tak terlihat oleh mata. Gangguan pendengaran yang dialaminya bukan sekadar masalah fisik, tetapi juga sebuah ujian emosional yang menantang tekadnya untuk terus berkarya.

Dalam sebuah momen yang menyentuh, V mengungkapkan bahwa salah satu telinganya tak lagi bekerja seperti dulu. Bukan hal yang mudah bagi seseorang yang hidupnya bergantung pada ritme, harmoni, dan respons terhadap setiap nada. Bayangkan harus berlatih berjam-jam di studio, mendengarkan instrumen yang saling tumpang tindih, sementara salah satu sisi kepala hanya menangkap sebagian dari realitas suara tersebut. Itu adalah perjalanan yang penuh dengan cobaan, di mana setiap langkah kecil terasa seperti sebuah pencapaian besar.

Perjalanan 2,5 Tahun Bersama Sunyi

Dua setengah tahun bukan waktu yang sederhana. Dalam kurun tersebut, V telah melewati berbagai fase: dari penolakan, penerimaan, hingga akhirnya menemukan cara untuk beradaptasi. Ada kalanya, di tengah keramaian konser atau sesi rekaman yang panjang, ia merasa dunia seolah menjauh di satu sisi. Namun, justru dari situ ia belajar mendengarkan dengan cara yang berbeda—bukan hanya melalui indra pendengaran, tetapi juga melalui getaran, intuisi, dan perasaan yang ia curahkan ke dalam setiap lirik yang dinyanyikannya.

"Ada masa-masa di mana aku merasa frustrasi, di mana aku bertanya-tanya apakah aku masih bisa memberikan yang terbaik. Tapi aku menyadari bahwa musik bukan hanya soal mendengar dengan sempurna, tapi juga soal merasakan dengan tulus," ucapnya dalam sebuah momen yang tak akan terlupakan.

Kutipan itu menjadi bukti bahwa di balik layar sosok yang selalu tampak perkasa, ada pula seorang manusia biasa yang pernah meragu. Namun, seperti halnya mimpi yang terus dijaga, V memilih untuk tidak menyerah. Ia memilih untuk bangkit setiap kali merasa dunia sedikit lebih sunyi dari biasanya. Bagi para penggemar yang telah mengikutinya sejak awal, pengakuan ini bukanlah sebuah kejutan yang menakutkan, melainkan momen mengharukan yang justru mempererat ikatan emosional.

Inspirasi dari Keterbukaan yang Menyentuh

Keterbukaan V dalam bercerita tentang kondisinya memberikan inspirasi baru bagi banyak orang. Di era di mana kesempurnaan sering kali dipajang di media sosial, keberaniannya untuk menunjukkan sisi rapuh justru menjadi pengingat bahwa setiap orang punya kisah perjuangannya masing-masing. Tak jarang, penggemar dari berbagai penjuru dunia mulai berbagi pengalaman pribadi mereka tentang tantangan kesehatan, merasa diterima dan dimengerti berkat sikap jujur sang idola.

Bagi V, pengakuan ini mungkin bukanlah akhir dari segalanya, melainkan babak baru dalam hidupnya. Sebuah babak di mana ia tidak lagi harus menyembunyikan beban sendirian. Dalam kesederhanaan pengakuannya, terdapat kekuatan besar yang menunjukkan bahwa cinta dan dukungan bisa mengalir lebih kuat ketika kita berani membuka diri. Dan meski mungkin masih ada air mata yang tertumpah di malam-malam sepi, ada pula keyakinan bahwa setiap suara—meski datang dari satu sisi saja—masih sanggup menyentuh hati jutaan orang di luar sana.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User