Aug 25, 2026
entertainment

Kisah Perajin Tape Bondowoso: Dari Singkong Menjadi Inspirasi

Di sebuah sudut desa di Bondowoso, Jawa Timur, aroma manis yang khas menyambut siapa pun yang melintas. Di balik dapur sederhana berukuran 4x5 meter, seorang perempuan paruh baya bernama Ibu Sumiati t...

Kisah Perajin Tape Bondowoso: Dari Singkong Menjadi Inspirasi

Di sebuah sudut desa di Bondowoso, Jawa Timur, aroma manis yang khas menyambut siapa pun yang melintas. Di balik dapur sederhana berukuran 4x5 meter, seorang perempuan paruh baya bernama Ibu Sumiati tengah sibuk membalik-balik singkong yang telah difermentasi. Tangannya yang keriput itu bergerak lincah, memastikan setiap potongan singkong terbungkus rapat dalam daun pisang. Baginya, ini bukan sekadar pekerjaan; ini adalah perjalanan hidup yang telah ia jalani selama tiga dekade.

"Saya mulai membuat tape sejak usia 17 tahun, diajari oleh ibu saya," ujarnya dengan mata berkaca-kaca. "Dulu, kami hanya membuat untuk konsumsi keluarga. Tapi siapa sangka, dari singkong yang sederhana, saya bisa menyekolahkan tiga anak hingga sarjana." Ibu Sumiati tertawa kecil, namun ada keharuan yang tak bisa disembunyikan. Kisahnya adalah satu dari ribuan perajin tape Bondowoso yang berjuang melestarikan warisan kuliner leluhur.

Di Balik Proses Fermentasi yang Penuh Kesabaran

Membuat tape Bondowoso bukanlah perkara instan. Ibu Sumiati menjelaskan bahwa singkong pilihan harus direbus hingga empuk, lalu didinginkan sebelum dicampur dengan ragi yang dihaluskan. Proses fermentasi memakan waktu dua hingga tiga hari, tergantung suhu udara. "Kalau cuaca panas, tape bisa cepat matang. Tapi kalau hujan, kita harus bersabar lebih lama. Ini seperti merawat anak," katanya sambil tersenyum.

Setiap pagi, ia bangun pukul tiga untuk memeriksa tape-tapenya. Bau asam yang muncul menjadi pertanda bahwa fermentasi berjalan sempurna. "Pernah gagal, tape jadi terlalu asam atau bahkan berjamur. Rasanya ingin menangis, karena itu sudah modal kami," kenangnya. Namun, kegagalan itu justru menjadi pelajaran berharga. Ia belajar membaca tanda-tanda alam, merasakan tekstur singkong, dan menyesuaikan takaran ragi dengan lebih teliti.

"Setiap tape punya cerita. Ada yang dibuat untuk suguhan hajatan, ada yang untuk oleh-oleh anak yang merantau. Saya selalu berpesan: buat tape dengan hati, maka rasanya akan menyentuh."

Mimpi yang Tumbuh dari Singkong

Berawal dari dapur kecil, kini Ibu Sumiati mempekerjakan lima tetangganya. Ia juga aktif mengajari generasi muda di desanya untuk membuat tape. "Saya tidak ingin keterampilan ini hilang. Anak-anak muda sekarang lebih suka hal instan. Padahal, dari tape kita bisa belajar kesabaran dan ketekunan," tuturnya.

Salah satu anak didiknya, Rina (23), mengaku awalnya ragu. "Saya pikir membuat tape itu kuno. Tapi setelah mencoba, saya bangga bisa membuat sesuatu yang dihargai orang. Sekarang, saya membantu Bu Sumiati memasarkan tape melalui media sosial," kata Rina. Berkat sentuhan digital, tape Bondowoso kini dikenal hingga luar pulau. Pesanan datang dari Jakarta, Surabaya, bahkan Bali.

Namun, perjalanan mereka tidak selalu mulus. Harga singkong yang fluktuatif dan persaingan dengan produk pabrikan menjadi tantangan tersendiri. "Kami tidak bisa menyaingi harga pabrik yang lebih murah. Tapi kami punya keunggulan: rasa yang autentik dan dibuat dengan cinta. Itu yang tidak bisa diproduksi mesin," tegas Ibu Sumiati.

Momen Haru di Balik Setiap Kemasan

Ada satu momen yang tak akan pernah dilupakan Ibu Sumiati. Beberapa tahun lalu, seorang pelanggan dari Jakarta memesan tape untuk ibunya yang sakit. Sang ibu ternyata merindukan rasa tape Bondowoso yang pernah ia nikmati saat kecil. "Saat pesanan tiba, ibu itu menangis bahagia. Katanya, tape ini mengingatkannya pada kampung halaman. Saya ikut menangis mendengar ceritanya," ujarnya sambil mengusap air mata.

Baginya, tape bukan sekadar camilan manis. Ia adalah simbol kehangatan keluarga, kenangan masa kecil, dan kerja keras yang tak pernah berhenti. "Setiap kali melihat tape yang saya buat, saya melihat perjuangan hidup saya. Dari singkong yang murah, saya bisa membangun rumah, menyekolahkan anak, dan membantu tetangga. Itu lebih dari cukup," katanya dengan suara bergetar.

Ketika ditanya tentang masa depan, Ibu Sumiati tersenyum. Ia berharap tape Bondowoso semakin dikenal, tidak hanya sebagai oleh-oleh, tetapi juga sebagai inspirasi bahwa dari hal yang sederhana, seseorang bisa bangkit dan meraih mimpi. "Saya ingin anak muda di Bondowoso bangga dengan produk lokal. Jangan malu untuk memulai dari yang kecil. Karena dari yang kecil, bisa tumbuh menjadi besar," pesannya.

Di akhir perbincangan, ia menyodorkan sebungkus tape yang baru matang. Aromanya harum, teksturnya lembut, dan rasanya manis dengan sedikit asam yang menyegarkan. Di balik setiap gigitan, ada kisah tentang kesabaran, air mata, dan harapan yang terus menyala. Tape Bondowoso bukan hanya tentang singkong, melainkan tentang manusia-manusia yang berjuang dengan cara sederhana namun menyentuh hati.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User