Aug 25, 2026
entertainment

Kisah Lestari: Menyambung Hidup dari Sebungkus Singkong Goreng Kalasan

Aroma gula aren yang karamelisasi bercampur dengan wangi minyak kelapa muda menyeruak dari sudut gang sempit di Jalan Flamboyan. Di sana, di bawah tenda biru yang sudah sedikit usang, Lestari (47) men...

Kisah Lestari: Menyambung Hidup dari Sebungkus Singkong Goreng Kalasan

Aroma gula aren yang karamelisasi bercampur dengan wangi minyak kelapa muda menyeruak dari sudut gang sempit di Jalan Flamboyan. Di sana, di bawah tenda biru yang sudah sedikit usang, Lestari (47) menggenggam wajan besi dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya dengan terampil membalik irisan singkong kecokelatan dalam minyak panas. Suara cetess yang berirama itu bukan sekadar proses memasak—bagi Lestari, itu adalah dentang harapan yang terus menyala, pagi demi pagi.

Di Balik Wajan yang Berasap

Setiap hari, sebelum matahari sempat menampakkan sinarnya di ufuk timur, Lestari sudah berdiri di depan kompor gas sederhana miliknya. Prosesnya tidak rumit, tetapi penuh dengan ketekunan. Singkong dipilih dari pasar induk dengan teliti, direbus hingga empuk, diiris memanjang, lalu digoreng dalam minyak panas hingga kulitnya renyah. Yang membedakan adalah sentuhan terakhir: larutan gula jawa khas Kalasan yang disiram perlahan saat api menyusut, memberikan lapisan manis yang berkilau dan sedikit lengket di permukaan singkong. Ini bukan sekadar resep turun-temurun, tetapi warisan yang mengisahkan perjalanan hidup seorang ibu.

"Mama dulu selalu bilang, masak itu soal perasaan, bukan cuma takaran," ujar Lestari sambil tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca mengenang sang ibu. Sudah tiga tahun berlalu sejak perempuan yang mengajarinya merebus singkong pertama kali itu dipanggil Yang Maha Kuasa. Namun jejak tangannya masih terasa di setiap sendok kayu yang Lestari genggam.

Air Mata yang Menjadi Bumbu

Tak banyak orang yang tahu di balik layar meja penjualan sederhana ini. Setelah sang ibu meninggal, Lestari sempat jatuh dalam keputusasaan. Pekerjaannya sebagai penjahit di rumah tidak lagi cukup untuk membiayai sekolah anak bungsunya yang duduk di bangku SMA. Di tengah kesedihan yang mendalam, sebuah mimpi sederhana datang: ibunya tersenyum sambil menyajikan piring singkong goreng dalam suasana dapur masa kecilnya. Bangkit dari tempat tidur dengan wajah basah oleh air mata, Lestari memutuskan untuk bangkit.

Dengan modal uang tabungan yang tinggal segepok, ia membeli singkong dan gula jawa. Perjalanan pertama tidak mulus. Ada hari di mana singkongnya terlalu lembek, atau gulanya justru gosong dan pahit. Namun Lestari tidak menyerah. Ia berjuang mengingat setiap gerakan tangan ibunya, mencoba puluhan kali hingga akhirnya menemukan rasa yang tepat—manisnya pas, renyahnya bertahan, dan aroma yang menguar menggoda dari kejauhan.

"Saya pernah ingin menyerah. Tapi setiap kali saya lihat pelanggan tersenyum saat gigit singkong pertama, saya tahu Mama masih di sini, bersama saya."

Meja Sederhana yang Menginspirasi

Kini, kisah Lestari mulai menyebar dari mulut ke mulut. Pelanggan setianya bukan hanya datang untuk mencari camilan sore, tetapi juga untuk merasakan kehangatan yang tersaji di setiap gigitan. Seorang penjual mainan di seberang gang, Pak Darmo, mengaku selalu membeli dua bungkus setiap hari: satu untuk istrinya, satu untuk dinikmati sendiri sambil bercerita tentang kerasnya hari. "Ini singkong, tapi rasanya kayak pulang kampung," katanya.

Bagi Lestari, setiap piring yang terjual adalah satu langkah lebih dekat ke impiannya: melihat anaknya lulus dan bekerja dengan layak. Kehidupannya masih jauh dari kata mewah. Tenda birunya masih bocor saat hujan deras, dan kompor gasnya sering mogok di pagi yang dingin. Namun di balik keterbatasan itu, terpancar keteguhan seorang perempuan yang memilih untuk tidak larut dalam duka.

Momen mengharukan sering terjadi di meja kayu kecil tempat ia menyajikan dagangan. Ada anak sekolah yang membeli dengan uang receh hasil menabung, ada kakek-kakek yang datang hanya untuk mengobati rindu pada masakan istri yang sudah tiada. Lestari menyambut mereka semua dengan senyuman yang sama hangatnya dengan singkong goreng Kalasan buatannya.

Ketika senja mulai merambat dan wajan terakhir dikosongkan, Lestari duduk sejenak di kursi plastik merahnya. Ia menatap sisa gula jawa di wadah bambu, lalu memejamkan mata. Tak ada kata-kata yang keluar, hanya helaan napas panjang yang penuh syukur. Dari sebuah resep sederhana yang diwariskan, ia menemukan makna baru tentang hidup: bahwa kadang, kebahagiaan memang datang dalam wujud paling sederhana. Seiris singkong keemasan, yang tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menyembuhkan dan menyentuh hati siapa pun yang mencicipinya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User