Di sudut dapur berukuran 2x3 meter yang remang, seorang perempuan paruh baya mulai menyalakan tungku sebelum azan subuh berkumandang. Tangannya yang mulai keriput cekatan mencuci beras ketan, lalu meniriskannya di atas tampah bambu. Hari masih gelap ketika wangi pandan mulai merebak dari dapur mungil itu. Dialah Bu Tari, penjual ketan susu keliling yang telah mengabdikan separuh hidupnya pada semangkuk kelezatan sederhana. Baginya, ketan susu bukan sekadar penganan—melainkan jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara cinta yang hilang dan harapan yang tak pernah padam.
Setiap butir beras ketan yang dia rendam semalaman seakan menyimpan cerita. Cerita tentang perjuangan, tentang tangan yang dulu mengajarinya mengukus ketan hingga pulen sempurna. "Mas Harso selalu bilang, kunci ketan enak itu sabar. Jangan buru-buru. Biarkan uap bekerja," kenang Bu Tari, matanya menerawang. Almarhum suaminya, seorang mantan kernet bus antarkota, mewariskan resep ini delapan tahun lalu sebelum tutup usia. Kini, dari gerobak kayu sederhana yang didorongnya setiap pagi, Bu Tari menghidupi dua anaknya sekaligus menjaga janji untuk terus menghidupkan warisan rasa itu.
Dari Dapur Mungil ke Gerobak Kayu
Perjalanan Bu Tari bersama ketan susu dimulai dari kepedihan yang mendalam. Saat Mas Harso pergi, tabungan keluarga nyaris habis untuk biaya pengobatan. Ia terpaksa menjual perhiasan, lalu bingung bagaimana membiayai sekolah anak-anak. Suatu malam, tatkala membereskan lemari suaminya, ia menemukan buku catatan lusuh berisi resep-resep jadul—salah satunya ketan susu. Air matanya jatuh membasahi halaman itu. "Saya merasa seperti dipeluk. Seperti Mas Harso bilang, 'Ayo, kamu pasti bisa'," tuturnya dengan suara bergetar.
Dari situlah awal mula gerobak kayu berwarna biru muda mulai menyusuri gang-gang di kawasan Ciputat. Awalnya, Bu Tari hanya membuat sepuluh porsi sehari karena modal terbatas. Tapi ketekunannya membuahkan hasil. Ketan susunya dikenal gurih, disiram santan kental yang dimasak bersama garam dan daun jeruk, lalu ditaburi kelapa parut muda dan susu kental manis yang melumer di lidah. Teksturnya pulen, tidak lengket berlebihan, dan aromanya selalu memancing langkah orang untuk berhenti.
Rahasia Gurih yang Tak Tergantikan
Di balik layar, ada proses panjang yang jarang diketahui pembeli. Bu Tari masih memilih beras ketan lokal dari petani di Subang, beras yang konon ditanam tanpa banyak pupuk kimia. Ia percaya, bahan alami menghasilkan rasa yang jujur. Santannya pun diperah sendiri dari kelapa tua yang dibeli di pasar subuh. "Saya enggak mau pakai santan instan. Rasanya beda. Gurih alami itu lebih menyentuh," katanya sambil mengaduk santan di atas api kecil, gerakan tangannya begitu terukur seperti seorang ahli dapur.
Momen paling mengharukan justru terjadi saat ia menerima pesan dari seorang mahasiswi beberapa tahun lalu. Mahasiswi itu bercerita bahwa semangkuk ketan susu Bu Tari adalah satu-satunya yang bisa ia makan saat sedang jatuh bangkrut. Kini, setelah sukses menjadi pengusaha, ia kembali mencari gerobak biru itu hanya untuk mengucapkan terima kasih. "Di situ saya sadar, makanan sederhana bisa jadi penyelamat. Bukan cuma perut yang diisi, tapi hati," ucap Bu Tari sambil menyeka sudut matanya yang berkaca-kaca.
Setiap Suapan Adalah Perjuangan dan Mimpi
Setiap suapan ketan susu yang dibungkus daun pisang menyimpan lapisan cerita: ada mimpi anak pertamanya yang ingin menjadi guru, ada anak bungsunya yang bercita-cita kuliah jurusan pertanian, dan ada almarhum suami yang selalu hidup dalam setiap aroma pandan. Bu Tari tak pernah mengeluh meski kaki mulai pegal dan lutut sesekali nyeri digerogoti asam urat. "Kalau sakit, saya ingat Mas Harso. Dia lebih sakit, tapi tetap semangat. Masa saya menyerah?" tuturnya sambil tersenyum tipis.
Pelanggan setianya bukan hanya pembeli biasa. Mereka adalah saksi kebangkitan seorang perempuan dari titik nadir. Pak Ali, seorang satpam yang tiap hari membeli ketan susu untuk sarapan istrinya, mengaku bahwa rasa ketan Bu Tari selalu sama dalam delapan tahun terakhir. "Ini bukan soal enak saja. Ada cinta di situ," katanya. Sementara itu, Dina, seorang ibu rumah tangga, menyebut ketan susu Bu Tari sebagai "pelipur lara" saat ia kehilangan pekerjaan suaminya di masa pandemi. "Rasanya menghangatkan, mengingatkan bahwa hidup harus terus berjalan."
Kini, di usianya yang ke-53, Bu Tari sudah bisa sedikit bernapas lega. Hasil dari gerobak kecilnya berhasil membiayai anak sulungnya hingga lulus sarjana, dan anak keduanya kini duduk di bangku SMA. Namun ia belum berniat pensiun. Baginya, setiap pagi adalah undangan untuk berbagi rasa dan harapan dalam wadah sederhana. "Selama tangan ini masih bisa mengukus, saya akan terus berjualan. Barangkali ada orang lain yang butuh penghiburan dari semangkuk ketan susu," katanya lirih, sembari kembali menyalakan tungku untuk hari esok yang lebih baik.
Comments (0)