Di sudut sebuah stan sederhana di tengah hiruk-pikuk acara Kawan Nusantara, Lola menarik napas dalam. Jemarinya gemetar saat merapikan sehelai kalung berbahan dasar kayu bekas yang ia poles hingga mengilap. Di sekelilingnya, aneka aksesori artwear tertata di atas kain tenun—gelang, anting, hingga hiasan kepala. Semua lahir dari tangannya sendiri, dan semuanya bercerita tentang satu hal: perjalanan panjang menuju versi terbaik dari diri.
Mimpi yang Tumbuh di Sela Keterbatasan
Koleksi bertajuk EVOLUSI itu adalah curhat visual Lola, perancang di balik label TULOLA. Berasal dari sebuah desa kecil di lereng Merapi, Yogyakarta, Lola mengisahkan masa remajanya yang jauh dari kata mudah. Ayahnya seorang petani yang berjuang menyekolahkan tiga anak, sementara ibunya menganyam bambu untuk dijual ke pasar. "Saya ingat betul, saya sering melihat Ibu menangis diam-diam saat bambu tidak laku," kenang Lola, suaranya bergetar. Tapi justru dari anyaman itulah benih kreativitasnya tersemai. Lola kecil mulai merangkai sisa-sisa potongan bambu menjadi gelang dan kalung sederhana, menjualnya kepada teman-teman sekolah untuk tambahan uang jajan.
Bertahun-tahun kemudian, ketika merantau ke Yogyakarta untuk kuliah seni rupa, Lola menyadari bahwa aksesori bukan sekadar benda pakai. Ia melihatnya sebagai media bercerita. "Setiap orang membawa luka dan kemenangannya sendiri. Lewat artwear, saya ingin mereka merayakan evolusi diri mereka sendiri," ujarnya. Dari situlah nama TULOLA muncul—gabungan dari nama kecilnya, Tuti Lola, yang ia ubah menjadi sebuah manifesto: tumbuh, luka, lapang.
EVOLUSI: Dari Patah Hati Jadi Karya Hati
Koleksi EVOLUSI lahir dari fase paling gelap dalam hidup Lola. Tahun lalu, ia kehilangan sang ibu karena sakit, persis di saat ia sedang menyiapkan pameran pertamanya. Duka itu nyaris membunuh semangatnya. "Saya tidak bisa berkarya selama tiga bulan. Tangkai-tangkai kayu yang biasa saya ukir malah menusuk hati," katanya, terisak pelan. Hingga suatu malam, ia menemukan sebuah bongkahan kayu jati tua peninggalan ibunya. Kayu itu retak di sana-sini, tetapi justru retakannya membentuk pola yang indah. Lola memutuskan untuk tidak menutup retakan itu, melainkan menjadikannya aksen utama pada liontin dan hiasan kepala. "Retak itu tidak harus disembunyikan. Itu bukti bahwa kita telah bertahan," begitu prinsip yang kemudian ia tanamkan di seluruh koleksi.
Setiap aksesori punya nama unik yang merujuk pada proses batin: Patah Tumbuh, Luka Lapang, Tiba-Tiba Utuh. Materialnya beragam, dari kayu limbah, sisa logam industri rumahan, hingga benang-benang tenun yang sudah putus. Semua ia olah dengan teknik sederhana namun penuh makna. Warna-warna dominannya earthy: cokelat tanah, hijau lumut, dan sentuhan emas redup yang seolah berkata bahwa setelah gelap selalu ada cahaya. Tak heran, saat dipamerkan di Kawan Nusantara pada 23 dan 24 Juli 2026 di Jakarta, pengunjung langsung terpikat. Banyak yang tidak sekadar membeli, tetapi juga menangis.
Kawan Nusantara: Panggung yang Menghubungkan Hati
Acara Kawan Nusantara sendiri memang bukan pameran biasa. Digagas oleh komunitas kreatif independen, acara ini menjadi ruang bagi para pelaku usaha mikro seperti Lola untuk bertemu langsung dengan mereka yang menghargai proses, bukan sekadar produk. Sepanjang dua hari, stan TULOLA tak pernah sepi. Seorang ibu paruh baya berdiri lama di depan cermin kecil yang disediakan, mencoba anting bermotif retakan kayu, lalu berbisik, "Ini mengingatkan saya pada anak perempuan saya yang sedang berjuang melawan kankernya." Lola yang mendengar itu langsung menghambur keluar, memeluk ibu tersebut tanpa banyak kata. "Momen seperti itulah yang membuat semua lelah dan air mata saya di masa lalu terasa lunas," ujar Lola kemudian, matanya masih sembab.
Bagi Lola, pameran ini bukan tentang laku semata, meskipun ia bersyukur 70 persen koleksinya terjual dan ia mendapat belasan tawaran kolaborasi. Lebih dari itu, EVOLUSI menjadi jembatan untuk menyentuh kisah-kisah lain. Setiap pembeli ia beri secarik kertas bertuliskan: Kamu adalah karya seni yang terus berevolusi. Jangan menyerah. Pesan sederhana itu seperti mantra yang mengikat antara pencipta dan pemakai.
Menjelang malam di hari terakhir, Lola duduk bersila di sudut stan, memandangi beberapa aksesori yang tersisa. Ia menarik ponselnya, membuka foto terakhir ibunya, lalu berbisik, "Ini mahakarya kita, Bu." Di kota metropolitan yang sibuk, di tengah hiruk-pikuk panggung Kawan Nusantara, seorang perempuan muda asal desa berhasil membuktikan bahwa evolusi sejati tidak butuh wahana mewah. Cukup dengan hati yang terbuka pada luka, dan tangan yang terus berani mencipta.
Comments (0)