Aug 25, 2026
entertainment

Kisah Diding Boneng, Aktor Sinetron Pertama Indonesia yang Kini Jadi Guru Seni

Sore itu, cahaya matahari menembus jendela sebuah sanggar sederhana di pinggir kota. Di dalamnya, belasan anak duduk bersila di atas lantai, tangan mungil mereka penuh coretan cat air. Di tengah kerum...

Kisah Diding Boneng, Aktor Sinetron Pertama Indonesia yang Kini Jadi Guru Seni

Sore itu, cahaya matahari menembus jendela sebuah sanggar sederhana di pinggir kota. Di dalamnya, belasan anak duduk bersila di atas lantai, tangan mungil mereka penuh coretan cat air. Di tengah kerumunan kecil itu, seorang pria berambut putih berjongkok dengan sabar, membetulkan genggaman kuas seorang bocah perempuan. Senyumnya hangat, matanya berbinar. Pria itu adalah Diding Boneng — wajah yang puluhan tahun lalu menghiasi layar kaca Indonesia, kini memilih menghabiskan hari-harinya bersama anak-anak dan kanvas-kanvas polos.

Dari Layar Kaca Pertama Indonesia

Nama Diding Boneng mengisahkan babak penting dalam sejarah pertelevisian Tanah Air. Ia termasuk generasi aktor yang merintis ketika sinetron pertama Indonesia hadir di layar kaca — masa ketika dunia hiburan masih jauh dari gemerlap, ketika honor tak seberapa dan peralatan seadanya. Ia berjuang bukan karena mengejar ketenaran, melainkan karena cinta pada seni peran.

Di balik layar, Diding dikenal sebagai sosok yang tak pernah berhenti belajar. Baginya, akting bukan sekadar pekerjaan, melainkan jalan untuk memahami manusia. Dari satu peran ke peran lain, ia menyerap kisah-kisah kehidupan yang kelak menjadi bekalnya sebagai seniman sekaligus pengajar.

"Bermain peran mengajarkan saya satu hal: setiap orang punya cerita. Dan setiap cerita layak didengarkan," tuturnya dengan nada pelan, seolah mengingat kembali masa-masa awal kariernya.

Waktu terus berlalu. Wajahnya mungkin tak lagi sesering dulu muncul di televisi, tetapi bagi para penonton setia, sosoknya tetap membekas. Namun Diding sendiri tak pernah merindukan sorot lampu. Ia menemukan panggung baru yang lebih bermakna: ruang-ruang kecil tempat anak-anak belajar mengenal warna, garis, dan keberanian untuk bermimpi.

Ketika Cinta pada Seni Bersemi di Ruang Kelas

Di tengah kesibukannya sebagai aktor, Diding menyimpan satu kecintaan lain yang tak pernah padam: seni rupa. Kuas, kanvas, dan warna menjadi sahabatnya di sela-sela syuting. Dari kecintaan itulah lahir keinginan sederhana namun mulia — membagikan ilmunya kepada generasi muda.

Ia kemudian mulai mengajar kesenian untuk anak-anak. Bukan di gedung mewah, melainkan di ruang-ruang sederhana yang disulap menjadi sanggar. Di sanalah momen mengharukan kerap terjadi: anak-anak yang awalnya pemalu perlahan bangkit dan berani berekspresi, tangan-tangan kecil yang gemetar memegang kuas akhirnya mampu melahirkan karya.

"Anak-anak itu seperti kanvas kosong. Mereka jujur. Kalau kita memberi mereka warna, mereka akan mengembalikannya menjadi sesuatu yang indah," ucapnya. Matanya tampak berkaca-kaca, seolah air mata haru selalu siap jatuh setiap kali melihat murid-muridnya berkarya.

Menanam Mimpi Lewat Goresan Warna

Bagi Diding, mengajar seni bukan sekadar melatih keterampilan menggambar atau melukis. Lebih dari itu, ia sedang menanam mimpi. Ia percaya seni mampu menjadi jendela bagi anak-anak untuk melihat dunia dengan cara berbeda — lebih lembut, lebih penuh harapan.

Beberapa muridnya datang dari keluarga kurang mampu. Ada yang harus berjalan kaki cukup jauh hanya untuk bisa ikut belajar. Kisah-kisah seperti itu justru menguatkan tekadnya untuk terus mengajar, tanpa mematok bayaran tinggi, bahkan kerap tak memungut biaya sama sekali.

"Saya tidak mengajar untuk menjadi kaya. Saya mengajar karena saya pernah menjadi anak yang bermimpi. Kalau dulu ada yang membukakan pintu untuk saya, sekarang giliran saya membukakan pintu untuk mereka," katanya dengan suara bergetar.

Warisan yang Tak Ternilai

Kini, usia boleh terus bertambah, tetapi semangat Diding Boneng tak pernah surut. Ia tetap hadir di sanggar, menyapa murid-muridnya satu per satu, memuji karya mereka yang paling sederhana sekalipun. Baginya, setiap goresan anak adalah kemenangan kecil yang layak dirayakan.

Perjalanan hidupnya menjadi inspirasi: bahwa panggung terbesar seorang seniman bukanlah layar kaca, melainkan hati orang-orang yang ia sentuh. Dari aktor sinetron pertama Indonesia menjadi guru seni bagi anak-anak, Diding membuktikan bahwa ketenaran akan pudar, tetapi kebaikan yang dibagikan akan terus hidup — menyentuh generasi demi generasi.

Di sudut sanggar itu, sore mulai berganti senja. Anak-anak pulang dengan karya di tangan dan senyum di wajah. Diding berdiri di ambang pintu, melambaikan tangan. Di situlah ia menemukan panggungnya yang sesungguhnya — sederhana, sunyi, namun penuh cinta.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User