Aug 25, 2026
entertainment

Kisah Ardhito Pramono Menuntut Royalti ke Sony Music Indonesia

Pagi itu, di sebuah ruangan berukuran tiga kali empat meter di kawasan Jakarta Selatan, Ardhito Pramono duduk bersila dengan gitar di pangkuan. Jari-jarinya bergerak pelan di atas senar, menyusun melo...

Kisah Ardhito Pramono Menuntut Royalti ke Sony Music Indonesia

Pagi itu, di sebuah ruangan berukuran tiga kali empat meter di kawasan Jakarta Selatan, Ardhito Pramono duduk bersila dengan gitar di pangkuan. Jari-jarinya bergerak pelan di atas senar, menyusun melodi yang akan ia rekam siang nanti. Dari balik jendela, kota baru saja bangun. Namun benak musisi berusia tiga puluhan itu melayang pada sesuatu yang jauh lebih berat daripada sekadar nada: sebuah keputusan besar yang kini mengubah arah kariernya.

Nama Ardhito Pramono belakangan ramai diperbincangkan setelah ia resmi menggugat Sony Music Indonesia terkait royalti atas karya-karyanya. Keputusan ini tidak lahir dalam semalam. Ia mengisahkan bahwa perjalanannya selama ini penuh suka duka, dari pemuda yang merekam lagu di kamar sempit hingga berdiri di panggung-panggung besar. Gugatan itu, menurutnya, adalah wujud keberanian untuk berbicara atas apa yang selama ini ia perjuangkan secara diam-diam.

Kisah yang Berawal dari Ruang Sederhana

Sebelum namanya dikenal luas lewat lagu-lagu bernuansa jazz lembut seperti “Bitterlove”, “Fine Today”, dan “Sudah”, Ardhito hanyalah seorang pemuda yang bermimpi. Setiap malam, ia merekam lagu dengan peralatan seadanya di kamar yang sempit. Tidak ada studio mewah, tidak ada tim produksi besar. Hanya satu laptop, satu gitar, dan tekad yang tidak pernah padam. Hasil rekamannya ia unggah ke platform digital, berharap ada orang lain yang turut merasakan apa yang ia rasakan.

Perlahan, mimpi itu mulai nyata. Lagu-lagunya diputar di mana-mana, dari kedai kopi kecil hingga festival musik besar. Namun di balik gemerlap itu, ada sisi lain yang jarang terlihat publik. Royalti yang seharusnya menjadi hak musisi tidak selalu berjalan mulus. Ardhito merasa ada banyak hal di balik layar yang tidak ia ketahui dan tidak ia terima secara adil. Dari situlah kegelisahan itu tumbuh, menggerogoti harinya, hingga akhirnya mendorongnya mengambil langkah hukum.

Di Balik Layar: Berjuang untuk Hak yang Sederhana

Bagi banyak orang, kata “royalti” mungkin terdengar kaku dan membosankan. Tetapi bagi Ardhito, angka-angka itu adalah gambaran nyata dari kerja keras bertahun-tahun. Setiap lagu lahir dari malam-malam tanpa tidur, dari air mata yang ia sembunyikan saat merasa ragu pada dirinya sendiri, dan dari momen mengharukan ketika ia akhirnya mendengar lagunya dinyanyikan orang asing di jalan.

Dalam gugatannya, Ardhito meminta kejelasan dan transparansi atas pembayaran royalti yang menurutnya belum sesuai dengan karya yang ia hasilkan. Ia tidak sendiri. Banyak musisi lain di Indonesia yang pernah atau sedang berjuang dengan persoalan serupa, hanya saja tidak semua punya keberanian untuk bersuara. Langkah Ardhito menjadi simbol bahwa musisi pun berhak mendapatkan penghasilan yang layak dari karya dan keringat mereka sendiri.

Yang menyentuh dari sikapnya, ia tidak menjadikan gugatan ini sebagai ajang mencari sensasi. Ia berbicara dengan tenang, tanpa nada marah. Baginya, ini tentang integritas. Tentang mimpi-mimpi kecil yang pernah ia pelihara di kamar sempit itu, yang seharusnya tumbuh menjadi sesuatu yang menafkahi hidupnya, bukan justru menjadi sumber kekecewaan.

Lebih dari Sekadar Angka

Keputusan Ardhito mengingatkan kita pada sebuah pertanyaan sederhana: seberapa adilkah industri memperlakukan para senimannya? Di balik setiap lagu yang kita putar saat berkendara atau bekerja, ada seseorang yang pernah berjuang untuk melahirkan nada demi nada. Ada perjalanan panjang yang tidak pernah terlihat di layar ponsel kita.

Ardhito sendiri menegaskan bahwa perjuangannya ini bukan semata soal uang. Lebih dari itu, ia ingin generasi musisi muda yang datang setelahnya tidak perlu merasakan ketidakpastian yang sama. Ia ingin mereka bisa berkarya dengan tenang, tahu bahwa setiap sen yang mereka hasilkan akan kembali kepada mereka dengan jujur. Itulah bentuk nyata dari menghargai kerja keras, sesuatu yang ia pelajari dari ibunya yang dulu selalu mengajarkannya untuk tidak pernah mengambil hak orang lain, sekecil apa pun itu.

Kini, nasib gugatan itu berada di tangan pengadilan. Namun apa pun hasilnya, langkah Ardhito telah mencatatkan namanya bukan hanya sebagai musisi berbakat, tetapi juga sebagai sosok yang berani membela prinsip. Dari kamar kecil tempat dulu ia merekam lagu, kini keluar sebuah pesan besar: bahwa mimpi, jika dirawat dengan sabar dan diperjuangkan dengan berani, bisa mengubah banyak hal, termasuk cara industri memandang para penciptanya.

Bangkit dari Kegelisahan

Mungkin tidak semua orang sepakat dengan caranya. Tetapi sulit untuk membantah bahwa kisah Ardhito adalah kisah tentang keberanian yang sederhana namun menyentuh: berani berkata tidak pada ketidakadilan, berani menuntut apa yang menjadi haknya, dan berani bermimpi bahwa industri musik Indonesia bisa menjadi rumah yang lebih hangat bagi para senimannya. Seperti melodi-melodinya yang lembut, perjuangannya perlahan namun pasti terus bergema.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User