Di sudut ruang kerjanya yang hanya seluas 3x3 meter, Maya menatap layar laptop dengan mata yang tak lagi fokus. Jemarinya terhenti di atas kibor. Ada empat belas tab terbuka—laporan keuangan, surel klien yang belum terbalas, grup WhatsApp keluarga, dan sebuah catatan tempel kecil bertuliskan "jemput pukul 3". Napasnya tercekat. Ini belum tengah hari, tapi tubuhnya sudah mengisyaratkan menyerah.
Ilusi Produktivitas yang Membelenggu
Maya adalah gambaran dari jutaan perempuan pekerja yang setiap hari dirayu oleh janji manis multitasking. Budaya kerja modern, tanpa sadar, mengajarkan bahwa menangani segalanya sekaligus adalah lambang kehebatan. Namun, di balik layar ponsel cerdas yang seolah membantu, tersembunyi beban yang menggerogoti perlahan.
Semua bermula dari keyakinan sederhana: "Aku pasti bisa." Setelah diterima bekerja di sebuah perusahaan rintisan yang sedang berkembang, Maya yakin hidupnya akan teratur. Ia mencintai pekerjaannya sebagai manajer proyek. Ia juga mencintai perannya sebagai ibu dari seorang balita. Tapi, dua cinta itu sering kali menariknya ke dua arah yang berlawanan.
“Saya pikir, selama saya bisa selesaikan laporan sambil video call dengan anak, itu artinya saya berhasil,” kenang Maya, suaranya bergetar. “Tapi ternyata, saya hanya berhasil membohongi diri sendiri.”
Para peneliti perilaku menyebutnya sebagai ilusi produktivitas. Otak manusia sejatinya tidak dirancang untuk menjalankan dua tugas berat secara bersamaan. Yang terjadi adalah peralihan perhatian yang cepat—dan setiap kali kita berpindah, ada “biaya kognitif” yang harus dibayar. Energi terkuras, kualitas hasil menurun, dan yang paling mahal: kehadiran kita di setiap momen menjadi setengah-setengah.
Momen Ketika Tubuh Berbicara
Puncaknya terjadi pada suatu Selasa pagi. Maya sedang mempresentasikan strategi proyek di depan timnya melalui Zoom, sementara di dapur, susu untuk anaknya hampir tumpah. Di sela-sela kalimat profesionalnya, ia harus mematikan kompor dengan satu tangan. Semua berjalan baik—sampai anaknya menangis keras, dan suaranya tertangkap mikrofon.
Rapat itu berakhir. Maya meminta maaf. Rekan kerjanya mengerti, namun benih kelelahan di hatinya telah tumbuh menjadi hutan belantara. Malamnya, ia duduk sendiri di tangga rumah. Air matanya jatuh tanpa suara. Ia merasa gagal menjadi ibu yang hadir dan gagal menjadi profesional yang sempurna.
“Saat itu rasanya seperti ada yang putus. Bukan hanya lelah fisik, tapi seperti jiwa saya retak halus,” kisahnya. “Saya tidak tahu harus cerita ke siapa, karena semua orang sepertinya juga sibuk berjuang sendiri.”
Namun, di tengah kehancuran kecil itu, suaminya datang duduk di sebelahnya. Tanpa berkata apa-apa, ia hanya menggenggam tangan Maya. Sebuah momen sederhana yang menyentuh—dan justru dari situ titik balik dimulai.
Bangkit dari Mitos "Serba Bisa"
Maya memutuskan untuk mencari cara bekerja yang lebih manusiawi. Ia tidak bisa terus-terusan hidup dalam narasi “superwoman” yang didiktekan oleh linimasa media sosial. Bersama suaminya, mereka merancang ulang pembagian tugas rumah tangga. Ia juga berbicara jujur dengan atasannya tentang kebutuhan bekerja yang lebih fleksibel, bukan sekadar lebih cepat.
Langkah sederhana pertama yang ia ambil adalah mematikan notifikasi ponsel saat sedang bermain dengan anaknya. Hanya 30 menit. Tapi di menit-menit itu, ia merasa menjadi ibu seutuhnya. Ia juga mulai memblokir waktu “fokus” di kalender kerjanya—satu atau dua jam tanpa gangguan untuk menyelesaikan tugas yang membutuhkan pemikiran mendalam.
“Ajaibnya, ketika saya berhenti mencoba melakukan semuanya sekaligus, saya justru menyelesaikan lebih banyak hal. Dan yang lebih penting, saya merasa lebih damai,” ucapnya dengan senyum tipis.
Perjalanan Maya adalah cermin bagi kita yang hidup dalam pusaran budaya serba cepat. Multitasking bukanlah keahlian ajaib, melainkan seringkali jebakan yang membuat kita kehilangan kedalaman. Setiap kali kita mencoba memecah perhatian, kita sebenarnya memecah diri sendiri.
Di akhir perbincangan, Maya memberikan pesan yang barangkali perlu kita dengar lebih sering: “Tidak apa-apa untuk fokus pada satu hal saja. Tidak apa-apa untuk bilang ‘saya tidak bisa sekarang.’ Justru di situlah kekuatan kita sesungguhnya—tahu kapan harus berhenti sejenak, agar bisa melangkah lebih berarti.”
Comments (0)