Oct 11, 2026
entertainment

Ketika Pandan Menginspirasi Sepatu Lari di Jakarta

Di sebuah sudut ruangan yang dipenuhi aroma kopi dan lampu kuning hangat, seorang desainer muda memandangi sehelai daun pandan yang ia letakkan di atas meja kayu. Daun itu sederhana, hijau tua dengan ...

Ketika Pandan Menginspirasi Sepatu Lari di Jakarta

Di sebuah sudut ruangan yang dipenuhi aroma kopi dan lampu kuning hangat, seorang desainer muda memandangi sehelai daun pandan yang ia letakkan di atas meja kayu. Daun itu sederhana, hijau tua dengan serat yang rapi, tumbuh subur di halaman rumah neneknya di Yogyakarta. Namun malam itu, daun pandan bukan sekadar bumbu dapur atau pengharum kue. Ia menjadi titik berangkat sebuah perjalanan panjang: lahirnya sepasang sepatu lari yang membawa nama Indonesia ke panggung dunia.

Kolaborasi antara ASICS dan atmos Indonesia akhirnya memperkenalkan GEL-KAYANO™ 12.1 dengan nama "ARCHIPELAGO". Peluncuran yang berlangsung di Jakarta pada Kamis, 8 Oktober 2026 itu bukan sekadar acara rilis produk. Ia menjadi momen mengharukan bagi mereka yang terlibat, sebuah pengakuan bahwa kekayaan alam Nusantara mampu berbicara dalam bahasa desain global.

Daun Pandan yang Menembus Batas

"Kami ingin sesuatu yang benar-benar tumbuh dari tanah kami sendiri," ujar salah satu anggota tim kreatif atmos Indonesia, mengisahkan awal mula ide itu muncul. Ia bercerita bagaimana proses pencarian identitas visual berlangsung berbulan-bulan. Ada saat-saat mereka merasa ragu, apakah warna hijau pandan terlalu sederhana untuk sebuah siluet sepatu legendaris. Namun justru dari kesederhanaan itulah kekuatan cerita itu menemukan bentuknya.

GEL-KAYANO™ 12.1 "ARCHIPELAGO" memadukan nuansa vintage-tech dengan sentuhan budaya lokal. Palet warna hijau pandan berpadu dengan aksen krem dan cokelat tanah, seolah mengajak pemakainya menelusuri lorong waktu, dari era keemasan sepatu lari tahun 2000-an hingga denyut kota-kota modern Indonesia. Di balik layar, tim mengaku menghabiskan waktu berjam-jam mencocokkan gradasi warna agar tetap setia pada daun pandan asli — bukan sekadar tiruan digital.

"Setiap serat, setiap jahitan, kami ingin orang merasakan kehangatan rumah. Bukan hanya sepatu, tapi kenangan," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Kisah ini juga menyentuh sisi personal para perajin dan pengrajin lokal yang terlibat dalam riset material. Ada seorang ibu paruh baya di sebuah kampung di Bantul yang biasa menenun pandan menjadi tikar. Ketika tim datang dan bertanya tentang tekstur daun itu, ia awalnya bingung. "Untuk apa daun ini dibawa ke pabrik sepatu?" tanyanya polos. Namun setelah mendengar penjelasan, ia tersenyum bangga. Baginya, pandan yang selama ini hanya menjadi alas duduk kini ikut berjalan ke mancanegara.

Perjuangan di Balik Siluet Legendaris

Mengangkat kembali siluet GEL-KAYANO™ 12.1 bukan perkara mudah. Sepatu ini dikenal memiliki struktur stability yang khas, dirancang untuk pelari dengan kebutuhan dukungan ekstra. Menyatukan warisan teknologi itu dengan narasi budaya lokal membutuhkan keberanian. Tim desain harus berulang kali meninjau ulang detail: apakah aksen pandan tetap terlihat elegan di atas bahan teknis? Apakah logo ASICS dan atmos tetap menonjol tanpa menenggelamkan cerita di baliknya?

"Ada malam-malam kami harus membongkar ulang sampel karena rasanya 'kurang Indonesia'," kenang sang desainer. "Kami tidak mau sekadar menempel motif. Kami ingin orang memakai sepatu ini dan merasa sedang membawa sepotong Nusantara." Perjalanan itu menemui titik terang ketika mereka memutuskan untuk mempertahankan tekstur jahitan yang menyerupai anyaman pandan, sebuah detail kecil yang justru menjadi jiwa dari keseluruhan desain.

Bagi banyak kolektor dan pencinta sneaker Tanah Air, peluncuran ini menjadi momen membanggakan. Bukan karena harganya atau eksklusivitasnya, melainkan karena ada cerita manusia di dalamnya. Seorang pengunjung acara peluncuran mengaku tersentuh saat melihat sepatu itu pertama kali. "Saya ingat nenek saya yang sering membuat kolak pandan. Sekarang aroma itu seperti hidup lagi di sini," ujarnya sambil tersenyum haru.

Inspirasi yang Terus Berjalan

Di balik gemerlap panggung peluncuran, kisah GEL-KAYANO™ 12.1 "ARCHIPELAGO" mengingatkan kita bahwa inspirasi terbesar sering kali datang dari hal-hal sederhana di sekitar kita. Daun pandan yang tumbuh liar di pekarangan, tikar yang menua dimakan waktu, atau senyum seorang ibu perajin — semuanya bisa menjadi bagian dari sesuatu yang mendunia. Kolaborasi ASICS dan atmos Indonesia ini bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang untuk terus membawa cerita lokal ke panggung global.

Ketika sepasang sepatu itu akhirnya melangkah di aspal Jakarta, di lintasan lari kota-kota besar, atau di kaki para pelari yang mengejar mimpi, ia membawa lebih dari sekadar fungsi. Ia membawa air mata, kerja keras, dan harapan. Sebab pada akhirnya, karya yang paling menyentuh adalah karya yang lahir dari cinta pada akar sendiri — dan itu yang membuat "ARCHIPELAGO" bukan sekadar nama, melainkan doa yang berjalan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User