Oct 11, 2026
entertainment

Ketika Mimpi Liburan Ke Luar Negeri Berjuang Melawan Harga Tiket

Di sebuah sudut ruang pameran yang dipenuhi poster destinasi wisata dari berbagai penjuru dunia, Rina—bukan nama sebenarnya—berdiri termangu di depan layar komputer. Matanya menatap deretan angka ...

Ketika Mimpi Liburan Ke Luar Negeri Berjuang Melawan Harga Tiket

Di sebuah sudut ruang pameran yang dipenuhi poster destinasi wisata dari berbagai penjuru dunia, Rina—bukan nama sebenarnya—berdiri termangu di depan layar komputer. Matanya menatap deretan angka yang terus melonjak setiap kali ia memilih tanggal keberangkatan. Perempuan berusia 34 tahun itu menghela napas panjang, lalu menutup kembali layar pemesanan tiket pesawat yang sedari tadi membuatnya ragu.

"Sudah tiga bulan saya menabung, tapi setiap kali ingin memesan, harganya naik terus. Rasanya mimpi itu makin menjauh," ujarnya lirih, Sabtu (8/10/2026), sambil menggenggam gawai di tangannya erat-erat.

Kisah Rina bukanlah cerita tunggal. Ia hanyalah satu dari sekian banyak orang yang datang ke sebuah pameran perjalanan di Jakarta, dengan harapan kecil bahwa angka-angka di layar itu berubah menjadi lebih bersahabat.

Harga Tiket, Momok yang Tak Pernah Hilang

Menjelang periode liburan akhir tahun, harga tiket pesawat kerap menjadi momok tersendiri bagi para pelancong. Bagi sebagian orang, terbang ke singapore atau Bangkok mungkin bukan perkara besar. Namun bagi keluarga muda seperti Rina, perbedaan beberapa ratus ribu rupiah bisa menjadi penentu bahwa rencana berlibur harus ditunda lagi.

Salah satu pengunjung lain, Gilang, mengaku telah membandingkan harga di berbagai platform selama dua minggu terakhir. Ia dan istrinya ingin merayakan ulang tahun pernikahan mereka dengan menjejakkan kaki di Jepang. Namun harapan itu harus berhadapan dengan kenyataan yang pahit.

"Saya sudah menghitung semua, dari tiket sampai penginapan. Tapi pas lihat harga tiketnya, rasanya air mata istri saya langsung jatuh. Dia sudah bermimpi soal musim gugur di sana," tuturnya dengan suara bergetar.

Di Balik Layar Sebuah Pameran Perjalanan

Di balik keramaian pengunjung yang hilir mudik, para pelaku industri perjalanan juga tak tinggal diam. Mereka memahami betul bahwa harga tiket adalah pintu pertama yang harus dibuka sebelum orang berani berfantasi lebih jauh soal destinasi.

Seorang petugas di salah satu stan mengisahkan bahwa dirinya kerap bertemu orang-orang yang datang hanya untuk mencari tahu, bukan memesan. "Banyak yang datang sekedar ingin tahu, lalu pulang dengan mata berbinar. Kadang mereka bilang, 'Saya akan kembali lagi tahun depan, semoga rezekinya cukup,'" ujarnya.

Momen-momen sederhana semacam itu, kata dia, justru menjadi bagian yang paling mengharukan dari pekerjaannya. Di balik layar komputer yang menampilkan angka-angka, tersimpan kisah dan harapan orang banyak.

Pameran semacam ini nyatanya bukan sekadar tempat jual beli tiket. Ia menjadi ruang di mana orang berani bermimpi, meski sadar bahwa harga tiket pesawat sering kali menjadi dinding tebal antara keinginan dan kemampuan.

Perjuangan Kecil yang Tak Selalu Terlihat

Bagi Rina, perjalanan mencari tiket bukan hanya soal angka. Ia bekerja lembur selama berbulan-bulan, menyisihkan sebagian penghasilan demi satu tujuan: mengajak ibunya ke Mekah. Namun tiket untuk dua orang terasa begitu jauh dari jangkauannya.

"Saya ingin sekali ibuku merasakan hal itu. Dia sudah tua, dan saya takut tidak ada kesempatan lagi. Setiap kali melihat harga tiket, rasanya hati saya remuk," ucapnya, air mata mulai menetes di pipinya.

Cerita Rina menyentuh banyak orang di sekitarnya. Seorang perempuan paruh baya yang berdiri tak jauh dari sana lalu menggenggam tangannya, berbisik bahwa dirinya juga tengah berjuang untuk hal serupa.

Perjalanan mencari tiket pesawat memang kerap menjadi perjuangan yang tak terlihat. Ada kerja keras, ada mimpi yang dijaga diam-diam, dan ada air mata yang jatuh tanpa suara di depan layar. Namun di balik semua itu, ada satu hal yang tetap bertahan: harapan bahwa suatu hari, mereka akan benar-benar terbang.

Pameran itu akan berlangsung hingga akhir pekan. Ribuan orang mungkin akan datang dengan kisah mereka masing-masing. Beberapa mungkin pulang dengan tiket di tangan, sementara yang lain hanya membawa tekad untuk kembali saat rezeki telah berpihak.

Dan bagi mereka yang belum berhasil, momen-momen kecil di ruang pameran itu—sebuah genggaman tangan, bisikan penyemangat, atau tatapan penuh pengertian—mungkin sudah cukup untuk membuat mereka bertahan, setidaknya sampai perjalanan berikutnya benar-benar dimulai.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User