Di sebuah ruangan kecil di lantai tiga sebuah gedung di Jakarta, seorang perempuan muda menempelkan telinganya ke headphone yang terhubung dengan laptop. Matanya tak lepas dari layar, menonton adegan demi adegan film pendek dari Armenia. Ia bukan sedang mengerjakan tugas kuliah, melainkan tengah menyeleksi ratusan karya yang akan menjadi bagian dari perjalanan besar bernama Jakarta World Cinema 2026.
"Setiap film yang masuk ke meja kami itu bukan sekadar file. Ada cerita, ada air mata, ada kerja bertahun-tahun di dalamnya," ujarnya lirih, seperti dikutip dari ruang seleksi yang penuh tumpukan catatan.
Festival ini bukan perayaan biasa. Tahun depan, Jakarta World Cinema akan menayangkan 207 film dari 69 negara. Jumlah itu bukan angka yang datang tiba-tiba. Di baliknya ada tim kurator yang berjuang memilah, menonton ulang, dan mendiskusikan setiap karya hingga larut malam.
Perjalanan Panjang di Balik Layar
Mengisahkan proses seleksi, salah satu anggota tim mengaku sempat kehilangan arah. "Ada hari di mana saya menonton tujuh film berturut-turut sampai pusing. Tapi begitu menemukan satu film yang menyentuh, semuanya seperti dibayar lunas," katanya sembari tersenyum.
Kisah itu menjadi gambaran bagaimana festival ini dibangun bukan hanya dari glamor karpet merah, tapi dari kerja sunyi yang jarang terlihat. Ratusan film yang lolos seleksi nantinya tidak hanya diputar secara langsung di bioskop-bioskop Jakarta, tetapi juga bisa dinikmati secara daring. Pilihan itu diambil agar penonton dari kota lain, atau mereka yang belum sempat datang ke venue, tetap bisa merasakan denyut festival.
"Film yang baik itu seperti jendela. Kita bisa melihat dunia yang tidak pernah kita bayangkan, tanpa harus meninggalkan kursi kita."
Puluhan negara mengirimkan karya terbaiknya. Mulai dari kisah keluarga di pedesaan Amerika Latin, dokumenter tentang nelayan di pesisir Afrika, hingga drama realis dari Asia Timur. Semua bertemu dalam satu panggung yang sama: Jakarta.
Menghubungkan yang Jauh, Merawat yang Dekat
Bagi beberapa sineas lokal, kehadiran festival ini menjadi oase. "Saya tidak pernah membayangkan film saya bisa diputar berdampingan dengan karya dari Eropa. Rasanya seperti mimpi yang bangun perlahan," kata seorang sutradara muda asal Yogyakarta, yang karya pendeknya terpilih tahun ini.
Namun festival bukan hanya soal penayangan. Ada ruang diskusi, lokakarya, dan pertemuan antarsineas yang membuat proses kreatif terus hidup. Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter, beberapa peserta terlihat berbincang hangat soal teknik penyutradaraan, sambil sesekali mencatat di buku kecil mereka.
"Ini bukan sekadar menonton. Ini tentang pulang dengan kepala penuh ide dan hati yang lebih lapang," ujar salah satu peserta lokakarya.
Sebuah Undangan untuk Merenung
Dengan 207 film dari 69 negara, Jakarta World Cinema 2026 tak hanya menjadi ajang tontonan, tetapi juga panggung empati. Setiap film adalah kisah manusia yang berjuang, bangkit, dan merayakan hal-hal sederhana. Ada tawa, ada haru, ada pertanyaan yang menggantung setelah layar gelap.
Bagi tim penyelenggara, perjalanan ini masih panjang. Masih ada jadwal yang harus disusun, subtitle yang harus diperiksa, hingga kursi yang harus ditata. Tapi semangat itu tetap menyala, seperti lampu proyektor yang tak pernah padam.
"Kami ingin orang pulang bukan hanya dengan tiket bekas, tapi dengan sesuatu yang mengubah cara mereka melihat dunia," tutup seorang kurator, suaranya mantap meski matanya tampak lelah.
Film memang hanya bayangan di dinding. Tapi di balik bayangan itu, ada manusia-manusia yang berjuang, mimpi-mimpi yang dirawat, dan kisah yang menunggu untuk disentuh. Jakarta World Cinema 2026 adalah undangan terbuka untuk semua yang percaya bahwa cerita bisa menyatukan yang jauh, dan merawat yang dekat.
Comments (0)